"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Saturday, January 10, 2015

Tren Kepercayaan Terhadap Pers Semakin Menurun

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Tren kepercayaan masyarakat terhadap peran pers dalam melindungi demokrasi semakin menurun. Penurunan, kepercayaan masyarakat terhadap pers mulai terjadi di Amirika sejak tahun 1985.


Padahal pada tahun 1945, 40 %,  masyarakat masih mempercayainya, namun beberapa tahun kemudian kepercayaan masyarakat tinggal 21 %. “waktu itu di Amerika, masyarakat tak lagi percaya bahwa pers itu melindungi demokrasi,”.

Demikian disampaikan Aga Suratno, Direktur Kiss FM, dalam diskusi dengan tajuk Peran Pers Mengawal Demokrasi dan Rapat Kerja (Raker) yang diselenggarakan oleh Forum Wartawan Lintas Media (FWLM) Jember di aula UPT Liposos, Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Jember, Sabtu (10/1).

lanjut Aga sapaan akrabnya, padahal begitu bersarnya peran pers dalam demokrasi, fungsi pers tak cukup hanya sebagai pengamat maupun control bagi kebijakan pemerintah, melainkan juga sebagai Voice of Voices, penyambung lidah, yang menyuarakan jeritan rakyat serta kebenaran, “  terang wartawan senior ini.

Disamping itu juga berfungsi membangun sebuah peradaban, “pers juga bertujuan untuk membangun civilize (masyarakat beradab), bukan uncivilize (masyarakat tak beradab,  Jadi sangat aneh jika sepakat dengan demokrasi, tapi membuat informasi yang tidak benar, informasi sampah, dan memperparah konflik.

Begitupun di Indonesia paska reformasi, independensi dan pembelaan media kepada rakyat, dan kaum  marjinal mulai terusik dengan adanya komerisialisasi dan konglomerasi media. Dampaknya ada monopoli informasi, media besar hanya dikuasai segelintir orang.

Lebih parah lagi, beberapa pemilik media kecenderungaanya memiliki relasi dengan pengusaha dan penguasa, bahkan ada yang akrif dalam parpol, akibatnya ada pemaksaan kebenaran. “Jika media sudah tidak independen, maka jangan salahkan masyarakat akan mencari kebenaran dengan sendirinya,” ucapnya.

Hal senada diamini anggota oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jember, Ahmad Hanafi. Menurut Hanafi penurunan kepercayaan masyarkat terhadap pers menurutnya karena media terkesan tidak independen dan kurang berimbang dalam pembuatan beritanya.

saat pesta demokrasi, pemilu legislatif dan pilpres media terkesan kurang independen dan berimbang, meski sudah sama dalam hal durasinya, namun dalam hal tone tidak sama, akibatnya berita yang disampaiakan terkesan tidak netral. Akibatnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pers semakin menurun.

Namun bukan berarti media yang tidak jujur yang memaksakan kepentingan mereka dan bersembunyi dalam dogma otoritas kesucian independensi media’ lantas dimaklumi, “media memang tidak bebas nilai, sehingga jurnalis menjadi wajib hukumnya untuk memihak kepada kebenaran, kaum marginal dan terpinggirkan,” katanya, sembari menegaskan independensi jurnalis lah yang menjadi kata kuncinya.

Sementara Sigit Edi Marianto, ketua PWI Jember, yang juga didapuk untuk menjadi nara sumber melontarkan pernyataan lebih keras lagi, bahwa peran pers saat ini sudah banyak yang melenceng dari fungsinya, “jangan sampai media atau atau wartawan menjadi provokator yang dilegalkan? Sebab tidak jarang pemberitaan yang muncul ditunggangi oleh kepentingan oknum-oknum yang mencari untung,” ujar Sigit.

Sementara Ketua Forum Wartaan Lintas Media (FWLM) Jember menyampaikan bahwa “, pers harus mampu mendorong arah demokrasi kita menjadi demokrasi subtansial. FWLM Jember siap menjadi motor penggeraknya,” terangnya. (Ruz/eros).

Berita Terkait Sosial Budaya

No comments: