"Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.", "Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.","Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72."
Custom Search

Selasa, 17 Maret 2015

Hanya RS Jember Klinik Yang Punya Pengolahan Limbah

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Beberapa Rumah Sakit (RS) di Jember belum memenuhi standar Pengolahan Limbah sesuai sesuai standart yang digariskan kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kebupaten Jember.

“Masih banyak Rumah Sakit yang belum memiliki mesin Insenerator (Alat pembakar), limbah Bahan Bebahaya dan Beracun (B3)”, Demikian disampaikan Kepala Kantor Lingkungan Hidup Titot Tri Laksono Sa’at ditemui di kantornya Selasa, (17/3)

Menurut Titot hanya RS Jember Klinik saja yang sudah memiliki alat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan alat Insenerator (pembakaran limbah bahan berbahaya dan beracun/B3). Sedangkan RS yang lain sampai saat ini masih belum memiliki “hanya melakukan MoU dengan pihak PU Cipta Karya” Tambahnya

Hal ini dibenarkan Direktur RS Jember Klinik dr Suratini MMRS, ketika ditemui diruang kerjanya, mengatakan bahwa RS milik PTPN X ini telah memiliki alat pengolah limbah sejak tahun 2000. Membangun IPAL dan Insenerator guna untuk mengejar akreditasi.

Memang tidak murah membangun peralatan tersebut. Menurutnya, tahun 2000 saja, harganya kisaran Rp 600-900 jutaan.“Kami disini tidak menghitung untung dan rugi. yang kami kami lakukan adalah menjaga lingkungan RSJK tetap terawat dan terjaga kesehatannya.” Jelasnya kepada awak media.

“jangan sampai RS itu merugikan masyarakat. Sebab air limbah ini bisa membahayakan masyarakat kalau tidak diolah dengan baik sesuai dengan standar aturan yang ada. Maka dari itu sejak tahun 2000, mau tidak mau RSJK harus punya alat tersebut,” tambahnya.

RS menurutnya pasti mempunyai limbah. Baik itu limbah media atau limbah non medis. Namun penangannanya harus ada proses secara khusus. Jika limbah non medis ada tempat sampah. “Kenapa di JK ini kami siapkan tempat sampah yang kecil, itu untuk memudahkan memungut sampahnya setiap harinya. Namun limbah medis ada cara khusus seperti IPAL untuk cairan dan untuk kaca, plastik atau jarum ada insenerator itu,” jelasnya kemabali.

Untuk mendapatkan proses yang sempurnya, diungkapkan oleh drg Dwi Lianasari, Kepala Divisi Pemasaran Dan Pengembangan Bisnis, bahwa pada pembakaran limbah bahan berbayaha dan beracun (B3) ini dipakai suhu 1200 derajat celcius.

“Itu adalah kesempurnaan dari proses insenerator tersebut. Jadi seperti kaca, plastik dan jarum akan menjadi abu. Memang alat itu mahal, tapi itu sangat dibutuhkan demi kepentingan umum,” ujar Lia panggilan akrabnya.

Dampak yang ditimbulkan dari limbah B3 itu sangat berbahaya, seperti limbah radiologi, infeksium yang berasal dari darah atau cairan tubuh manusia. Katanya semuanya harus ada pengolahan khusus. “Seperti infeksius pada jarum ada virus HIV, jika dipegang anak kecil maka anak tersebut dapat tertular HIV. Bisa saja hal semacam itu terjadi. Hepatitis juga bisa bisa,” tambahnya.

Disisi lain, Kepala Sub Divisi K3, Azis Kurniawan, mengajak awak media melihat secara langsung alat IPAL dan Insenerator yang dimiliki oleh RSJK. Azis menerangkan jika dua alat IPAL dan dua alat insenerator itu ada yang baru dan lama.

“Ini yang namanya IPAL. Jadi air limbah dari RS masuk dan keluar sudah menjadi air yang normal. Ini bisa dibuktikan dengan hidupnya ikan air tawar pada kolan tersebut. Jika ikan tersebut mati maka pengolahan limbah itu tidak sempurna. Sedangkan insenerator ini digunakan untuk membakar selama 4 jam untuk kapasitas 50 kg bahan limbah,” ucap Azis.

Menurut Azis, alat lama masih dioperasikan bergantian dengan yang baru. “Bukan hanya Puskesmas yang nitip, banyak juga klinik kesehatan. Lebih banyak klinik dari Puskesmas atau RS. Sebaiknya mereka punya sendiri, kalau Puskesmas memang harus nitip ke RS, sebab harganya yang mahal,” pungkasnya . (Edw)

Berita Terkait Kesehatan

Tidak ada komentar: