"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Saturday, November 21, 2015

Inilah Debat Cawabup Jember Soal NKRI VS Khilafah

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Ada yang menarik dalam perdebatan Calon Bupati dan Wakil Bupati (Cabup-Cawabup) Jember dalam sesi tanya jawab Sabtu malam (21/11), Antar Cawabup berdebat soal NKRI dan Isu khilafah.

Dalam Debat Publik Pasangan Calon (Paslon) Cabup – Cawabup putaran ketiga bertema ‘Menyerasikan Pelaksanaan Pembangunan Daerah, Provinsi, Nasional, serta Memperkokoh NKRI dan Kebangsaan’ yang digelar Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jember di Hotel Cempaka ini berjalan seruh.

Pasalnya dalam menyampaikan pendapat dan algumentasi, para cawabup selalu berapi-api, akibatnya teriakan dan yel-yel masing-masing pendukung calon tak terbendung lagi, beruntung wartawan senior Jember Aga Suratno yang memandu acara ini selalu mengingatkan, sehingga suasana dapat kembali tenang.

Perdebatan NKRI VS Khilafah ini muncul ketika Paslon 2, dr Faida – Muqit Arif  mendapat giliran bertanya kepada Paslon 1, Sugiarto, SH - dr Dwi Karyanto, kesempatan itu dimanfaatkan Cawabupnya, yang mempertanyakan tentang adanya baliho besar yang mengajak warga Jember menegakkan Khilafah.

Sebelumnya Muqit memberikan prolog  “Sebagai warga NU, dan dilahirkan ditengah-tengah pesantren, saya sangat mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia, berdasarkan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, dan saya kira warga Jember sangat tau, kita punya tokoh yang sangat luar biasa di Jember, Almarhum almaghfurlah KH Ahmad Sidiq, Beliau adalah penggagas diterimanya asas Pancasila”. katanya.

Lalu Muqit mempertanyakan ke paslon satu, “ada pertanyaan yang cukup menarik, beberapa saat lalu di Jember ada baliho besar yang mengajak warga Jember untuk menegakkan Khilafah, yang mereka menafikan NKRI, bagaimana pendapat paslon satu?.  Tanyanya

Mendapat pertanyaan cawabup nomor dua, Cabup nomor satu Sugiarto memberikan kesempatan kepada wakilnya Dwi Karyanto untuk menjawab pertanyaan Muqit tersebut “Saya kasih kesempatan dulu kepada calon wakil bupati saya”, kata Sugiarto .

Dwi Karyanto tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Merutnya, “Beginilah cara kita melakukan tuntunan agama Islam, yang menciptakan ruang ketersinggunan, memberikan kesenangan kepada semua masyarakat, tidak ada satupun yang kemudian terlikuidasi, maka Harmoni”, yel-yel dan teriakanpun pecah berantakakan.

Kenapa teriak”, Tanya Dwi, “karena saya yakin, karena sulit mewujudkan Harmoni itu, jangankan ditingkat, kota, ditingkat daerah, ditingkat wilayah, ditingkat keluarga saja ini susah, maka kita harus memulai harmonisasi ini di keluarga, agar saling mengenal, menghargai perbedaan, tidak merasa bener sendiri”, lanjutnya

Bahkan Dwi menyindir pemimpin yang susah dinasehati “susah kalau pemimpin itu adalah pemimpin yang susah dinasehati, kita adalah manusia biasa, ingat itu dan sangat berbahaya kalau pemimpin yang banyak kata, karena, setiap katanya diukir, oleh karena itu kita bantu iklim yang harmonis ini”, jelasnya

Tidak puas dengan jawaban Dwi, Muqit kembali menegaskan, memberi kesempatan kepada semua golongan itu adalah sesuatu yang sangat manusiawi dan sangat lumrah dan harus kita tegakkan, tetapi ingat kita punya koridor, ingat kita punya way of life Pancasila kita punya pandangan hidup Pancasila.

Negeri ini dibangan dengan perjuangan dengan mengorbankan jiwa dan raga para pendahulu kita, percuma kita memberikan penghormatan kepada para pahlawan, apabila apa yang dilakukan pahlawan yang mendirikan Negara Indonesia berdasarkan pancasila ini kemudian diutak-otek untuk diganti dengan dasar-dasar yang lain.

“Saya sedih sekali dengan apa yang yang disampaikan, bahwa kita harus akomodatif, tetapi kita harus punya koridor, kita punya Pancasila, harus tegas, bagi kami, jadi wakil bupati atau jadi rakyat biasa, Negara Kesatuan Republik Indonesia ini harga mati”. tegasnya

Mendapat serangan lawan politiknya Dwi menyerang balik “Itu rana yang sudah Jelas, yang masang sepanduk itu adalah dari kita kan, protek melindungi negaga kita, NKRI Harga mati, karena PBNU ini sudah final. Sehingga kalau ditanyakan kepada kita, agak aneh ini”, tegasnya.

Karena ini sudah final yang namanya PBNU ini,(Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan Undang-Undang Dasar 1945). “Mari kita berfikir yang lebih konstruktif kedepan, jangan berfikir emosional, dan kemudian sakwasangka, mari kita kobarkan bunga-bunga husnudzon diantara kita”, Pungkasnya. (eros)

Berita Terkait Politik dan Hukum

No comments: