"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Wednesday, November 18, 2015

Ratusan Mahasiswa Jember Demo Tolak Tambang

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com.  Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi mahasiswa pecinta alam (Mapala) se Kabupaten Jember menggelar aksi tolak aktifitas penambangan di Jember, Lumajang dan Banyuwangi.

Selain aksi, mahasiswa juga meminta dukungan penolakan melalui tanda tangan di spanduk dengan menggunakan spidol merah. "Kami menolak segala aktifitas pertambangan, karena dampaknya sangat berbahaya bagi masyarakat sekitar tambang," kata Angga Pristiwantoro, koordinator aksi.

Aksi gabungan tersebut diawali dari Fakultas Pertanian Universitas Jember, setelah itu para mahasiswa melakukan long march melalui jalur double way Unej, yang kemudian berkumpul di bundaran DPRD Jember. Para demonstran mengawali aksinya dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan membentangkan sejumlah poster yang bernada tuntutan.

Dalam tuntutannya, mahasiswa menolak sejumlah aktifitas pertambangan yang marak di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Banyuwangi, Jember dan Lumajang.  Selain itu, para mahasiswa juga menyerukan dukungan moral kepada keluarga Salim Kancil, tokoh anti tambang di Desa Selok Awar Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, yang tewas akibat dikeroyok belasan orang yang pro tambang beberapa bulan lalu.

Puluhan Mahasiswa juga melakukan aksi teatrikal,  menyindir ‘ada Persekongkolan’ antara pemerintah dan pengusaha tambang yang berbuah kesengsaran terhadap rakyak. Sindiran itu nampak jelas ketika 8 mahasiswa memerankan sebagai petani.

Mereka membawa karung berisi tanaman yang gagal panen akibat aktifitas pertambangan. Sebagian diantara petani itu membawa cangkul, sembari mengacungkannya sebagai bentuk protes kepada dua orang yang tengah duduk disebuah kursi bermeja.

Dua orang tersebut adalah simbol ‘persekongkolan’ antara pengusaha tambang dan pemerintah yang memberi ijin atas usaha tambang itu. Selanjutnya, para petani yang terbakar emosinya mendatangi para mafia tambang. Mereka mengamuk sambil mengangkat cangkul tinggi-tinggi sembari mengobrak-abvrik meja yang berada di depannya. Drama ini berakhir dengan pertumpahan darah yang ditandai dengan rubuhnya pengusaha dan pemerintah tersebut.

"Setelah aksi ini, kami akan mengirimkan petisi kepada DPRD Jember, yang isinya menolak seluruh aktifitas pertambangan. Petisi itu juga diikuti oleh teman-teman di Kabupaten Lumajang dan Banyuwangi yang juga melakukan aksi penolakan," ujar Angga. (ruz)

Berita Terkait Lingkungan

No comments: