"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Friday, September 19, 2014

Pembagian Air Dianggap Tidak Adil, Petani Datangi Kantor Desa

Jember MAJALAH-GEMPUR.Com. Beberapa petani dusun Bunder, Jum’at (19/9) datangi kantor balai desa Sumber Pinang, kecamatan Pakusari kabupaten Jember Jawa Timur. Mereka memprotes ketidak adilan pembagian air sawah.  

Saat di temui Kepala Desa Misyono, Ketua HIPA dan Ulu-ulu air, beberapa tokoh masyarakat, mengeluhkan perihal pembagian air yang dilakukan Busri yang sebagai Kablok dusun Bunder, ia menganggap tidak adil dan besarnya pungutan kepada petani di wilayahnya. Edy  Sampurno dan H.Abdul Sofian

Edy Sampurno salah satu petani, mengatakan minta supaya Busri sebagai kabok atau ulu-ulu betidak adil dalam pembagian pemerataan air sawah, supaya kepala Desa Misyono dan Candra sebagai Ketua Hipa  bisa membina dan mengingatkan serta pembinaan kepada Busri bisa bekerja dengan baik “ Harapnya

Masi kata Edy Sampurna, ia mengeluh dengan biaya terlalu tinggi, dengan tarikan berkisar enam ratus ribu hingga satu juta lebih, dengan biaya sebesar itu, membuat petani tak terjangkau,  “ Belum harga pupuk yang tinngi dan masih bayar pajak, namun hasil petani masih belum tentu baik “ Keluhnya

Sedangkan menurut Busiri sebagai Kablok dusun Bunder, Karena keadan masa kemarau dan air tidak mencukupi kebutuan para petani, untuk itu ia berusaha mencari air dari aliran sungai tetangga desa, sedangakan petani lain juga sama-sama membutuhkan, jadi petani ya harus sabar menunggu giliran ‘ Pesanya

Sedangkan terkait pungutan Busiri mengatakan, petani harusnya sadar mengingat kondisi air sekarang sulit, Busiri berdalih masih wajar-wajar saja, karena saya tidak pasang harga dan ia mengelak meminta uang kepada petani. kalau masih mepermasalahkan dana, ia “beranggapan petani tidak waras “ Cetusnya     

Masih kata Busiri, namun ia mengakui pernah menerima uang dari petani namun seiklasnya, dan tak jarang menerima uang sebesar ratusan ribu, namun ia berdalih pemberian se iklasnya petani” Pungkasnya.


Menurut Kades Misyono, kelangkaan air sudah menjadi kebiasaan, dan itu terjadi di mana-mana, sebenarnya di dusun bunder sendiri sudah ada dua sumur Bor, namun tidak berfungsi secara maksimal, sebab dikuasai sendiri, akhirnya menjadi kepentingan pribadi, padahal itu adalah bantuan dari pemerintah. “ Paparnya (edw/midd)

Berita Terkait Lingkungan

No comments: