"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Monday, October 26, 2015

Pria Ini Pantang Menyerah, Meski Separuh Wajahnya Tertutup Tumor

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Sosok pria tampak santai duduk dibawah pohon, seolah tak ada beban dalam hidupnya. Meski tumor sebesar kepala menggantung dipipinya. Baginya itu bagian perjalanan hidup.

Semenjak lahir, benjolan itu sudah ada seperti tanda, kemudian membesar seiring bertambahnya usia. Namanya Julianto, bicaranya renyah, pemuda jangkung itu menutupi separuh wajahnya dengan rambut, sebagian lagi ia biarkan terbuka. Sesekali ia menyibak rambutnya yang dibiarkan terurai.

Akibat benjolan itu penglihatan, mata kirinya tak berfungsi dengan baik. “Sudah 24 tahun saya mengidap tumor di wajah. awalnya kecil, namun semakin membersar seiring dengan bertambahnya umur saya,” Demikian kata Julianto, mengawali pembicaraan ketika sejumlah wartawan mempertanyakan kondisinya, Senin (26/10).

Meski demikian, pemuda yang tinggal di Lingkungan Baratan Timur Kelurahan Baratan Kecamatan Patrang itu tidak putus asa, untuk menyembuhkan penyakitnya,dia tetap berusaha agar mendapat pengobatan medis. Upaya itu ia lakukan sejak tiga tahun terkahir.

Karena kondisi ekonominya yang pas-pasan, usaha agar dapat dioperasi masih belum kesampean. “Sebenarnya sudah beberapa kali ada orang yang menawarkan bantuan untuk diobati secara gratis, meski sebagian besar diantaranya hanya sebatas janji,” terangnya.

Saat ini, anak ketiga dari pasangan Asmuji dan Yatiningsih itu hanya bisa pasrah dengan keadaannya. Bagi dia, kesembuhan merupakan rahasia Tuhan. “Ingin sembuh pasti, tapi itu apa katanya yang di atas (Tuhan), yang penting saya sudah berusaha, dan bersedia untuk dioperasi,” ujarnya.

Pernah Dijanjikan Parpol
Setahun yang lalu, ada sebuah rumah sakit swasta yang berusaha membantu dengan operasi gratis. Namun karena tumor diwajahnya cukup besar, tim medis harus berhati-hati untuk mengambil tindakan, harus ada langkah pemeriksaan awal sebelum dirinya dibawa ke meja operasi.

“Beberapa kali saya diperiksa, ada sekitar lima dokter ahli yang terlibat. Menurut para dokter, tumor saya ini sudah menyatu dengan gen. Namun sampai sekarang saya masih disuruh nunggu panggilan mengenai kepastian waktu operasinya,” ceritanya.

Suatu kali celaka menimpanya, sebuah paku merobek benjolan seukuran kepala orang dewasa itu. Pemuda 24 tahun itu bertahan, sampai kemudian juragan yang mempekerjakannya membawanya ke rumah sakit, namun hanya untuk menjahit luka serta mengobatinya.

“Sekitar dua bulan yang lalu, dia (Julianto) terkena paku saat bekerja. Benjolan di pipinya robek, dan sempat mendapat jahitan di rumah sakit swasta di Jember,” kata Wiyono, tetangga yang mempekerjakan Julianto di bengkel ketok megic.

Sempat ada partai politik yang menawarkan akan dioperasi yang disampaikan oleh pengurus partai itu. “Ada dua partai politik yang pernah menjanjikan pengobatan gratis. Katanya dua bulan akan dioperasi. Namun setelah berbagai persyaratan administrasi selesai diurus, janji itu tak pernah terbukti,” terangnya.

Tak hanya sekali, sejumlah orang yang menawarkan operasi gratis. “Saya hanya kasihan melihat Julianto yang harus wira-wiri ngurus administrasi. Padahal setiap kali mengurus surat dia harus meniggalkan pekerjaan dan kehilangan uang untuk transportasi,” ucap Wiyono.

Meski mengidap tumor, sambung Wiyono, Julianto tergolong anak yang tekun bekerja. Setiap hari dia selalu datang untuk membantunya menyelesaikan repasarasi body mobil.  “Sudah tiga tahun ini dia membantu saya di bengkel ketok megic. Dia cukup rajin dalam bekerja,” ucapnya.

Sebagaimana keluarga Julianto, Wiyono juga berharap ada seorang dermawan yang siap membantu pengobatannya hingga sembuh. Asal, tak melulu janji, seperti dua partai politik yang sempat memberinya harapan namun tak terbukti.

Tak Pernah Menyerah
Meski benjolan tersebut mengakibatkan alisnya terseret, mengikuti pembengkakan di pipi, rambut yang tumbuh di janggut pun tak lagi teratur, sebagian terlihat subur pada kulit wajah yang mengendur. Pemuda pengidap tumor wajah di Jember ini tak pernah menyerah dengan kondisinya.

“Setamat SMP, saya bekerja sebagai loper tembak (Loptem) di salah satu koran harian lokal. Saat itu, tumor yang ada di wajah sebelah kiri saya masih sekepalan tangan,” katanya, yang juga menjelaskan dirinya lebih memilih bekerja dari pada melanjutkan sekolah.

Selama dua tahun menekuni pekerjaan loptem baru kemudian Julianto pindah ke sebuah depot. Pekerjaannya di warung makan tak bertahan lama, hanya bertahan selama tiga bulan. “Setelah itu saya menjadi kuli bangunan, dan terakhir menjadi pekerja di bengkel ketok megic milik Pak Wiyono,” tuturnya.

Semua pekerjaan itu mesti dia lakoni untuk bertahan hidup. Meski beberapa kali dia harus celaka karena tak maksimalnya fungsi penglihatan. Saking besarnya, tumor itu menutupi mata sebelah kanan, hingga harus menoleh untuk melihat ke arah kanan.

Ditanya soal pendapatan, pria empat saudara itu enggan membuka. Baginya, yang penting menghasilkan uang untuk makan. Putra ketiga pasangan Asmuji dan Yatiningsih ini mengaku tak lagi menghiraukan keberadaan benjolan itu. Meski diawal-awal dirasanya begitu mengganggu. “Enngak, sekarang sudah biasa kok,” jawabnya.

Wiyono, tetangga yang mempekerjakan Julianto mengatakan, meski menderita tumor yang menutupi separuh wajahnya, Julianto tak pernah merasa minder sekalipun. “Dia termasuk anak yang percaya diri. Terlihat biasa saja, seolah tak memiliki penyakit apa-apa,” terangnya.

Menurut Wiyono, pemuda ini cukup simple dalam menjalani hidup. Pernah suatu ketika dirinya menanyai Julianto tentang penyakitnya itu. Namun, jawabannya sangat mengejutkan, diluar perkiraannya. “Sempat saya tanya soal tumornya itu, tapi jawabnya nggak usah dipikir mending dibuat kerja saja biar dapat uang,” ceritanya. (Ruz)

Berita Terkait Kesehatan

No comments: