"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Thursday, September 10, 2015

Nikmatnya Citarasa ‘Koplak’ Kopi Biji Salak

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Kopi merupakan minuman yang tidak dapat dipisahkan dengan lidah Bangsa Indonesia, seperti minuman teh di Cina. Tua, muda dan remaja seakan tak lengkap jika masih belum menyeduh kopi.

Kopi sudah menjadi salah satu minuman paling populer di dunia yang dikonsumsi oleh berbagai kalangan masyarakat. Di samping rasa dan aromanya yang menarik, kopi juga dapat menurunkan risiko terkena penyakit kangker, diabetes, batu empedu dan berbagai penyakit jantung.  (kardiovaskuler).

Termasuk di Indonesia,  meminum kopi sudah menjadi tradisi sejak nenek moyang kita. Mulai dari warung-warung pinggir jalan, hingga ke kafe, restauran dan hotel berbintang, termasuk dirumah – rumah dipastikan  menyimpan minuman berwarna hitam pekat ini, bahkan saat akan ketemu kolega menyebutnya dengan istilah kopi darat.

Kopi adalah sejenis minuman yang berasal dari proses pengolahan dan ekstraksi biji tanaman kopi yang dikeringkan kemudian dihaluskan menjadi bubuk. Secara umum, terdapat dua jenis biji kopi, yaitu arabika (kualitas terbaik) dan robusta.

Lantas bagaimana jika bubuk kopi berasal dari dari biji salak?  Salak atau Salacca zalacca sejenis palma yang buahnya biasa dimakan. Di Indonesia terdapat sekitar 20 sampai 30 spesies salak. Selama ini, sebagian besar masyarakat hanya mengkonsumsi daging buahnya saja, seperti keripik atau dodol. Jarang orang yang memanfaatkan bagian lain dari buah salak, seperti bijinya.

Di Dusun Semboro Lor, Desa/Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember, ada tangan kreatif seorang pemuda yang mampu merubah biji salak menjadi olahan minuman yang disebut ‘Koplak’ alias kopi salak.  Adalah Bustomi, mahasiswa semester ahir Universitas Muhammadiyah Jember.

Bersama keluarganya merubah limbah biji salak menjadi bubuk mirip kopi. “Usaha kopi biji salak alias ‘Koplak ini saya dirikan secara resmi sejak awal Januari 2015 lalu. Namun, saya mulai mencoba-coba sekitar bulan November 2015,” kata Bustomi, saat ditemui dirumahnya, Kamis (10/9).

Bustomi sengaja mamilih kata ‘Koplak’ sebagai merek. Karena, selain menjadi akronim kopi salak, kata itu juga mudah diingat oleh konsumen. “Biar mudah diingat saja,” ujarnya singkat.

Dalam Bahasa Jawa, secara harfiah koplak adalah sesuatu yang tidak penuh. Sedangkan pengertian kiasannya adalah manusia yang bodoh tapi banyak omong atau juga anak yang lucu serta ‘gokil’. Meski begitu, kata ‘Koplak’ menjadi cukup unik ketika menjadi merek sebuah produk.

Menurut Bustomi, dalam satu bulan dirinya mampu menjual sekitar 150 kotak karton. Setiap karton isinya 150 gram. “Untuk pemasarannya, biasanya melalui Outlet oleh-oleh khas Jember, yang banyak berdiri di kota kabupaten,” ujarnya.

Selain itu, eterpreneur muda ini juga memasarkan lewat media sosial dan online. Meski diakuinya jumlah permintaannya tidak sebanyak yang dijual melalui Outlet. “Untuk online biasanya konsumen yang jauh, kemarin ada yang dari Jakarta dan Nusa Tenggara Barat. Saya menggunakan jasa titipan barang untuk mengantarkan pesanan itu,” terang Bustomi.

Dikatakannya, proses pembuatan ‘Koplak’ tergolong mudah. Karena semua alat yang digunakan masih manual dan tradisonal. Pertaman, biji salak dibersihkan dahulu, baru kemudian dipotong kecil-kecil menggunakan pisau besar yang telah dimodifikasi mirip alat pemotong kertas.

Irisan biji salak itu kemudian dijemur dibawah terik matahari hingga satu minggu atau telah kering. “Pernah saya menggunakan oven untuk mengeringkan biji salak, tapi ternyata merubah aroma dan cita rasanya,” tuturnya.

Selanjutnya, setelah dinyatakan kering, biji salak itu disangrai selama 15 menit menggunakan kuali tanah yang oleh masyarakat setempat disebut ‘kendil’. Setiap kali sangrai Bustomi menakarnya sebanyak 7 ons. “Sebab jika lebih dari 7 ons, matangnya lama. Meski tak mempengaruhi aroma dan rasa,” ujar dia.

Setelah dicicipi, ‘Koplak’ memang cukup unik. Ada aroma jambu muda saat dihirup. Selain itu, rasanya juga berbeda dengan kopi biasa, ada rasa seperti usai memakan salak muda setelah ‘koplak’ melewati tenggorokan. Biasanya bubuk kopi salak dicampur gula aren, bukan gula putih. “Koplak akan lebih nikmat bila dicampur madu,” papar Bustomi.

Selain di Kabupaten Jember Jawa Timur, bubuk kopi dari biji salak ini ditemukan di daerah Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, juga di daerah Sleman Jogjakarta. Bagi para penikmatnya, kopi salak dipercaya meringankan hipertensi, asam urat dan diare. (ruz)

Berita Terkait Industri

No comments: