"Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.", "Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.","Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72."
Custom Search

Jumat, 27 Februari 2015

Sopir Anggkutan Umum Dan Tukang Becak Protes Bentor

Jember,  MAJALAH-GEMPUR.Com. Maraknya kendaraan modifikasi dan bentor, diprotes sejumlah sopir angkutan umum dan tukang becak. Keberadannya membuat kehilangan penumpang.

Akibatnya penghasilanya menurun. Untuk melampiaskan kekesalannya, sejumlah tukang becak dan sopir angkutan umum protes ke DPRD Jember. Mereka mengadukan di rapat dengar pendapat komisi C DPRD Jember. “Masyarakat banyak yang pindah ke angkutan becak motor (Bentor; red),” keluh Syamsul Arifin, tukang becak tradisional Jumat (27/2).

Angkutan ini selain lebih cepat rasanya juga seperti naik becak, sehingga menghemat waktu dan biaya. “Saat ini banyak warga pindah menggunakan Bentor,” jelas Syamsul. Bentor ini memang tidak beroperasi di perkotaan, namun banyak sekali bahkan menjamur di pinggiran.

Seperti di daerah Jember selatan dan barat, yakni Kecamatan Ambulu, Balung, Rambipuji hingga Bangsalsari. Namun, selama ini tidak ada tindakan dari aparat. “Kalau ada penumpang, mereka lebih cepat datang kesana. Sedangkan kami harus ngontel panas-panasan,” keluhnya.

Apalagi, dengan kecanggihan tekhnologi saat yang membuat semua kemudahan bagi para pengguna dan angkutan Bentor untuk beroperasi dan mencari pelanggan. “Sekarang ada HP. Telfon datang, sehingga pelanggan banyak yang memilih Bentor. Dibandingkan becak tradisional,” tambahnya.

Hal senada dikeluhkan Sopir Angdes wilayah Ambulu, Menurutnya, Bentor ini ada mulai tahun 2011. namun tidak ada tindakan, akibatnya pertumbuhan Bentor kian menjadi. “Padahal mereka jelas – jelas tidak resmi. Kami yang resmi didesak untuk uji Kir dan persyaratan lainnya. Tetapi mereka dibiarkan,” keluhnya dengan nada kesal.

Bahkan, jalur Ambulu ke timur, barat, selatan dan utara merupakan wilayah pedesaan. Sehingga, jika dilakukan penertiban juga sulit untuk dilakukan. Selain becak tradisional, adanya Bentor ini juga mempengaruhi pemasukan sopir Angkutan Kota (Angkot).

“Kami hanya dapat penumpang dari pelajar saja. Mencari uang Rp 50.000 per hari saja Itupun didapat setelah harus berlama-lama di lokasi ngetem sekitar Kaliputih, Rambipuji. Jika tidak, Maka jangan harap mendapatkan penumpang, bisa-bisa nihil.  ,” tutur Nur Atim Sopir Angkot dari Rambipuji

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jember, Isman Sutomo, kendaraan Bentor ilegal. selain tidak terdaftar sebagai kendaraan pabrikan, juga tidak ada nomor polisi. “Sehingga, petugas kesulitan melakukan Tilang,” jelas Isman. Dishub juga tidak bisa menindak, karena tidak ada trayek untuk angkutan itu.

Kanit Patroli Satlantas Polres Jember Ipda Sumardjan menerangkan, persoalan ini menjadi perhatian khusus sejak tahun 2008. Bahkan, di Ambulu terdapat industri rumahan yang  merakit kendaraan ini.  “Ada dedet, gerandong, dan Bentor. Bahkan ada juga kereta kelinci yang dipakai untuk lokasi – lokasi wisata,” jelas Sumardjan.

Pihaknya sudah melakukan himbauan dan kami lakukan penindakan, namun tak dihiraukan, bahkan beberapa industri lain tahun 2011 bermunculan. Sehingga produksi ini berkembang pesat. Tercatat, untuk dedet 224 unit, sedangkan gerandong 17 unit. Untuk kereta kelinci diperbolehkan untuk beroperasi di lokasi wisata saja.

Pihaknya telah melakukan komunikasi dengan pemilik dan industri Bentor. Untuk industri, kepolisian sudah menghimbau agar produksi dihentikan. Sedangkan untuk pemilik atau sopir Bentor   diberikan 2 pilihan saja, yakni mau memilih motornya saja atau becaknya. Yang jelas kendaraan itu harus dipotong.

“Dari tawaran itu, pemilik banyak yang memilih motornya,” tuturnya sembari tersenyum. Ke depan, pihaknya menginginkan adanya payung hukum yang mengatur hal ini. Pasalnya, kendaraan ini memang bukanlah kendaraan resmi. Namun kendaraan tersebut tercipta dari kearifan lokal. (midd).

Berita Terkait Ekonomi Bisnis

Tidak ada komentar: