"Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.", "Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.","Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72."
Custom Search

Selasa, 09 Desember 2014

Dapat Bedah Rumah Kemenpera, Warga Justru Terlantar

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Tidak semua penerima dana Bantuan Stimulan Program Swadaya (BSPS) yang digelontorkan melalui kementerian perumahan rakyat (Kemenpera) merasakan manfaatnya, bahkan sebagian penerima justru terlantar.


Program bedah rumah, yang seharusnya membantu warga miskin agar mendapatkan hunian yang layak, justru menjadi beban penderitaan.  Hal ini dirasakan  Sunami (42 thn). Karena rumahnya tak kunjung selesai, Wanita yang kesehariannya pembantu rumah tangga ini harus rela tidur disembarang tempat.

Warga Lingkungan Tumpeng kelurahan Tegal Besar Kaliwates ini, mengaku ia tidak pernah menerima uang dari Bank, tapi langsung mendapatkan material, berupa batu bata sebanyak 3500 buah, semen sebayak 10 sack, pasir 2 truck, kapur 10 sack (2 kwintal) serta uang tunai untuk pembayaran tukang sebesar Rp.800 ribu.

Bantuan itu menurut Sunami harus dicukup-cukupkan, jika tidak cukup, pemilik rumah yang harus membiayai sendiri, ternyata bantuan material dan uang tukang yang diberikan tidak cukup, sementara untuk membiayai kekurangan bahannya dirinya masih belum mepunyai uang.

“Saya tidak nyangka bantuan ini malah memberatkan saya. Karena rumah yang dibongkar, sampai kini belum selesai. saya hanya dijatah 4 hari. Lebih dari waktu itu biayanya katanya harus ditanggung sendiri. Darimana saya mendapat uang. Karena rumah saya belum selesai, terpaksa saya tidur ditempat seadanya” Keluhnya.

Hal yang sama juga dirasakan Khotimah,  Warga RT 01, RW 06, Dusun Pancakarya, Hingga kini rumahnya juga belum terselesaikan , namun tukangnya sudah tidak datang dan daun pintunya belum dapet, sementara uang sudah habis tapi lantainya masih tanah mas “ Keluhnya

Kejadian serupa juga dialami Kartini (30), Warga Dusun Pancakarya, RT 01, RW 06 Desa Ajung , Kecamatan Ajung, ia yang mendapat bantuan bedah rumah program BSPS dari Kemenpera, bukan berupa uang tunai tapi berupa material bangunan.  Jumlah material yang diterima disinyalir juga tidak sesuai dengan jumlah bantuan.

Sebelumnya ia mendapatkan sosialisasi di Balai Desa, untuk bertandatangan di beberapa lembar kertas, sebagai persyratan pembuatan Rekening, namun hingga kini tidak pernah tadatangan di buku rekening, “Tidak berselang lama kemudian dapat kiriman mateal bangunan” Ujar Kartini Selasa (9/12)

Lanjut Kartini “Saya hanya menerima material batu bata 3000, pasir 2 truk, semen 10 sak, kusen pintu 2, dan  daun pintu, 1 Kusen Jendedal kamar dan 2 jendela depan, serta 7 Loster (Angin-angin) Batu kapur (gamping) 3 kwintal Sedangkan untuk ongkos tukang masih dikasih 500 ribu “Urainya

Hal ini benarkan suaminya Didik Kartono, Menurut Didik bahwa kalau dana sebesar 7.5 juta, bisa dibelanjakan sendiri akan tambah lebih bagus dan cukup, tidak seperti sekarang, dengan material terbatas dirinyaterpaksa  harus mencukupi kekurangan batu-batu dan semen dengan uang sendiri “ Jelasnya

Diberitakan sebelumnya, Slamet Riyadi selaku Flying Camps BSPS Badan Pemberdayaan Masyarakat yang juga penanggung jawab program BSPS, mengatakan bahwa dana BSPS sebesar 7,5 juta, namun dana itu masih dipotong pembuatan SPJ foto rumah, ATK dan ongkos tukang sehingga jatuhnya kisaran 6 jutaan, jika ada masyarakat yang menerima material dibawah itu, maka pihaknya tidak segan-segan akan menindak.

“Dana yang diterima masyarakat itu 7,5 juta mas, jika ada yang menerima dibawah itu, maka kami tidak segan-segan akan menindak, dan yang bertanggung jawab dalam pengawasan maupun pengontrolan program ini adalah pendamping program,” ujar Slamet.

Slamet juga menjelaskan, bahwa dana program BSPS dari Kemenpera diberikan langsung ke masyarakat melalui pihak Bank, dalam hal ini bank yang ditunjuk oleh Kemenpera adalah Bank BRI, “Dana dari Kemenpera diberikan langsung ke Masyarakat melalui BRI, selanjutnya dilakukan peralihan ke Konsultan dalam hal ini toko bangunan yang ditunjuk oleh masyarakat atau penerima, untuk dibelikan material,” beber Slamet.

Terlantarnya penerima program bantuan Stimulan Program Swadaya (BSPS) dari Kemenpera untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) ini diduga karena  anggarannya “menguap”, pasalnya metrial bangunan yang diterima masyarakat tidak sesuai  jumlah nominal bantuan yang dikucurkan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini di lapangan bahwa, rata-rata masyarakat penerima bantuan BSPS tidak mengetahui jika dana itu diberikan langsung kepadanya, mereka tahunya mendapat program BSPS ini berupa material bangunan.

Seperti diketahui Bantuan Stimulan Program Swadaya dari Kemenpera dianggarkan tiap rumah sebesar 7,5 juta namun faktanya yang diterima masyarakat jauh dibawahnya, hanya berkisar 4 sampai 5 jutaan, sehingga hal ini tentu banyak dana bantuan yang ‘menguap’. Tidak menutup kemungkinan beberapa penerima bantuan lain juga bernasib sama dengan Sunami, Kartini dan Khotimah.

Padahal jumlah penerima bantuan bedah rumah, di Kabupaten Jember sebanyak, 1.704, yang tersebar, di 8 Desa dan 1 Kelurahan di 7 Kecanmatan.  Diantaranya di Kecamatan Jelbuk Desa Panduman 427 unit, Kalisat Desa Sumber Ketempa 303 Unit , Kecamatan Ajung Desa Pancakarya 145.

Untuk di Kecamatan Temporejo, Desa Sidodadi 50 dan Curahnongko 67 Unit, sementara di Sukorambi Desa Karangpring 235 dengan Desa Dukuhmencek 140, dan Kecamatan Rambipuji Desa Kaliwining 209, sedangakan satu Kecamatan Kota yang mendapatkan Kaliwates di Kelurahan Tegal Besar Sebanyak 128 unit  (edw/mam/kik/eros)

Berita Terkait Sosial Budaya

Tidak ada komentar: