"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Monday, September 15, 2014

Tolak Penambangan Emas, Warga Gelar Istighosah

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Puluhan warga dan tokoh masyarakat se-Kecamatan Wuluhan, menggelar istighosah di kaki Gunung Manggar, Dusun Babatan, Desa Kesilir, Wuluhan, untuk menolak aktifitas penambangan emas.


Aksi do'a dan zdikir bersama ini juga dimaksudkan untuk meminta keselamatan dari bencana alam. Menurut Kyai Saibani, imam istighosah, kegiatan ini berangkat dari keprihatinan warga sekitar dan sejumlah tokoh masyarakat dengan maraknya penambangan emas dikawasan Gunung Manggar.

Pasalnya masyarakat sekitarlah yang akan terkena dampak negatif dari penambangan itu, seperti rusaknya tatanan sosial budaya warga, serta hancurnya ekosistem dan lingkungan dalam jangka panjang.

Hal senada juga dikatakan Asisten Perhutani Sukatno, menurut  Sukatno selama ini pihaknya terus aktif melakukan kampanye tolak tambang, baik dengan pendekatan persuasif maupun represif, “Istghosah ini adalah salah satu pendekatan persuasif kami, agar masyarakat tidak melakukan aktifitas penambangan emas,” katanya, Senin (15/9).

Tak hanya itu, sejak ia menjabat sebagai pemangku hutan dikawasan gunung manggar ini, tak sedikit pula penambang yang telah telah ditahan, meski ia mengakui jika masih ada penambang yang beraksi dihutan panguannya itu, “hingga saat ini, kami masih tetap melakukan operasi penambang liar, alhamdulillah sejauh ini sudah ada penurunan jumlah para penambang,” paparnya.

Dalam waktu dekat, lanjut Sukatno, Perhutani akan terus melakukan sosialisasi dampak bahaya eksploitasi tambang emas tersebut, “dalam waktu dekat kami akan mengadakan kemah di kawasan hutan dengan melibatkan semua stake holder, seperti Pramuka, Polri, TNI, LMDH, LSM dan tokoh Masyarakat,” terangnya. 

Rencanya, kemah bersama ini juga untuk menutupi lubang-lubang bekas galian tambang. Sebab, dikuatirkannya, lubang-lubang itu akan menimbulkan bahaya pada masyarakat setempat saat mencari rumput atau ranting kayu yang kering.  Menurutnya, kedalaman lubang bekas galian tambang itu cukup dalam mencapai 10 meter hingga 15 meter, “ini sangat berbahaya sekali pada masyarakat sekitar,” tuturnya.

Oleh karena itu, kata Sukatno, pihaknya akan bersikap tegas bila masih ada penambang yang ngotot  melakukan aktifitas penambangan, “siapapun yang menambang akan kami tangkap dan kami serahkan pada pihak kepolisian,” tegasnya.

Sejumlah tokoh yang turut hadir dalam Istighotsah ini, diantaranya Kyai Saibani Pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Khuluq Desa Tanjungrejo, Kyai Sonan Pengasuh Ponpes Nurul Fatah Desa Kesilir, serta Kyai  Samsul Hadi Pengasuh Ponpes Roudlotus Salam Desa Tanjungrejo. (Ruz).

Berita Terkait Lingkungan

No comments: