"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Friday, January 1, 2016

Angka Perceraian di Jember Tembus Enam Ribu

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Selama tahun 2015 angka perceraian di Jember capai 6.108 kasus. Angka ini menurun jika dibandingkan tahun sebelumnya, yang mencapai 7.544 perkara, yang telah disidangkan oleh PA Jember.

Menurut Panitera Muda Gugatan PA Jember As’ari mengungkapkan bahwa kasus perceraian ini mayoritas dilatar belakangi persoalan ekonomi yang tercatat 2.100 kasus, disusul karena faktor ketidak harmonisan keluarga, sebanyak 1.382 kasus.

“Ada juga yang berlatarbelakang tidak ada tanggungjawab pasangan, sejumlah 1.210 kasus. Tidak adanya tanggungjawab ini biasanya karena perhatian yang diberikan salah satu pasangan, baik suami atau istri dinilai kurang,” ujarnya Jumat (1/1)

Gangguan pihak ketiga, juga menjadi penyebab keretakan rumah tangga, PA Jember mencatat ada 395 kasus. Disusul kemudian karena rasa cemburu yang mencapai angka 130 kasus. “Memang macam-macam faktornya, ada juga yang bercerai karena sebelumnya dipaksa kawin yang tercatat ada 51 kasus,” imbuh As’ari,

Sementara kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), sesuai laporan PA Jember, tercatat ada 54 kasus. “Sisanya, karena factor lain-lain. Yang tidak tercatat secara terperinci,” jelas dia.

Kasus perceraian yang diajukan ke Pengadilan Agama (PA) Jember, lebih banyak diajukan oleh kaum perempuan. Sebagiamana data yang terekam PA Jember, dari 6.108 kasus perceraian sepanjang tahun 2015, sebanyak 69,7 persen merupakan perceraian yang diajukan oleh pasangan perempuan.

“Hingga tanggal 31 Desember 2015, data yang tercatat ada 6.108 perkara gugatan cerai. Dari sejumlah itu, 4.257 merupakan cerai gugat yang diajukan oleh pihak perempuan. Sisanya, 1.851 kasus adalah cerai talak, yang diajukan oleh pihak laki-laki,” katanya.

Menurut As’ari, perkara yang disidangkan di PA Jember, terbanyak memang kasus perceraian. Selain perceraian, ada juga permohonan sidang isbat nikah sejumlah 892 perkara. “Tertinggi memang perceraian, baru kemudian permohonan sidang isbat nikah, permohonan perwalian, izin kawin, serta permohonan dispensasi karena kurang umur saat akan menikah. Jadi total seluruh perkara sebanyak 7002,” ujarnya.

Ada fakta menarik dari kasus perceraian. Menurut As’ari sebagian besar pasangan yang mengajukan cerai usia pernikahannya di atas 5 tahun. “Memang faktor usia tidak terpotret dalam catatan pengadilan. Namun sebagian besar pasangan yang mengajukan cerai, usia pernikahannya di atas 5 tahun,” ujarnya.

Namun, dijelaskan As’ari, hal itu hanya menunjukkan kecenderungan saja, bukan penghakiman atas usia dalam sebuah hubungan pernikahan. Menurut dia, pasangan yang bercerai juga tak pandang profesi. Hampir semua profesi ada yang mengajukan gugutan cerai ke PA Jember, baik itu cerai gugat maupun cerai talak.

Kendati demikian, penyumbang angka perceraian di Jember adalah warga yang menjadi Tenaga Kerja Indonesia yang terlalu lama bekerja di luar negeri. “Kadang saat ditinggal kerja keluar negeri, suami sudah nikah siri. Ada juga yang karena ekonominya sudah mapan setelah bekerja di luar negeri, saat pulang sang suami atau istri telah memiliki calon lain sehingga salah satu pasangannya mengajukan cerai,” paparnya.

Sementara ditanya mengenai wilayah mana yang paling tinggi tingkat perceraiannya, As’ari tak dapat merinci. Tetapi, dari catatan dia, wilayah selatan Kabupaten Jember, seperti Kecamatan Ambulu, Wuluhan, dan Kecamatan Puger, tingkat perceraiannya lebih tinggi jika dibanding daerah yang lainnya.

“Daerah seperti Jember bagian timur dan utara malah kecil tingkat perceraiannya. Malah tingkat ekonomi yang lebih mapan angka perceraiannya lebih besar. Seperti daerah Jember bagian selatan. Mungkin hal itu karena tuntutan ekonomi keluarganya lebih tinggi, sehingga berdampak terhadap retaknya hubungan pernikahan,” sebutnya.

Selain faktor tuntutan ekonomi, sambung As’ari, tingginya angka perceraian di wilayah Jember selatan juga didukung jumlah penduduk yang lebih besar jika dibandingkan daerah lain.“Selain itu, Jember bagian selatan angka pernikahannya juga lebih tinggi dibanding wilayah lainnya,” pungkasnya. (midd/ruz)

Berita Terkait Sosial Budaya

No comments: