"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Sunday, March 16, 2014

Buruh Migran Hongkong Gelar Pendidikan Pemilu Dan Debat Caleg

Para BMI Dan Nara Sumber Fotong Bareng Si Hongkong
Hongkong, MAJALAH-GEMPUR.Com. Komunitas masyarakat sipil Indonesia di Hong Kong & Macau yang tergabung dalam Komite Pendidikan Pemilu untuk Buruh Migran Indonesia gelar Pendidikan Pemilu dan Debat Kandidat Anggota DPR RI.

Acara yang digelar di Room Z2-001, Polytechnic University, Hong Ham, Hong Kong SAR, CHINA Minggu, 16 Maret 2014 dan medapat dukungan KJRI Hong Kong, merupakan inisiatif murni dari para Buruh Migran Indonesia (BMI) Hong Kong ini merupakan kegiatan untuk pertama kalinya.

Acara yang dihadiri buruh migran Indonesia di Hong Kong dan Macau dan untuk menyambut pemilihan umum (Pemilu) anggota legislatif tahun 2014 ini diharapkan dapat menjadi forum bagi Buruh Migran faham makna pemilu, mengenal lebih visi-misi program para caleg, dan tidak salah pilih.

Hadir sebagai pembicara dalam Debat publik BMI dengan Caleg dari DPR-RI diikuti oleh Masinton Pasaribu (PDIP), Lathifa Marina Al Anshori (Nasional Demokrat), Yoga Dirga Cahya (PAN), Abdul Wahid Maktub (PKB), Moh. Miftah Farid (PKB)

Sebelum acara dimulai, para panelis.menjabarkan dan dijelaskan terlebih dahulu mengenai pemilihan umum, partai politik dan permasalahan buruh migran di luar negeri.  Diantaranya  adalah; Fahmi Panimbang, Program Coordinator dari Asia Monitor Resource Centre (AMRC), Sringatin, Coordinator dari Jaringan BMI dan juga ketua IMWU, Answer Styannes, Program Officer Asian Human Right Commission (AHRC), Romo Paulus Waris Santoso, Keluarga Katolik Indonesia Hong Kong (KKI)

Sehingga para BMI menjadi tahu banyak hal tentang dunia politik dan juga rekam jejak partai politik peserta pemilu.  Namum perasaaan bimbang dan bingung masih menyelimutinya. Bimbang, kalau tidak memilih, kertas suaranya ada yang menyalahgunakan. Bingung, mau pilih partai atau caleg yang mana. pasalnya rasa apatis terhadap partai dan politikus sangat terasa. Bukan saja apatis, tapi sudah anti terhadap keduanya. 

Saat panelis mengajukan pertanyaan dan memberi waktu para caleg untuk menjawab, para audiens menyimak dengan seksama penuturan para caleg. Ada yang tersenyum, ada yang diam kyusuk menyimak, ada yang geleng-geleng kepala, ada yang nyengir pertanda tak paham. 

Giliran waktu para audiens diberi kesempatan untuk bertanya. Beberapa pertanyaan sangat berbobot tapi sayangnya, jawaban dari para caleg juga tidak memuaskan.  Antara pertanyaan dan jawaban tidak nyambung. Jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan itu sedikit gambaran bahwa mereka tidak mampu mendengarkan dengan baik.

"Dari sini kita bisa lihat, ini bisa jadi gelagat kalau nanti mereka juga tidak bisa mendengarkan aspirasi rakyat, mereka hanya mendengarkan kemauannya sendiri." Tutur Romo Waris, salah satu panelis.

Di sisi lain, antara ideologis dan praktis. Tadi kelihatan yang muda itu ideologis, yang tua lebih praktis. Untuk yang ideologis patut didukung agar tidak terseret arus politik yg kotor. Sudah ada banyak contoh politisi muda yg terjebak korupsi. Yang praktis juga perlu didukung agar mereka bisa melihat lebih jauh. Tambah Romo.

Pasti sudah  banyak yang tahu tentang banyaknya kader partai yang duduk di kursi DPR-RI terjerat korupsi, padahal dulunya bisa dibilang memiliki track record yang bagus. Kenapa setelah jadi anggota legislatif terjerat korupsi? 

Jam 11 sampai jam 5 lebih berada dalam ruangan dan mendengarkan penjabaran para panelis. Kemudian debat caleg jam 2.30 sampai jam 5 lebih, mendengar penuturuan visi misi para caleg membuat para BMI paham bagaimana para caleg ini saling silang adu kemampuan dan pengetahuan mengenai buruh migran.

Ada caleg yang paham ada juga yang sama sekali tak paham. Ada yang melenceng sangat jauh dari pertanyaan awal dan membuat buruh migran saling berbisik, "gimana sih ini, pertanyaan dan jawaban kok gak nyambung."

Permasalahan Buruh Migran Luar Negeri Begitu Komplek
KTKLN, outsourching, UU no.39/2004 masih menjadi perdebatan yang sengit. Janji menghapus KTKLN, merevisi UU, meningkatkan pelayanan serta perlindungan dan lain-lain diperdebatkan dalam dialog kali ini. Tapi sayangnya, tidak ada caleg yang membahas soal lapangan kerja di dalam negeri dengan gaji yang memadai sehingga tak perlu kaum perempuan jauh-jauh pergi ke luar negeri.

Semuanya tahu bahwa akar permasalahan buruh migran justru ada di dalam negeri yakni sejak masih proses awal sewaktu di Indonesia. Sudah puluhan tahun Indonesia menjadi pengirim tenaga kerja ke luar negeri, tetapi berbicara soal pelayanan dan perlindungan hanyalah slogan semata, manis di awal kenyataannya selalu pahit akhirnya.

Buruh migran di luar negeri tersebar di 142 negara dengan total 6,5 juta jiwa. Tahun 2006-2012 sebanyak 4 juta jiwa berstatus ilegal. Para BMI ini berasal dari 392 kabupaten atau kota dan tahun 2013 jumlah pengiriman dari buruh migran sebanyak Rp 81 Trilyun lebih. Angka yang sangat fantastis. Benar memang kalau pengiriman BMI menduduki nomor 2 setelah SDA kita.

Namun, perlu kita garis bawahi, bahwa warga Indonesia yang bekerja di luar negeri sebanyak 90% menjadi  pekerja rumah tangga (PRT) dan sebanyak 76% adalah perempuan

Permasalah buruh migran di luar negeri begitu komplek. Dan dari periode-periode pemilu sebelumnya, para caleg pun menebar janji yang kurang lebih isinya sama dengan para caleg dalam pemilu tahun ini.

Kebijakan Parpol Terkait Buruh Migran
Janji caleg yang sudah 2 atau bahkan 3 periode duduk di parlemen saja tak pernah ada buktinya, tak ada tindak lanjutnya, lalu bagaimana para buruh migran ini bisa yakin akan janji manis yang kembali ditebar oleh para caleg peserta pemilu tahun ini. 

Pada akhirnya semua kembali kepada pemilih. Seperti yang dijelaskan oleh Fahmi Panimbang, salah satu panelis, bahwa GOLPUT atau memilih itu adalah HAK setiap warga, tidak ada aturan halal dan haram. Pilihlah wakil yang menurutmu sesuai dengan aspirasimu.

Pemilu di Hong Kong akan dilaksanakan pada tanggal 30 Maret 2014 bertempat di lapangan Victoria Park. Bagi yang tidak kebagian kertas suara, bisa langsung datang ke lapangan dengan membawa KTP. 

Sekali lagi kami tekankan di sini, bahwa acara debat caleg di Hong Kong bukanlah acara atau deklarasi untuk mendukung salah satu caleg. Tapi acara ini semata adalah untuk membuka mata kita sebagai buruh migran mengenai para calon wakil rakyat yang "katanya" bisa mewakili apa yang kita suarakan  di luar negeri untuk disampaikan kepada pemerintah sebagai pembuat kebijakan. (ild)

Berita Terkait Politik dan Hukum

No comments: