"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Tuesday, September 8, 2015

Harga Terpuruk, Petani Tembakau Jember Ancam Boikot Pilkada

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Karena tak kunjung stabil dan diambang batas harga kewajaran, puluhan petani tembakau di kabupaten Jember Selasa (8/9). melakukan aksi bakar tembakau dan mengadu ke DPRD Jember.

Puluhan petani yang menamakan diri sebagai Perwakilan Petani Tembakau Jember, mengancam boikot pelaksanaan pemilukada. Ancaman itu akan diwujudkan jika wakil rakyat dan Pemerintah Kabupaten Jember tak peduli terhadap anjloknya harga tembakau yang menjadi tumpuan nasib mereka.

"Ini adalah sejarah terburuk dalam dunia pertembakauan di Jember. Apabila DPRD dan Pemkab Jember tidak segera menyelesaikan permasalah petani, maka kami akan boikot Pilkada," ujar Hendro Handoko, koordinator petani, seusai menemui anggota DPRD Jember di ruangan Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB).

Menurut Hendro, tuntutan petani cukup sederhana yakni tembakau dibeli dengan harga yang layak, sehingga tidak merugi. "Masak tembakau petani hanya dihargai Rp 100 ribu per kwintal, padahal biaya produksinya saja mencapai Rp 300 ribu per kwintal. Kami tak meminta dibeli dengan harga mahal, kami hanya meminta dibeli dengan harga layak, agar tak terus merugi," tegas dia.

Dikatakan Hendro, selama ini pihak pabrikan enggan membeli tembakau petani dengan alasan terpapar abu Gunung Raung. Padahal belum ada hasil penelitian yang menyebutkan tembakau petani terkontaminasi abu vulkanik. 

Sementara itu, Hafidi anggota FKB yang menemui perwakilan petani mencurigai jika abu Gunung Raung hanya menjadi alasan pihak pabrikan agar dapat membeli tembakau petani dengan harga murah. Padahal, selama ini belum ada hasil penelitian yang mengatakan abu vulkanik itu mempengaruhi kwalitas tembakau.

 "Jangan-jangan abu Gunung Raung hanya menjadi alasan saja, karena masih ada salah satu gudang (pabrikan) tembakau yang mau membeli tembakau petani," tudingnya.

Hafidi juga menilai jika Pemkab Jember lamban tangani persoalan tembakau, karena selama ini belum pernah ada MOU (kesepakatan) bersama antara Pemkab dengan pihak pabrikan soal pemasaran tembakau produksi petani.

 "Jika (Pemkab Jember) tak bisa menangani persoalan petani, ganti saja logo Jember (daun tembakau) menjadi buah durian," paparnya.

Setelah menemui anggota dewan, belasan petani tembakau itu kemudian bertandang ke Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Jember, untuk kembali menyampaikan aspirasi mereka. (midd)

Berita Terkait Pertanian

No comments: