"Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.", "Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.","Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72."
Custom Search

Sabtu, 20 Desember 2014

FPI Hentikan Pemutaran Film Senyap Di Unmuh Jember

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Front Pembela Islam (FPI) hentikan Pemutaran Film The Look of Silence (Senyap) yang digelar Komunitas Mahasiswa Jember (KMJ) dan Diskusi Kamisan di Aula Akademi Pariwisata Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember

Pemutaran Film ini menurut, utusan FPI  yang mendatangi lokasi khawatir film ini  akan menumbuhkan paham komunisme baru di Indonesia, dikhawatirkan akan menjadi propaganda sehingga para kiai seperti Habib Haidar. Dan kiai yang lain , resah. Pasalnya Film ini dianggap memihak pada korban Partai Komunis Indonesia (PKI)

Dua utusan ini mengancam jika tidak dihintikan, akan dibubarkan paksa. “Kawan-kawan  FPI sudah kumpul di Rambipuji, tinggal nunggu intruksi saja saja, namun jika dihentikan kami akan pulang” tegas Anshori, anggota FPI asal Rambipuji yang juga mahasiswa Jurusan Dakwah STAIN Jember Sabtu (20/12)

Setelah nogoisasi antara panitia dan dua utusan FPI, akhirnya terjadi kesepakatan pemutaran Film ini dihentikan dan kedua utusan yang datang sejak sore hari tersebut meninggalkan lokasi pemutan Film ini. Sementara ratusan mahasiswa yang yang hadir mengaku kecewa dihentikannya  karena panitia mendapat ancaman.

"Sbenarnya Panitia dan teman-teman kecewa acaranya dihentikan di tengah jalan, Panitia terpaksa menghentikan pemutaran film Senyap, karena panitia menerima ancaman akan mendatangkan massa FPI untuk menghentikan paksa pemutaran film tersebut. Kata Sadam Husein.

Diberitakan sebelumnya bahwa film dokumenter ini bercerita mengenai seorang laki-laki yang mencari tahu pembunuh kakaknya.  40 tahun lebih telah berlalu, Adi Rukun dan ibunya yang sudah lansia masih memendam kepedihan dari tragedi pembantaian massal tahun 1965 di Indonesia. Kakak Adi adalah salah seorang korban pembantaian di Sumatera Utara.

Adi, yang baru lahir dua tahun setelah peristiwa itu, menjalani kehidupannya dengan tanda tanya besar; bagaimana kakaknya dibunuh dan siapa pelakunya? Jawabannya terkuak dalam film dokumenter 'The Look of Silence' atau Senyap yang diputar perdana dalam Festival Film Internasional Venesia.

Film ini mengikuti perjalanan Adi yang menemui pelaku pembunuh kakaknya, bukan untuk balas dendam, namun untuk mencari pemahaman.

Sutradara Joshua Oppenheimer mengatakan, film dokumenter garapannya yang berjudul Senyap atau Look of Silencetidak memiliki tujuan mengorek luka lama antara masyarakat dan para penyintas atau korban Tragedi 1965.

"Masa lalu tak akan berlalu selama ancaman masih terus membuat kita terlalu takut mengakui apa yang telah terjadi atau untuk menyuarakan makna peristiwa di masa lalu," kata Joshua saat menggelar konferensi jarak jauh dengan wartawan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (10/11/2014).

Dia mengatakan, Senyap menghadirkan pelanggaran HAM serius bagi korban dan keluarga yang dianggap tersangkut Partai Komunis Indonesia.

Meski begitu, dia mengakui tidak sedang membela sebuah ideologi lewat film. Akan tetapi, dia ingin agar masyarakat menyadari bahwa ada pelanggaran HAM bagi keluarga yang tersangkut Gerakan 30 September.

Film Look of Silence sendiri merupakan karya dokumenter kedua Joshua tentang pelanggaran HAM di Indonesia setelah film The Act of Killing atau Jagal. Dia melibatkan banyak pihak, termasuk kerabat kerja dari Indonesia yang namanya sengaja disembunyikan.

Joshua merangkai film kisah nyata berisi penuturan dari para korban dan pelaku pelanggaran HAM serius terkait Tragedi 1965. Film tersebut mengambil latar belakang pembantaian massal 1965 oleh masyarakat di Sumatera Utara yang dikoordinasi oleh militer.

Mengambil sudut pandang orang kedua bernama Adi Rukun, film tersebut mengisahkan kisah nyata pengakuan korban dan pelaku pembantaian.

Adi yang merupakan adik korban pembantaian, Ramli, mewawancarai korban dan pelaku. Bermacam pihak diwawancarainya, seperti ibu dan ayahnya yang kini telah renta, para pembunuh dan penyiksa Ramli, para koordinator aksi pembantaian, dan pihak-pihak terkait lainnya.

Joshua berharap, film tersebut dapat memancing kesadaran penonton untuk turut andil dalam penyelesaian kasus pelanggaran HAM pada masa lalu, dalam hal ini pembantaian tahun 1965 kepada orang komunis dan orang-orang yang dicurigai komunis.

Menurut dia, para penyintas Tragedi 1965, seperti keluarga Adi Rukun, yang diduga terkait dengan komunisme, mendapatkan perlakuan diskriminatif. Untuk itu, melalui film Senyap, dia ingin menghadirkan kepada masyarakat tentang kenyataan kehidupan para korban diskriminasi masyarakat dari sudut pandang keluarga penyintas.

"Tanpa mengakui dan menyuarakan makna masa lalu terkait perlakuan diskriminatif oleh para pelakunya, maka kita tunduk pada ketakutan dan menyerah pada ancaman para pelaku," kata dia. (eros/yond)

Berita Terkait Sosial Budaya

Tidak ada komentar: