"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Saturday, December 19, 2015

Mengais Sampah Plastik Para Penambang Emas Liar

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Siang yang gerah, tak membuat Sumiran menyerah, dengan cekatan pria 58 tahun itu menapaki jalan bebatuan Gunung Manggar memunguti sampah sisa penambang emas liar.

 Di kawasan gunung dan hutan pangkuan Perhutani Jember, di Kecamatan Wuluhan. tampak Laki-laki tua ini membawa dua kantong, sebuah kantong bekas pupuk dia panggul di punggung, sementara karung plastik berukuran besar, disandarkannya ke pohon jati yang kokoh berdiri.

Pria itu, terus memunguti apa saja yang dinilainya masih laku dijual. Botol sisa minuman penambang, juga peralatan masak yang sengaja ditinggal. Namun, Sumiran harus berhati-hati saat memunguti sampah-sampah itu. Karena jika tidak, bisa jadi dia terperosok kedalam lubang bekas galian.

Kalau demikian, nyawanya menjadi taruhan. Sebab, ribuan lubang galian tambang dibiarkan terbuka oleh pencari emas tanpa izin itu, dalamnya bisa mencapai 50 meter. “Saya seminggu sekali atau dua kali naik, biasanya saya mendapatkan sampah antara 15 sampai 20 kilo (Kg),” ujar Sumiran. Sabtu (19/12)

Siang itu, dia hanya mengenakan sandal jepit tua, sandal jepit inilah yang setia menemani bapak enam anak tersebut menaklukan terjalnya medan berbatu. Jangankan untuk pria seusia dia, lelaki berumur separuh darinya pun, belum tentu mampu menyusuri lereng-lereng gunung itu secepat dirinya.

Apalagi, demi sampah yang hanya dihargai oleh pengepul 1.000 rupiah per kilogram. “Alhamdulillah, hasilnya bisa untuk menambah kebutuhan hidup sehari-hari. saya kadang hanya dapat 15 ribu rupiah, kalau pas lagi mujur bisa dapat  sekitar 20 ribu rupiah,” katanya.

Sebagai penghalau panas dan hujan, warga Wuluhan ini, menggunakan capingnya. Yang penting baginya, langkahnya tak terhalang terik mentari maupun hujan. “Sebenarnya, mengumpulkan sampah di gunung ini cepat. yang lama itu, naik sama turun dari gunung,” tuturnya.

Terbukti, hanya dalam waktu tidak terlalu lama, sekitar 2 jam, karung yang lebih besar dari ukuran tubuhnya itu telah penuh dengan sampah plastik. Atasnya telah ia ikat dengan tali. “Tidak usah dibantu (mengangkat) mas. Saya masih kuat kok,” ucapnya, yang kemudian berlalu pergi. (ruz)

Berita Terkait Lingkungan

No comments: