"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Sunday, September 6, 2015

KH. Muchit Muzadi Wafat, Nahdlatul Ulama Dan Indonesia Berduka

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Warga NU dan Bangsa Indonesia kembali berduka. Pasalnya telah kehilangan, satu-satunya tokoh besar, murid pendiri organisasi Islam terbesar di dunia yang tersisa, telah berpulang keharibaan Allah SWT.

Kiai kelahiran di Tuban Jawa Timur pada 1925, yang wafat di usia 90 tahun dan meninggalkan tujuh dari sembilan putra sembilan belas cucu dan satu cicit ini mempunyai keyakinan bahwa NU sebagai organsiasi yang lurus, bersifat memperbaiki dan mengayomi. Maka jika masuk NU semangatnya harus memperbaiki diri.

Semasa hidup, tokoh sepuh Nahdlatul Ulama  (NU) yang selalu berada dibalik layar ini dikenal dekat dengan Rais akbar NU, Hasyim Asy'ari, Ketika belajar di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.  Beliau tidak hanya belajar agama, tapi juga belajar berorganisasi. Karena itu, tahun 1941, saat usia muda ia telah menjadi anggota NU.

Kiai yang selalu berpenampilan sederhana juga dikenal dekat dengan semua kalangan terutama kepada kader muda NU ini merupakan konseptor ulung dan ideolog di balik berbagai kabijakan strategis NU dalam masalah keagamaan dan kebangsaan.

Pada saat KH Ahmad Siddiq menjadi Rais Am Syuriyah PBNU, Mbah Muchit dipercaya sebagai Sekretaris pribadi dan menjadi "dapur" dalam perumusan berbagai gagasan strategis NU dan bangsa, membuat rumusan konseptual mengengenai Aswaja.

Menuntaskan hubungan Islam dengan Negara dan mencari rumusan pembaruan pemikiran Islam, serta strategi pengembangan masyarakat NU. Salah satu yang fenomenal adalah Khittah Nahdliyyah dan hubungan NU dan politik, serta penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal.

Dengan dibantu Mbah Muchit, langkah Kiai Ahmad (panggilan KH Ahmad Shiddiq) mampu mengimbangi gerak pembaharuan Ketua Umum PBNU Almarhum KH Abdurrahman Wachid (Gus Dur), sehingga NU menjadi organisasi yang berperan besar dalam bidang keagamaan, kemasyarakatan termasuk kenegaraan. Sukses duet Gus Dur dan Kiai Ahmad ini tidak bisa lepas dari pikiran kreatif Mbah Muchit.

Untuk itu pernah Kiai yang pernah menjadi sekretaris Rais Aam NU KH Achmad Shiddiq pada tahun 1980-an serta menjadi mustasyar PBNU untuk beberapa periode ini, hampir seluruh hidupnya digunakan untuk memikirkan kepentingan umat. Ajaran pendiri NU mewarnai setiap sikap dan pesan yang disampaikan.

KH. Muchit Muzadi meninggal menjelang subuh sekitar jam 04.00 wib setelah dirawat selama 10 hari di RS Persada Malang. Setelah dishalatkan di Masjid Al-Hikam Malang, Jenazah kemudian diberangkatkan di kediamannya di Jalan Kalimantan Nomor. 4 Lingkungan Tegal Boto Lor, Kelurahan / Kecamatan Sumbersari, Jember yang  selama ini juga menjadi kediamannya

Suasana Dirumah Duka
Sekitar jam 09.00 pagi, ketika jenazah masih di Malang Suasana di rumah duka di Jember, sudah mulai terlihat ramai,  sebagian para pentakziah tampak membacakan ayat-ayat suci Alqur'an di masjid Sunan Kali Jogo yang lokasi bersebelahan dengan rumah duka.

Sejumlah santri tampak menyiapkan dan menulis batu nisan berwarna putih, dan tandu yang dipersiapkan itu berupa tandu biasa yang digunakan oleh warga kebanyakan. Tandu itu terbuat dari rangkaian pipa besi yang diberi alas papan kayu dan berwarna hijau.

Sejumlah perlengkapanpun serta tenda juga tampak ditata oleh kerabat dan pelayat. Tenda itu diletakkan di depan rumah duka hingga disebelah pojok selatan masjid Sunan Kali Jogo, Jalan Kalimantan, lingkungan Tegol Boto, Kecamatan Sumbersari, Jember.

Sejumlah petugas dari Polres Jember. Banser, beserta Satuan Pengamanan Universitas Negeri Jember terlihat berjaga di rumah duka. Para petugas itu juga turut membantu mengatur arus lalu lintas di Jalan Kalimantan tersebut.

Menurut salah seorang santri, Ahmad Taufiq, jenazah KH Muchid Muzadi akan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum KelurahanTegal Boto. "Rencanya nanti akan dimakamkan bersebelahan dengan Ibu Nyai di TPU, yang meninggal terlibih dulu," ujarnya.

Ribuan pelayat sudah memadati rumah duka, ketika Jenazah mbah Muchit tiba di Jember sekitar pukul 12.30 Wib, Sejumlah pejabat tampak hadir, diantaranya Bupati Jember, MZA Djalal, yang didampingi sejumlah pejabat, serta Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. KH.Syadid Jauhari,  KH. Lutfi dan sejumlah tokoh masyarakat lainnya.

Sekitar pukul 14.15 jenazah diberangkat ke Tempat Pemakaman Umum. Ribuan pentakziah pun ikut mengiringi kepergian Mbah Muchit ke tempat peristirahatan terkahirnya. jamaah penghantar mendengarkan sambutan dari keluarga yang diwakili putra tertua almarhum

Dalam sambutannya, putra sulung almarhum Mbah Muchit, Ahmad Jauhari, menyampaikan kepada para pentakziah agar mengihlaskan kepergian ayahnya. Selain itu, dia juga memohon maaf kepada seluruh pentakziah apabila ada kesalahan. "Ahirnya kami mohon atas nama keluarga mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan di hati bapak ibu sekalian," katanya.

Tiga Wasiat Mbah Muhid
Sesuai wasiat  beliau yang disampaikan Alfian putranya, KH. Muchit Muzadi minta dimakamkan di Jember di samping makam istri beliau Nyai Faidah yang lebih dahulu meninggal  enam  tahun yang lalu di usia (76) tepantnya pada tahun 2009

Meminta keluarga menghubungi Pengasuh Ponpes Tebu Ireng KH Salahudin Wahid agar diberitahukan atas kematiannya . "Kami diminta memberitahu keluarga Gus Salahudin Wahid (Gus Shola) karena bapak merupakan murid Hadratusyeih KH Hasyim Asy'arie," lanjutnya. Kiai Muchit disebut murid langsung Kiai Hasyim yang tersisa.

Dan ketiga meminta tiga orang memakmurkan Masjid Sunan Kalijaga. Pesan itu disampaikan anak sulung Mbah Muchit, Ahmad Jauhari saat berpidato menjelang pemakaman, "Meminta Pak Hamid, Pak Munir, dan Pak Afandi memakmurkan Masjid Sunan Kalijaga," ujar Ahmad.

Sekitar pukul 14.30 wib diiringi tangis kesedihan Jenazah KH. Muchit Muzadi yang lahir 4 Desember 1925 Dimakamkan di pemakaman keluarga samping rumahnya.

Sepak Terjang Mbah Mukhid Di Jember
Semasa hidupnya, mendiang dikenal teguh memegang dan menyebarkan ajaran KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. "Bapak itu ke Jember sekitar tahun 1965, membantu mengajar mengikuti almarhum KH Dhofir Sidiq,",

Ulama kelahiran Kecamatan Bangilan, Tuban, 4 Desember 1925 itu kemudian merantau ke Jember dan aktif untuk menyebarkan ajaran Hasyim Asy’ari. Di manapun berada, mendiang selalu menyebarkan nilai-nilai NU. Di Jember, mendiang getol merintis pendidikan formal. Alfian mengingat, almarhum sempat dipercaya ikut mengurus lahirnya IAIN Jember dan MAN 1 Jember.

Selain itu, mendiang juga aktif mengajar tentang Aswaja, dan ke NU-an di Pondok Pesantren As Sidhiqqi Putri di Talangsari, Jember bersama Halim Siddiq. Di sana, mendiang tetap aktif mengajar bahkan hingga masa pensiun "Bapak sangat fokus pada pendidikan dan ke NU-an," katanya.

Ajaran pendiri NU mewarnai setiap sikap dan pesan yang disampaikan oleh mendiang. Beliau dikenal dekat dengan Rais Akbar NU, Hasyim Asy'ari, ketika mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Selama menetap di Jember,  pernah menjadi sekretaris Rais Aam NU Achmad Shiddiq pada tahun 1980-an serta menjadi mustasyar PBNU untuk beberapa periode.

Di Jember pula, mendiang kehilangan istrinya dan dua anak dari sembilan buah hatinya. Mereka telah berpulang mendahului almarhum. "Ada sembilan bersaudara, sekarang tinggal 7, dua kakak saya sudah meninggal dunia. Pesan terakhir bapak hanya minta didoakan agar khusnul khotimah." kenang Alfian Futuhul Hadi, putra bungsu KH Muchit Muzaid.


Pendapat Para Tokoh dan Kaum Muda NU
Rektor IAIN Jember Prof DR H.Babun Suharto SE,MM, “Almarhum bukan saja tokoh lokal  namun juga maerupakan tokoh nasional, pemikiran yang berlian dan tingkah laku beliau perlu ditauladani, tokoh yang konsen didalam pendidikan dan juga yang selalu menjaga Walsunah wal jamaah, serta sebagai pendiri di IAIN Jember

Bupati MZA Jalal menyampaikan” Tidak sekedar tokoh ulama juga sebagai sososk pejuang, kemaslhatan masyarakat, pemerintahan , kenegarawanan, dan kehidupanya sangat sederhana sekali, tidak menunjukan ketokohanya, tapi tetap bergaul dengan masyarakat bawah, duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, sangat terkesan dengan kesederhanan yang tidak mau dipuja” Ungkapnya

Atas nama bupati Jember merasa kehilangan, dan bisa mencontoh kesedehanaanya serta keilmualnya, persahabatan yang ia contohkan bisa saling memberi dan menerima, yang terkesan baliau tidak pernah membuat musuh, semuanya bisa dirangkul mulai kalangan muda hingga dewasa, serta tokah yang langka” Jelas Jalal

Sementara Bupati Anwar Anas “ Sosok yang luar biasa, Kiyai yang dukumentatip, medukumenkan perestiwa sejarah yang baik, dan seorang kyai yang bisa mengayomi kaum muda, serta mendorong untuk berkarya, tokoh yang sangat bersahaja dan sederhana “ Pungkasnya 

Sedangkan Kaum Muda NU Cabang Jember merasakan duka yang sangat mendalam, atas meninggalnya Ky Mukhit, Pasalnya Beliau sangat perhatian sekali pada Kaum muda NU,  Meskipun kondisinya saat itu sedang sakit, pasti akan menyempatkan datang setiap kegiatan yang dilaksanakan IPNU-IPPNU, PMII Fatayat dan GP Ansor.

Hal ini dirasakan  Masdian, ketika mengadakan Sekolah Kader yang di inisiasi Fatayat. Bagaimnapun kondisi beliau, mulai dari bertongkat, hingga kursi roda, beliau selalu hadir dengan senyum lebarnya.

“Beliau pernah dawuh, bahwa lebih seneng diundang yang muda, seperti fatayat, ansor, IPNU, IPPNU, Dan PMII, daripada bapak bapak NU, karena masa aktif kaum muda lebih panjang dan lama, Beda dengan NU yang sudah sama sepuh.” Kenang Masdian

Menurut Masdian, hal-hal sangat perlu dilanjutkan dan diteladani adalah semangat perjuanganya, sangat menginspirasi kami, kaum muda NU. Berangkat dari itu, kami jadikan koreksi diri, sekarang kader itu ngalem, capek dikit- ngeluh, beda pendapat- marah, ide tidak diterima-ngambul.  Pesan kami kepada kaum muda NU, Ayo Move on! Kita lanjutkan semangat 'Sang Mutiara' sebagai santri di pesantren besar, NU.  

Hal senada juga disampaikan Kader Muda NU Cabang Kencong Kabupaten Jember, Khoerush Sholeh. Menurut  Khoerus , Kiai Mukhit Muzadi adalah sosok tokoh yang sangat perhatian kepada kadernya, pasalnya meski umurnya yang sudah udzur, ketika bertemu wajahnya tampak senang, rasa sakitnya seakan terobati dan sembuh seketika.

Kehadirannya mengisyaratkan, ada harapan besar dipundak  kader muda NU, keberlangsungan Nahdlatul Ulama dan bangsa Indonesia di titipkan. Selamat tinggal mbah Nyai, Mudah-mudahan harapan dan kepercayaanmu dapat kami lanjutkan.  (*)

Berita Terkait Sosial Budaya

No comments: