"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Monday, 25 May 2015

Ratusan Nelayan Puger Tuntut Break Water Dibongkar

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Ratusan nelayan Puger Senin (25/5) menggelar demo di persimpangan jalan Dusun Krajan, Desa Puger Wetan. Meraka menuntut bangunan tambahan pemecah ombak (break water) di pantai pancer di bongkar.

Beragam spanduk mereka bentangkan sebagai tanda protes, diantaranya bertuliskan ‘selamat datang Diskanla (Dinas Kelautan dan Perikanan) Propinisi Jawa Timur’, serta ‘kembalikan posisi dan panjang breakwater seperti sedia kala’.

Aksi ini dilakukan nelayan, karena tersebar informasi bahwa petugas Diskanla Jawa Timur akan meninjau breakwater. Namun ternya kabar tersebut hanya kabar burung semata, terbukti sampai aksi selesai dilakukan, kunjungan tersebut tidak ada.

Menurut salah seorang nelayan, Samsul Arifin, penambahan panjang breakwater, dengan panjang total sekitar lima ratus meter yang dilakukan Diskanla Jawa Timur, bukan menjadi solusi pemecah besarnya ombak. Namun pemanjangan ini menjadikan ancaman bagi para nelayan.

“Selama enam bulan terakhir sejak pembangunan tersebut, terhitung sekitar 90 lebih nelayan yang hancur dan karam. Saat ini nelayan puger, tidak bisa melaut dengan maksimal, dan menyebabkan tidak adanya pendapatan,” katanya, kepada sejumlah wartawan, di sela-sela aksi.

Meski kabar adanya kunjungan Diskanla Jawa Timur itu tidak benar, para nelayan dan keluarganya terus menyuarakan aksi tuntut pembongkaran breakwater. “Tuntutan kami hanya satu, potong dan bongkar breakwater untuk dikembalikan seperti sedia kala,” ujar Imam Hambali, Ketua Forum Komunikasi Nelayan Puger.

Jika dibiarkan, sambung Hambali, akan banyak nelayan menganggur dan tidak mempunyai pendapatan, karena takut melaut. Bahkan, beberapa nelayan berganti profesi. “Kotak-kotak penyimpanan ikan yang biasanya penuh ikan, saat ini hanya tertumpuk kosong dan di biarkan di depan salah satu kios pengepul,” tutur dia.

Lebih lanjut Hambali menegaskan, tutuntan nelayan agar bangunan break water ini dibongkar, akan terus dilakukan para nelayan. “Karena nelayan saat ini takut untuk melaut, meski pun mulai bulan ini, hingga awal bulan juli nanti merupakan saatnya ikan melimpah,” tegasnya.

Tuntutan pembongkaran break water ini diawali, saat Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur, menambah bangunan sepanjang 200 meter, dari sekitar 400 meter. Paska dibangunnya tambahan bangunan itu, aktifitas nelayan menjadi terganggu. Sebab, break water ini di anggap biang perahu nelayan yang tergelam.

Selain sedimentasi (pendangkalan), break water penyebab tak menentunya arus gelombang laut. Sehingga nelayan dituntut kembali belajar tanda-tanda alam di pintu masuk, plawangan. Berdasarkan catatan Forum Nelayan Puger, 98 perahu karam hanya dalam waktu 6 bulan, paska break water tambahan selesai dibangun. (ruz).

Berita Terkait Pertanian

No comments: