"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Tuesday, September 8, 2015

Mari Belajar Mengaji Alquran Dengan Asyik

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com.  Anak-anak mendongakkan wajah ke langit, sekumpulan mendung berjajar rapi seolah akan hujan. Petang itu, belasan bocah dan tiga orang dewasa bersila membentuk lingkaram.

Beralas tikar di atas paving beton, disebelah belukar liar, diantara bangunan ujung utara sebuah perumahan. “Bismillahir rahmaanir raahim, alhamdulillahirabbil ‘aalamin,” demikian kalimat pembuka yang disampaikan Devi Aulia Rohim, seorang penggagas rumah belajar, bermain dan mengaji yang dia sebut Rumah BBM Al-Fath.

Devi, begitu dia disapa, bersama sang suami, Beny Eko Rahmatullah, mendirikan Rumah BBM di Perumahan Bumi Tegal Besar (BTB) Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, sejak empat bulan terakhir. Ide awalnya, mereka ingin agar stigma belajar mengaji yang dianggap membosankan hilang dan menjadi sebuah proses belajar yang menyenangkan.

“Konsep awalnya adalah bagaimana anak-anak itu dapat mengaji dengan cara yang asyik dan menyenangkan. Disini, kami berusaha menghapus stigma membosankan itu dan mencoba membuat anak-anak ceria ketika berangkat mengaji,” urai Devi, seusai menemani anak-anak itu belajar, Selasa (8/9).

Devi dan sang suami dibantu dua orang relawan yang turut mendampingi anak-anak mengaji. Keduanya adalah Zaenal Muhlisin serta Dian, yang tinggal tak jauh dari Rumah BBM itu. “Semuanya ada 25 anak yang kami bagi dalam tiga kelompok belajar. Pertama kelompok usia balita, kelompok usia 6 – 8 tahun dan kelompok 8 tahun keatas,” terang Devi.

Menurutnya, pola yang diterapkan dalam proses pembelajaran adalah pola pendidikan keluarga. Sehingga dalam penyebutan istilah ustadz dan ustadzah dibumbui sebutan keluarga seperti ‘om’ dan ‘tante’. “Sebenarnya sebutan ustadz dan ustadzah terlalu berat bagi kami, dan itu membuat jarak dengan anak-anak. Sehingga kami menambahi sebutan lain menjadi om ustadz dan tante ustadzah,” kata dia.

Belajar mengaji di Rumah BBM tak melulu tentang baca tulis huruf arab. Disini anak-anak juga diperkenalkan dengan kegiatan lain, seperti menggambar, bernyanyi, serta berpuisi. Sesekali anak-anak juga diajak belajar diluar ruangan, ditempat terbuka diujung perumahan BTB. “Tergantung kondisi anak-anak, kadang seminggu sekali atau dua kali mereka kami ajak belajar diluar ruangan,” jelas Devi.

Menempati sebuah rumah tipe 42 blok DJ perumahan BTB, bangunan berpagar itu ditata sedemikian rupa. Ada papan tulis, lafadz-lafadz berhuruf arab, dan sejumlah kalimat motivasi yang ditempel di dinding. dibagian belakang ruangan tersedia rak buku yang biasanya menjadi tempat membaca anak-anak usai mengaji. Sejumlah mainan juga disediakan untuk mengusir kepenatan anak paska belajar.

Zaenal Muhlisin, salah seorang relawan Rumah BBM mengatakan, tak ada pungutan biaya kepada anak-anak yang belajar di Rumah BBM, pun tak ada kewajiban mereka berangkat setiap hari. Meski begitu, hampir semua anak aktif berangkat setiap hari. “Disini belajarnya mulai hari Senin hingga Jum’at. Kadang ya ada satu dua anak yang tidak berangkat, itupun karena mereka tertidur,” ungkapnya.

Alumnus Fakultas Agama Islam Universitas Islam Jember itu mengaku, pada mulanya ada kesulitan yang dia alami saat melakukan komunikasi dengan anak-anak. Sehingga dia butuh kembali belajar dan menyelami dunia anak, hal itu dilakukan agar dirinya mampu memahami setiap individu. “Setelah mampu memahami karakter setiap anak, saya kira tak ada pelajaran yang sulit untuk anak,” ucapnya.

Tahun depan, Rumah BBM ini bermimpi untuk membuat program tahfidzul quran yang mereka sebut Rumah Tahfidz. “Mimpi kami, tahun depan sudah berdiri Rumah Tahfidz. Jadi kami juga ingin ‘membumikan’ al-qur’an juga dengan cara yang menyenangkan,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait Sosial Budaya

No comments: