"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Saturday, November 14, 2015

Anak-anak SD Antusias Ikuti Simulasi Pemungutan Suara

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Pemandangan unik tampak di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gunug Malang 3 kecamatan Sumberjambe, Sabtu (14/11). Sekitar jam 08.00 WIB, anak-anak terlihat melakukan pemungutan suara, layaknya pemilihan Kepala Daerah.

Ada beberapa siswa yang menjadi petugas pemungutan suara dengan memakai kalung bertuliskan ‘KPPS’ (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara). Sisanya menjadi peserta pemungutan suara. Kegiatan tersebut merupakan simulasi pemungutan suara.

 “Saya mengikutsertakan diri menjadi relawan untuk mengisi kelas inspirasi, di Dusun Ajung Babi, Desa Gunung Malang, Kecamatan Sumberjambe,” kata Hanafi. Divisi Sosialisasi dan Hubungan Antar Lembaga Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Jember, Ahmad Hanafi. Sabtu, (14/11)

Kelas inspirasi ini merupakan program Nasional untuk memberikan pengetahuan baru yang menginspirasi kepada siswa dan siswi di seluruh Indonesia. “Kebetulan, saya mempunyai ide untuk memperkenalkan dan memaparkan tentang penyelenggara pemilu berikut tugasnya,” ujar Hanafi.

Dia pun mensimulasikan kepada siswa tata cara pemungutan suara untuk memilih seorang pemimpin kelas. Pertama, dia menunjuk dua kandidat untuk menjadi pemimpin kelas. Selanjutnya, dibentuklah lima siswa sebagai petugas pemungutan suara (KPPS).

 “Tata caranya mirip dengan pemungutan suara pemilu. Para siswa secara bergantian maju menghadap ke KPPS, lalu mencoblos pemimpin yang dia suka melalui simbol siluet, memasukkan surat suara ke dalam kotak suara, pemberian tanda tinta seusai pencoblosan hingga penghitungan suara,” jelasnya.

Namun, lanjut Hanafi, seluruh rangkaian tersebut dikemas dengan santai layaknya permainan anak – anak lainnya. Setelah proses pemungutan suara selesai dan didapat pemenangnya, Hanafi menjelaskan kepada siswa bahwa hal tersebut merupakan tata cara warga negara Indonesia untuk memilih pemimpinnya.

 “Jadi, tugas KPU itu sebagai penyelenggara pemilihan seorang pemimpin. Mulai memilih Kepala Desa Gunung Malang sampai memilih Presiden Indonesia. Siapa mau jadi penyelenggara pemilu?,” teriak Hanafi disambut jawaban ‘Saya !!!!’ oleh seluruh siswa.

Menurut Hanafi, daerah terpencil memerlukan sosialisasi pendidikan politik. dikarenakan wilayah tersebut minim akses informasi. Dia juga melihat bahwa cita – cita siswa masih standar. “Ketika ditanya cita cita, rata – rata mereka menjawab sebagai Guru, Polisi, Tentara dan Dokter. Padahal ada banyak profesi yang harus mereka kenal, salah satunya Komisioner KPU,” ungkap Hanafi sembari tersenyum.

Selain menjalani simulasi pemungutan suara, Hanafi juga memberikan kuis berhadiah. Beberapa pertanyaan mengenai pendidikan kewarganegaraan Indonesia dilontarkan kepada siswa. ‘Siapa nama presiden pertama Indonesia?’, ‘Kapan Indonesia merdeka?’, ‘Siapa nama presiden Indonesia sekarang?’, ‘Gunung Malang ini masuk wilayah Kabupaten mana?’ Itulah beberapa pertanyaan yang membuat riuh kelas SDN Malang 3 dengan teriakan jawaban para siswa.

 “Saya berharap pendidikan politik dan kewarganegaraan ini bisa terserap ke dalam diri siswa di SDN Gunung Malang 3 ini. Pasalnya, ini bisa menjadi investasi pendidikan politik yang kelak akan berguna ketika mereka besar nanti,” terang mantan jurnalis TV ini.

Sementara itu, Kepala sekolah SDN Gunung Malang 3, Tatiana Kartini mengaku senang dengan terlaksananya kegiatan tersebut. “Anak – anak sangat antusias mengikuti proses pembelajaran. Kami sangat berterima kasih kepada seluruh pihak untuk kegiatan ini,” jelasnya.

Tatiana menyebutkan, jumlah siswa di Sekolah yang ia pimpin terbilang minim. Hal ini dikarenakan penduduk sekitarnya yang sangat sedikit dan lokasinya terpencil. Total ada 83 siswa dari kelas satu hingga kelas enam di SD tersebut.

“Rata – rata siswa per kelas berjumlah belasan anak. Paling sedikit ada di kelas lima dengan 11 siswa dan paling banyak ada di kelas satu dengan 17 siswa,” sebut Tatiana.

Dia berharap kegiatan semacam ini bisa dilakukan lagi. Pasalnya, selain materi sekolah umum, siswa juga memerlukan pendidikan lain yang tak diajarkan di bangku sekolah seperti yang diajarkan Hanafi. “Hal tersebut demi tumbuh kembang siswa yang lebih berwawasan luas dan cerdas,” pungkasnya. (edw)

Berita Terkait Pendidikan

No comments: