"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Tuesday, April 7, 2015

Menteri BUMN Targetkan Swasembada Gula 2019

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Ribuan petani tebu se pulau jawa Selasa siang (7/4),akhirnya bertemu Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Mariani Sumarno, di Padepokan Arum Sabil Tanggul Kabupaten Jember Jawa Timur.

Meski sempat molor 3 jam dari jadwal yang direncanakan, Menteri Rini dijadwalkan tiba di Jember pada pukul 09.00 tersebut namun baru nyamek di lokasi pukul 13.00. Pasalnya  gagal menggunakan transportasi helikopter lantaran cuaca buruk yang terjadi di Surabaya dan Jember.

Saat memberikan sambutan, Rini sempat menangis karena mengingat cerita Arum Sabil yang pada tahun 2001 lalu mendatangi kantornya, kala itu dia baru satu bulan menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Dikatakannya, gejolak pergulaan nasional yang terjadi pada 2001 memicu aksi unjuk rasa petani tebu dengan menumpahkan pohon tebu di depan kantornya, Di Jalan Gatotsubroto Jakarta, “Terus terang saya sedih karena kondisi sekarang hampir sama dengan tahun 2001, bahkan lebih berat,” katanya sembari terisak.

Saat ini, katanya, di Indonesia ada 11 perusahaan gula rafinasi yang telah berdiri. Selain itu, petani  juga dihadapkan pada Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dengan produk negara asing di kawasan Asean yang bisa keluar masuk dengan bebas, “kompetitor kita terbesar adalah Thailand yang biaya pokok produksi (BPP)-nya hanya Rp6.500/Kg dan itu sudah sudah sampai ke Indonesia," tuturnya.

Sebagai solusi, menteri di perusahaan plat merah itu akan melakukan revitalisasi pabrik gula agar lebih efisien dan ada jaminan rendemen tebu bagi petani, sekaligus dia meminta agar petani tetap bersemangat untuk tetap menanam tebu karena, “pada tahun 2019 nanti, kita harus swasembada gula,” paparnya yang disambut meriah oleh petani.

Menteri Rini sempat menjawab pertanyaan petani. Taufiq misalnya, petani asal Kabupaten Bondowoso, merasa pesimis swasembada gula terealisasi pada 2019 nanti, sebab menurutnya,”bagaimana bisa petani memenuhi target swasembada gula apabila tidak ada proteksi dan campur tangan dari pemerintah,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Munawar, petani tebu dari Provinsi Jawa Tengah ini meminta agar pemerintah dapat meningkatkan Harga Pokok Penjualan (HPP) gula petani minimal Rp. 9300/Kg sebab biaya pokok produksi (BPP) yang harus dikeluarkan oleh petani mencapai Rp. 9.000/Kg.

Menanggapi hal itu, menteri Rini menyampaikan dalam tahun ini pemerintah melalui kementeriannya telah menyediakan anggaran Rp. 3.5 Trilyun untuk revitalisasi pabrik gula agar dapat meningkatkan produksi dan rendemen tebu petani, ”kami juga akan mencoba melakukan terobosan dengan mengolah limbah, misalnya mengolah tetes tebu menjadi etanol agardapatmenjadi nilai tambah bagi petani,” terangnya.

Usai berdialog dengan petani, menteri Rini menutup agenda dengan menanam tebu secara simbolis di kebun milik Arum Sabil, “meski hujan, saya akan tetap menanam tebu sebagai simbol agar petani terus semangat mengembangkan produksinya,” pungkas Rini. (Yud/Indra).

Berita Terkait Pertanian

No comments: