"Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.", "Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.","Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72."
Custom Search

Selasa, 18 November 2014

Akibat BBM Naik, Pendapatan Sopir Angdes Turun Drastis

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Dampak kenaikan BBM jenis premium dari Rp 6.500 menjadi Rp 8.500 dan Solar dari 5.500 menjadi 7.500  per liter berimbas terhadap menurunnya pendapatan sopir angkutan umum pedesaan (Angdes).


Untuk menghindarikerugian tersebut, sejumlah sopir terpaksa harus menaikkan tarif angkutannya. Sebesar 1.000 rupiah dari ongkos biasaya yang sebelumnya dipatok Rp 3.000 untuk pelajar setiap kali jalan, sedangkan penumpang umum ia pasang tarif Rp 7.000.

Seperti yang dilakukan sopir angkutan jurusan Kencong - Puger. "Kami terpaksa menaikkan tarif meski cuma seribu rupiah," kata Yudi, salah seorang sopir angkutan saat mangkal di alun-alun Kencong, Senin (18/11).

Meski tarif tarip sudah dinaikkan, menurut sopir asal Gumukmas ini mengaku pendapatannya masih menurun. Pasalnya, biaya pembelian bahan bakar membengkak hampir 50 persen. "Sebelum bensin (premium) naik saya membeli Rp 50 ribu sekali jalan, sekarang jadi Rp 65 ribu," akunya. Sedangkan kenaikan tarif tersebut, lanjut Yudi, tidaklah seberapa untuk menutupi biaya operasionalnya setiap hari.

Menurut bapak dua anak itu, dirinya tidak bisa berbuat banyak dengan kenaikan BBM tersebut. Pasalnya kenaikan BBM ini membuat para penumpang beralih menggunakan kendaraan pribadi. "Sebelumnya juga begitu, sudah sepi, tapi jika begini (BBM naik) jadi tambah sepi. Kalaupun ongkos naik, setoran juga naik. Penumpang enggak ada, mereka lebih memilih kredit motor untuk aktifitasnya," ujarnya.

Hal senada diungkapkan Nono, sopir Angdes yang lain. Menurutnya kenaikan BBM membuat aktivitas transportasi umum di pedesaan lesu. Ladang bagi para sopir kini, ujar dia, hanya pada penumpang sekolah. "Kami ramenya hanya pas berangkat sekolah sama bubaran sekolah. Sisanya ya begini. Tapi sekarang juga kan banyak anak sekolah yang sudah menggunakan motor sendiri," pungkasnya.

Saat ini, Yudi dan Nono hanya melayani anak-anak sekolah, itupun hanya sekali rit, yakni dari Puger ke arah Kencong dan sebaliknya. Jika sebelum BBM naik mereka mendapat penghasilkan bersih Rp 40 ribu perhari. Kini, keduanya hanya mampu membawa pulang Rp. 30 ribu. (Ruz/Miff).

Berita Terkait Sosial Budaya

Tidak ada komentar: