"Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.", "Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.","Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72."
Custom Search

Jumat, 06 Maret 2015

Diduga Drainase Buruk, Kota Jember Dikepung Banjir

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Meluasnya banjir di kota Jember saat hujan deras, Jumat Jawa Timur, (6/3) disinyalir karena sistem Drinase amburadul, pasalnya dikota Jember dikelilingi sungai besar yang dapat dimanfaatkan membuang air.

Seperti banjir di Jalan Jawa Kampus Unej, padahal lokasinya diapit dua sungai besar. Di Kampung Osing, Jangankan hujan sehari, hujan deras selama satu sampai dua jam saja. air sudah menggenangi kampong Belakang Pendopo Bupati Jember, padahal tidak jauh terdapat sungai Kali Jompo.

Menurut Warga Kampung osing Soeseno, pada jaman belanda kampong Osing tidak pernah banjir, mereka curiga beberapa drainasi, dibelokan dan ditutp untuk kepentingan bangunan, termasuk teknis pembuatan DAM untuk menyiram rumput di Alun-alun, menghambat lajunya air saat hujan deras dari kampong osing ke sungai.

Akibat hujan legat selama dua jam ini, bukan hanya di Jl Jawa, Bengawan Solo dan kampung Osing saja yang jadi korban, tapi pengguna jalan di utara alun-alun. Banjir juga terjadi  Jalan, Mastrip,  depan Yon Armed, Kebonsari, Pasar Tanjung, Banka, Wirolego (Sumbersari), Perumahan Muktisari, Jalan Gajah Mada Kaliwates, Mangli, Jalan S Parman (Depan Bakesbangpol), Subersari Tegal Besar Kaliwates dan banyak lagi yang lainnya.

Wakil Ketua DPRD Jember, Ayub Junaidi, menilai ada yang salah urus dalam penanganan banjir. Di jalan jawa misalnya, seharusnya banjir di jalan itu bisa di atasi, sebab ada sungai besar yang melewati jalan jawa, lebih aneh lagi, jalan bengawan solo yang dilintasi sungai besar, justru terjadi banjir.

Pembangunan pusat perbelanjaan, ruko, serta perumahan yang tidak terkendali, menyebabkan daerah resapan di wilayah perkotaan berkurang drastis. Mestinya, sebelum pembangunan fasilitas tersebut, harus dilengkapi dengan Analisa Dampak Mengenai Lingkungan (Amdal), baik lingkungan sekitar maupun lalu lintasnya.

Timbul pertanyaan. Apakah tidak ada drainasenya atau drainasenya buntu? kenapa buntu? Apakah tersumbat sampah atau sengaja ditutup untuk kepentingan bangunan, atau sudah tidak ada lagi petugas yang mengontrol dam membersihakan drainase.

Atau Pemerentah memang sudah tutup mata dan telinga, sehingga tidak melihat dan mendengar bahwa beberapa daerah tersebut sudah bertahun-tahun menjadi langganan banjir setiap kali diguyur hujan deras, Jika dibiarkan samapai kapanpun banjir akan tetap menghantuai Kota Jember.

Untuk itu Pemerintah harus segera turun tangan, perbaiki sistim drainasenya, manfaatkan aliran sungai yang sudah ada sejak dulu, kalau belum ada, buat dranase baru.Tempatkan pengawas dan petugas kebersian drainase/sungai. Larang dan sangsi para pembuang sampah.

Yang sangat ironis sekali adalah banyak bangunan legal dan illegal yang berdiri dengan memanfaatkan drainase dan spadan sungai, bahkan ada yang sampai menutupinya. Namun tidak ada tindakan apapun dari dinas terkait. Untuk itu perlu keberanian dan ketegasan untuk menertibkannya.

Yang tidak kalah penting lagi adalah maraknya penambangan gumuk, yang seharusnya berfungsi menjaga ekosistem dan menyerap air ini semakin lama semakin habis, padahal dulu Kota Jember merupakan Kota Gumuk terbanyak sedunia, namun kini nasibnya sangat memprihatinkan, sudah banyak yang menjadi bangunan.

Untuk itu Jangan beri ijin para penambang Gumuk dan ijin bangunan di Drenase dan spandan sungai. Jika sudah berdiri, bongkar, jika keluar ijin, cabut. sangsi berat para investor dan masyarakat nakal, bahkan oknum pemberi ijin, agar dimasa mendatang banjir tidak lagi menghantui kota Jember lagi. (Eros: Berbagai sumber)

Berita Terkait Lingkungan

Tidak ada komentar: