"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Saturday, 29 August 2015

Mahalnya Stand JFC 14 Dikeluhkan Para Pedagang

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Maraknya  JFC 14, tidak membawa berkah para pedagang busana muslim asal dari Kota Bandung Jawa Barat. Lantaran mahalnya stand, tak sebanding daya beli masyarakat yang masih rendah.

Padahal Pemerintah Kabupaten Jember sudah memberikan bantuan dana hibah untuk kegiatan JFC 14 ini sebesar 1 milyart rupiah. Semeistinya  dana hibah itu diperuntukan mendorong pertumbuhan perekonomian lokal, sehingga para pedanggang tidak harus membayar hingga jutaan rupiah.

Akibatnya para pedagang mengaku merugi, kelompok pedagang ini sebenarnya sudah sering berjualan beberapa even di kota-kota besar se Jawa - Bali. Kehadiranya ke Jember, setelah mendapat tawaran dari Event Organizer (EO), yang datang ke Bandung, untuk mengikuti pameran di Internasional Even Fashion di Jember.

Tetapi tidak semahal di Jember, “Masak mas, Stand dengan lebar 3x3 selama 5 hari harganya sampai 12 Juta. Meski sudah dapat potongan 25% menjadi 9 juta, terhitung masih terlalu mahal, karena tidak sesuai dengan penjualan, Saya kapok untuk mengikuti lagi” . keluh Nita Sabtu (29/8)

Padahal di daerah lain dengan ukuran yang sama, tidak lebih dari 6 jutaan. Meski pengunjung ramai, daya belinya masih rendah, “Terbukti harga diatas dua ratus saja jarang laku mas, untuk itu kami bersama teman akan pulang, walaupun masih kurang sehari“ tambah pedagang asal Desa Babakan Sari, Kecamatan Condong ini

Hal yang sama juga dikelukan oleh pedanggang Busana Nata Coleksion, Nuryatimah dari Jombang, dan pedagang boneka Andri dari Tulung Agung, Solby pedagang Kain Tenun Kapas Sutra dari Jepara.

Solby Pedagang Kain Kapas Sutra dari Jepara, “sebelum menempati lapak ia harus membayar terlebih dahulu, namun dari lima hari, tidak menutup modal yang sudah di keluarkan, apa lagi yang sudah membayar 12 juta, tidak kembali modal, tambah Solby kelompoknya sudah kapok tidak akan kembali” Pungkas Solby

Menurut Kepala Kantor Pariwisata, Sandi Suwardi Hasan, vantuan tersebut untuk kepentingan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan promosi. "Dana sebesar itu jika dibandingkan dengan Pemkab Banyuwangi untuk kepentingan promosi pariwisata jelas tidak ada apa-apanya," katanya.

Semengara anggota Fraksi Gerindra DPRD Jember, Siswono, menilai tidak ada konsef yang matang dalam pelaksanaan JFC, sebenarnya bantuan dana hibah itu diperuntukan mendorong perekonomian, seharusnya para pedanggang tidak harus membayar hingga jutaan rupiah apa lagi mengunakan fasilitas Negara.

Rakyat Jember yang seharusnya memiliki hak atas JFC justru tidak bisa menikmatinya. Sebab untuk melihat pertunjukan catwalk JFC harus membeli tiket masuk yang harganya dinilai tidak terjangkau masyarakat menengah ke bawah;, ujar Siswono

Informasi yang dihimpun media ini bahwa pelaksanaan World Class Fashion Carnival  Jember dirancang untuk kelas Internasional dan dikelola Event Organizer (EO) atao CEO ternama yaitu Imspiro, dengan menggandeng beberapa EO yang lain diantaranya Asia Even.

Ada beberapa pertimbangan menurut  CEO Inspiro, Ndang Mawardi, mengapa catwalk di daerah alun-alun dipasang pagar tertutup. Menurut Mawardi, pemasangan pagar tersebut merupakan bagian dari perbaikan kegiatan JFC yang sudah bertaraf internasional.

Faktor keamanan dan kenyamanan bagi penonton, termasuk para defile, menjadi salah satu pertimbangan., sebenarnya masyarakat tetap bisa kok menikmati talent dari JFC karena tidak seluruh catwalk sepanjang 3,6 kilometer dipasang pagar tertutup seperti di kawasan alun-alun. (Edw/eros)

Berita Terkait Ekonomi Bisnis

No comments: