"Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.", "Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.","Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72."
Custom Search

Selasa, 05 Mei 2015

Jalur Perahu Alami Penyempitan Di Break Water Puger

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Komisi B DPRD Selasa (5/5) sidak di pantai plawangan, Puger. Dewan menemukan sedimentasi pasir serta penyempitan jalur yang dilalui perahu nelayan paska dibangunannya brek water.

Ketua Komisi B DPRD Jember menduga pembangunan pemecah gelombang (Break Water) tambahan sekitar enam bulan yang lalu itu ada perhitungan yang salah. “saya menduga ada perhitungan yang salah dari pelaksana proyek, sehingga bangunan ini (break water) harus segera dibenahi,” ujar Bukri, Ketua Komisi B DPRD Jember

Politisi PDI Perjuangan ini mengatakan, seharusnya sebelum dilakukan pembangunan terlebih dahulu dilakukan kajian akademis mengenai manfaat dan dampaknya terhadap nelayan setempat, “karena yang membangunan ini adalah Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Jawa Timur, maka secepatnya kami akan menyampaikan temuan ini ke Pemprop dan DPRD Jawa Timur,” paparnya.

Budi Wicaksono, anggota DPRD Jember dari Partai Nasdem menuding, konsultan pelaksana proyek break water kurang jeli dalam mengkalkulasi masalah geo teknik. Semisal arus ombak dan besaran gelombang serta akibat yang ditimbulkan, “ini harus dihitung dan dikaji ulang,” jelasnya.

Sementara itu, sejumlah nelayan tampak mengiringi para wakil rakyat tersebut saat memantau dampak pembangunan break water. Mariyono, misalnya, nelayan asal Desa Puger Wetan ini mengatakan, nelayan setempat sangat dirugikan paska dibangunnya tambahan break water. Dikarenakan, posisi bangunan pemecah gelombang tersebut melintang ke arah kiri yang menyebabkan terjadinya pendangkalan jalur nelayan.

Tak hanya itu, hantaman gelombang dan ombak semakin besar karena adanya pendangkalan jalur yang meyebabkan sering terjadinya kecelakaan yang menenggelamkan puluhan perahu nelayan, “selama enam bulan ini, sekitar 74 perahu nelayan karam di area break water ini,” tuturnya.

Ketua Forum Nelayan Puger, Imam Hambali menuturkan, saat ini nelayan dipaksa harus kembali belajar tanda-tanda alam tentang kondisi laut. Sebab, beberapa tanda yang sebelumnya dipahami oleh nelayan berubah total paska pembangunan break water, “kami minta agar pemerintah segera membongkar bangunan break water ini, karena sangat merugikan nelayan,” tuntutnya. (ruz).

Berita Terkait Pertanian

Tidak ada komentar: