"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Monday, October 12, 2015

Intervensi Jurnalis, Puluhan Wartawan Demo Kapolres Jember

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Puluhan jurnalis Senin (12/10) gelar aksi di Mapolres Jember. Wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Jember ini memprotes Kapolres yang dinilai intervensi tugas jurnalis.

Wartawan dari, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Ikatan Jurnalis Telivisi Indonesia (IJTI), Jember Soulth Journalist (JSJ) dan Forum Wartawan Lintas Media (FWLM) Jember ini menolak keras intervensi yang dilakukan Kapolres Jember kepada wartawan, 


Sambil membawa atribut bertuliskan protes kepada Kapolres Jember, sejumlah wartawan juga melakukan aksi orasi dan tabur bunga sebagai simbul matinya kebebebasan pers khususnya di kabupaten Jember Jawa Timur.

Aksi tersebut buntut larangan dan teguran keras Kapolres Jember AKBP Sabilul Alif, kepada wartawati Surya Sri Wahyunik lantaran mengajukan pertanyaan kepada Kapolri Jendral Polisi Badrotin Haiti tentang tindak lanjut kasus penganiayaan dan pembunuhan sadis dua aktivis tolak tambang pasir besi di Selok Awar-awar.

Larangan wawancarai perkembangan kasus pembunuhan aktivis lingkungan ini disampaikan Kapolres Sabtu (10/10) ketika sejumlah wartawan menunggu, hendak mewawancarai Kapolri yang sedang mengunjungi tempat beliau pernah mengencam pendidikan di Ponpes Baitul Arqom Kecamatan Balung Jember Jawa Timur.

Setelah Kapolri selesai memberi sambutan, pada sesi wawancara, sejumlah wartawan tetap mempertanyakan perkembangan penanganan kasus tambang pasir di pesisir, yang sebelumnya juga sempat disinggung oleh Kapolri saat berbicara di podium.

Setelah Kapolri turun dari pentas, Sri Wahyuni dipanggil Kapolres di depan rumah pengasuh ponpes. Disitulah Kapolres dengan nada tinggi menegur wartawati harian Surya ini. Sebenarnya, tak hanya Sri Wahyuni yang menanyakan, melainkan ada beberapa wartawan lain yang turut bertanya.

“Banyak wartawan yang tau, teguran kapolres dengan nada tinggi di hadapan masyarakat, ini sama dengan melecehkan profesi wartawan, apalagi tegurannya hanya karena melakukan wawancara terkait perkembangan kasus tambang besi yang menewaskan Salim Kancil di Lumajang, oleh karena itu kami melakukan solidaritas memprotes sikap Kapolres,” ujar Bambang Sugiharto wartawan Jember 1 TV.

Sikap Kapolres ini merupakan bentuk intervensi terhadap jurnalis, kami tidak mau di dikte dan dikebiri hanya untuk membuat ABS (Asal Bapak Senang_red), kami berhak mengajukan wawancara dan pertanyaan apapun kepada sumber berita terlebih kepada seorang Kapolri dengan pertanyaan yang saat ini menjadi isu nasional,” lanjut Bambang.

Wartawan menanyakan kasus tersebut, menurut ketua FWLM, Ihya Ulumiddin dikarenakan di Jember sendiri banyak tambang dan rawan terjadi konflik baik tambang pasir besi di di pesisir pantai Paseban Kencong, Kepanjuen Gumukmas serta Mojomulyo dan Mojosari Puger maupun tambang emas di Gunung Manggar kecamatan Wuluhan dan hutan di kecamatan Silo,

Bahkan menurut Udik panggilan akrab wartawan harian Memo Arema ini, di pesisir Paseban Kencong yang rencananya akan dijadikan tambang pasir besi beberapa kali pernah terjadi kisruh, yang berakibat puluhan warta tolak tambang diamankan Polres Jember, sehingga dirinya menganggap wajar jika wartawan menanyakan kasus tersebut.

Untuk itu Rully mengecam tindakan Kapolres Jember. menurut wartawan Radar Jember ini tidak selayaknya hal itu diucapkan kepada wartawan apalagi wartawan sedang melaksanakan tugas jurnalistik.“Kapolres  Jember telah berani mengitervensi wartawan, ini tidak selayaknya diucapkan oleh seorang Kapolres pelayan masyarakat.” Tegas Rully.

Tak kalah juga Mahrus sholih wartawan harian online Jember times  juga lantang menyerukan bahwa jurnalis jember sudah mulai di intrervensi oleh aparat, padahal dalam tugasnya wartawan independent  dan dilindungi undang-undang saat melaksanakan tugas jurnalistik.”Kapolres seharusnya tidak seperti itu.” Tegas Mahrus.

Hal senada juga disampaikan Sri Wahyunik. Menurutnya tindakan ini merupakan upaya mendikte terhadap wartawan. “Tindakan Kapolres Sabtu kemarin merupakan upaya mendikte terhadap jurnalis,” katanya. Sri Wahyunik juga menegaskan adanya sanksi pidana bagi seseorang yang sengaja melakukan upaya menghalangi kerja jurnalis, sebagaimana diatur dalam undang-undang pers. tegasnya

Dalam memperoleh informasi, jurnalis memiliki hak untuk memilih narasumber yang layak sesuai dengan materi berita dan sudut pandang yang diberikan. “Jurnalis memiliki hak dalam menetukan narasumber apalagi Kapolri adalah Commander in Chief di tubuh Polri, jadi sangat layak sebagai sumber berita,” tegas dia.

Lebih lanjut Yuni menyampaikan bahwa kejadian serupa dia alami bukan hanya kali ini tapi sudah berulangkali,” Kami mengalami seperti ini bukan hanya sekali ini, kami mencoba untuk bersabar, terimakasih kepada rekan-rekan yang sudah ikut aksi mendukung kebebasan jurnalis khususnya  di Jember.”terang Yuni kepada sejumlah awak media.

Namun sayang, aksi unjuk rasa ini tidak ditemui langsung oleh Kapolres, sehingga wartawan sempat kecewa. Wartawan menyatakan sikap mengecam keras sikap Kapolres jember dan akan melaporkan tindakan tersebut kepada Kapolri, Komisi III DPR RI dan Kompolnas agar ditindak serta meminta keberadaan tambang di Jember untuk ditutup.

Aksi kemudian dilanjutkan dengan tabur bunga,  Lantunan tahlil mengiringi prosesi tabur bunga dan sejumlah poster tuntutan serta kartu pers yang diletakkan diatas tubuh wartawan yang tergeletak itu. “Ini adalah simbol matinya kebebasan pers di Jember,” pekiksalah seorang jurnalis Radar Jember.

Penyerahan pernyataan sikap dari Aliansi Jurnalis Jember mengakhiri rankaian aksi, kepada kapolres yang diterima oleh Kepala Sub Bagian Humas Polres Jember, Ajun Komisaris Polisi Dono Sugiharto, di halaman Mapolres setempat. Kepada wartawan, AKP Dono berjanji akan menyampaikan surat peryataan tersebut kepada pimpinannya. “Iya, nanti saya sampaiakan kepada kapolres,” ujarnya, singkat.

Sepanjang pelaksanaan aksi, Kapolres Jember tak terlihat menemui para demonstran, hanya sejumlah perwira dan anggota yang terlihat mengamankan jalannya aksi. Setelah menyerahkan pernyataan sikap. puluhan wartawan kemudian membubarkan diri dengan tertib. (Eros/Ruz/midd/edw/yond/rud)

Berita Terkait Politik dan Hukum

No comments: