"Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.", "Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.","Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72."
Custom Search

Kamis, 20 Agustus 2015

Harga Daging Ayam Naik, Para Pedagang Mengeluh

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Naiknya harga daging sapi di sejumlah wilayah di Indonesia, berdampak melonjaknya harga daging ayam potong. Di pasar tradisional Balung misalnya, naik dua ribu dari sebelumnya 30 ribu per kilogram.

Kenaikan ini terjadi sejak tanggal 17 Agustus kemarin.  Akibat kenaikan itu, sejumlah pedagang mengaku omzetnya turun drastis hingga lima puluh persen. Bahkan ada sebagian pedagang sejak pagi tanpa ada pembeli. “Sejak pagi tadi belum ada penglaris (pembeli) mas,” ucap Siti Aminah, seorang pedagang, Kamis (20/8) kemarin.

Meski begitu, Siti Aminah  mengaku tidak akan mogok jualan seperti para pedagang di kota-kota lainnya. “Ya tetap lah (berjualan), kalau hari ini belum laku mungkin besok-besok bias laku. Tergantung rejeki masing-masing,” ujarnya.

Agar tidak terus merugi, Aminah mengurangi jumlah dagangannya. Sisa dagangannya, di konsumsi sendiri agar nilai kerugiannya tidak semakin besar. “Karena untuk daging ayam yang belum terjual tidak bisa di simpan di kulkas. Pembeli tidak mau lagi, soalnya dianggap kurang segar. Jadi ya saya konsumsi sendiri,” tuturnya.

Hal yang sama dirasakan Trie Utami, salah seorang pedagang besar di pasar tersebut mengaku, omzetnya menurun lima puluh persen, itupun harus menunggu hingga sore hari. “Sebelum harga naik, saya mampu menjual daging ayam hingga 3 kwintal per hari. Sekarang hanya mampu menjual 1,5 kwintal saja,” katanya.

Menurut Utami, sebenarnya kenaikan harga daging ayam itu terjadi sejak bulan puasa lalu. Namun sampai sekarang harganya justru mengalami kenaikan terus. “Saat ini adalah harga tertinggi dari sebelumnya. Perkilogram harga jualnya Rp. 32 ribu. Padahal hari raya kemarin saja harganya hanya Rp. 25 ribu,” imbuhnya.

Kenaikan juga berdampak ke pedagang makanan. Menurut Ponijah, pedagang ayam goreng, keuntungannya menurun, sebab untuk menjaga pelanggan dan kwalitas masakannya, dirinya tidak mengurangi ukuran. “Harganya pun tetap tidak naik. Sehingga untung yang saya menjadi tipis,” urainya. (St1/ruz)

Berita Terkait Ekonomi Bisnis

Tidak ada komentar: