"Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.", "Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.","Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72."
Custom Search

Rabu, 22 Mei 2013

Ketua Komisi D, Ayub Junaidi, Tebus Ijazah Siswa Yang Ditahan SMK Berdikari

Penahanan Ijazah, Menghambat Masa Depan Dan Cita-cita Siswa

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Drama penahan Ijazah milik dua siswa SMK Berdikari sejak setahun lalu dapat diakhiri. Usai tanggungannya dilunasi Ketua Komisi D, Kepala Sekolah mau mengeluarkan ijazah tersebut.

Ketua Komisi D Ayub Junaidi, yang datang bersama Irwan Prasetyo, siswa, tokoh setempat serta orang tua korban mendatangi sekolah dan membayar semua tanggungan saat bertemu Ketua Yayasan Berdikari Baharudin Rosid dan Kepala Sekolah SMK Berdikari Suhadah.

Uang yang diserahkan sebesar Rp, 3.920.000 dengan rincian untuk uang gedung, Pratikum serta Uang Ujian Kurniawan dan Irvan Prasetyo. Usai dilunasi, Ijazah Irvan Prasetyo langsung dikeluarkan saat itu juga, sementara ijasah kurniawan akan dikeluarkan setelah yang bersangkutan datang ke sekolah, sebab masih belum membubuhkan cap tiga jari dalam ijasah tersebut.

Pelunasan ini dilakukan, karena Ayub tak ingin membahas persoalan polmik terlebih dulu “Jika hanya membahas perbedaan persepsi “mampu atau tidak mampu”, tidak akan menyelesaikan persoalan. Ujung-ujungnya siswalah yang jadi korban. Tuturnya saat  diwawancarai beberapa media usai melunasi, Rabo (22/5)

Penahanan Ijazah, Menghambat Masa Depan Dan Cita-cita Siswa
Sikap sekolah yang menahan ijazah ini sangat disayangkan “Sikap sekolah yang menahan Ijazah Siswa Itu dapat dikatagorikan sebagai pelanggaran dan bisa di laporkan Ke Kepolisian. Pasalnya penahanan ijazah ini, menhambat masa depan serta membunuh sebuah cita-cita siswa.” Tegasnya anggota DPRD Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Untuk itu Ayub meminta kepada Dinas Pendidikan agar melakukan pengawasan dan mengambil tindakan tegas, bila perlu di cabut Perijinanya, Karena hal tersebut sudah jelas di Undang-Undang Dasar, Bahwa Pendidikan menjadikan prioritas dan pemerintah sudah menggarkan 20% dari APBN, dan dengan cara susidi silang “Jelasnya

Masih Kata Cak Ayub panggilan akrap ketua Ansor Jember, mengingatkan agar Jangan sampai kejadian seperti yang dilakukan SMK Berdikari, dilakukan oleh sekolah lain. Bupati harusnya turun tangan, agar kasus serupa tidak terulang kembali. Karena siswa dan siswi merupakan kader bangsa “Pungkasnya.

Hasil Survey Sekolah, Kedua Siswa Dianggap Mampu
Sementara menurut Ketua yayasan, Baharudin Rosid, Bahwa yayasan ini berkembang atas bantuan guru dan orang tua wali murid, apalagi lembaganya bergerak dibidang pendidikan Swasta, yang tak pernah dapat bantuan dari luar.

Tapi kami masih mau berfikir membantu bagi siswa yang benar-benar tidak mampu, namun harus melalui proses yang ketat. Walau pun ada surat keterangan tidak mampu dari desa masih harus di survey, semuanya itu dilakukan semata-mata untuk kelanjutan Pendidikan.   

Hal ini dikuatkan Kepala Sekolah Suhadah, menurutnya pihak sekolah telah melakukan Survey, bahwa apa yang kami temukan sebagai berikut, memang Ibu dari Kurniawan meningal dunia, namun bapaknya sehat, dan berumah tangga lagi namun tak diketahui keberadaanya.

Masih kata Suhadah, sedangkan Keluarga Irvan Prasetyo, Kondisi rumah bagus, serta memiliki dua sepeda motor, sedangkan kedua orang tuanya sehat-sehat saja, dan bapaknya sebagai sopir Bus antar Provinsi Gunung Harta.”Jelasnya

Atas dasar survey tersebut, kedua siswa tersebut dianggap mampu dan harus melunasi tanggungan dengan perincian, untuk Kurniawan tunggakan di Klas XI Rp. 270.000, Klas, XII Rp 875.000, Total Rp 1.145.000. Dapat batuan dari dewan guru Rp100.000,-

Sedangakan Irvan Prasetyo, Tunggakan di Klas, X Rp 575.000, Klas, XI Rp 950.000, Klas XII Rp, 1.650.000, Total sebesar Rp, 3.175.000, Dapat bantuan dari dewan guru Rp 300.000,-. Jadi yang harus di bayar dua siswa berjumlah Rp,3. 920.000.

Hasil Survey Sekolah, Dibantah Tokoh Masyarakat Setempat
Hasil urvey tersebut dibantah tokoh masyarakat setempat, Agus Hadi Santoso.  Bahkan Agus menilai bahwa hasil survai sekolah itu bertolak belakang ”rumah yang di jadikan pedoman itu rumah neneknya, dan masih kumpul keluarga besar, sedangakan sepeda motor, milik dari keluarga lain, perihal orang tua yang benar adalah sopir Lyn pedesaan, namun sekarang sakit-sakitan dan tidak bisa kerja.”Ungkapnya.

Hal tersebut dibenarkan Irvan Prasetyo Sasongko, kondisi keluarga masih serba kekurangan, dan Kondisi Orang tua Sudah sakit-sakitan dan masih membiayai dua adik yang satu sekolah di SMP”Jelasnya. Untuk itu saya ingin membantu keluarga, Walaupun tak punya ijazah, akhirnya Jualan Es Rumput Laut, Hampir setahun ini,

Dengan dikeluarkannya ijazah ini Irvan mengucapkan termakasih kepada ketua Komisi D dan berharap bisa bekerja di tempat yang sesuai ilmu ketika di sekolah, dan ingin mengembangkan teori yang telah didapat dalam praktikum perbengkelan Otomotif”  Pungkasnya. (Edw)

Berita Terkait Pendidikan

Tidak ada komentar: