"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Wednesday, February 3, 2016

Kabupaten Jember Kembali Dikepung Banjir

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Seperti menjadi tradisi, setiap musim penghujan, beberapa ruas jalan di kota dan beberapa wilayah kabupaten Jember dilanda banjir, bahkan ada yang sampai terjadi longsor.

Akibat hujan deras yang disertai angin kencang dan pertir Senen dan  Selasa (1-2/2), Dua desa di Kecamatan Panti menerima dampaknya, yaitu di Desa Suci sempat terjadi bencana longsor serta pondasi Jembatan Dinoyo Desa Glagah Wero ambrol, beruntung tidak sampai menelan korban jiwa.

Intensitas curah hujan yang tinggi juga membuat beberapa wilayah di Jember tergenang banjir, tidak hanya wilayah pinggiran seperti di kecamatan Kencong dan Gumukmas saja, tapi sejumlah jalan protocol di perkotaan juga digenangi air.

Beberapa ruas jalanan di kota yang digenangi air tampak di jalan Kalimantan dan jalan jawa kampus Unej. disamping itu juga di jalan Utara Alun-alun (Depan Pendopo Bupati), Jalan Gajahmada Kaliwates, Mangli, Sumbersari dan pertigaan jalan Jalan Manggar dan perempatan Gebang Kedawung kecamatan Patrang, bahkan sejumlah jalan mirip sungai dengan ketinggian air hingga mencapai 50 cm.

Begitu juga di Kantin di Pemkab Jember, genangan air hujan Selasa sore (2/2) setinggi mata kaki orang dewasa atau sekitar 20 cm. “Ya terpaksa warung saya tutup lebih awal mas, soalnya air masuk ke dalam kantin, tabung gas juga terendam,” ujar Bukadi salah satu penjual kopi di kantin Pemkab Jember.

Abdul Ghofur warga Kelurahan Kebonsari yang terjebak banjir di Kampus menyayangkan jalan Jawa tersebut masih tergenang banjir, “Disebelah timur kampus ada sungai besar, di sebelah barat juga ada Sungai Bedadung, kok bisa masih kebanjiran, ” ujarnya

Tak terkecuali kawasan Kampung Osing, dalam kota, di jalan Wijaya Kusuma (blakang Pendopo). Kawasan ini juga setiap tahunnya menjadi langganan banjir. Warga Kampung Osing Kelurahan Jember Lor Kecamatan Patrang merasa resah karena air dari hulu sungai mulai naik di rumah-rumah warga. (tim)


Desa Suci Kecamatan Panti Diterjang Longsor
Hujan deras yang di sertai petir dan angin kencang Senin (1/2) membuat sejumlah rumah warga RT 5 RW 1 Dusun Padukuhan Ledo’an Desa Suci Kecamatan Panti tertimbun longsor dan terimpa pohon. Kejadian ini membuat warga sekitar panik.

Iformasi yang berhasil dihimpun di tempat kejadian bahwa beberapa rumah di RT 2, 3 dan 4 juga terkena musibah namun tidak separah di RT 5. Saat dikonfermasi sejumlah media di kantornya Selasa (2/2) Kades Suci Nur Salim membenarkan telah terjadi musibah di beberapa RT, namun tidak separah di RT 5.

“Kejadiannya kira-kira pukul 2.00 sore Wib saat terjadi hujan deras di sertai petir dan angin kencang. Bila dilihat dari titik lokasi kejadian memang faktor tanah yang labil, karena sebagian besar lokasi rumah yang di tempati warga adalah bekas sawah,” terangnya.

Lebih lanjut Nur Salim mengingat memasuki musim penghujan warga diharapkan waspada, atas kejadian 2006 silam telah terjadi banjir bandang yang menelan korban jiwa dan kerugian harta benda yang tidak sedikit. “saya menghimbau seluruh masyarakat meningkatkan kewaspadaan,” imbuhnya.

Menurut Nur Salim di wilayah Desa Suci sendiri ada beberapa titik lokasi rawan lonsor dan bencana banjir yang harus di waspadai. Ada beberapa titik rawan bencana dan longsor yaitu Gunung Pasang, Dusun Gaplek, Dusun Glundengan, Dusun Padukuhan dan Dusun Payung.

“Dusun Payung ini yang rawan bencana berada di RW 7. Jauh sebelum kejadian longsor saya selalu mengajak warga mengadakan bersih-bersih tiap hari Jumat. Ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak sembrono membuah sampah di sembarang tempat,” tuturnya.

Pasca terjadinya musibah sekira pukul 7.00 wib malam, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) langsung melakukan survei.  “Pemerintah setempat serta instansi terkait langsung respon. Hal ini untuk mengantisipasi agar kejadian serupa pada tahun 2006 tidak sampai terulang lagi,” pungkas Nur Salim.

Pondasi Jembatan Sungai Dinoyo Ambrol
Terjangan arus Sungai Dinoyo di Desa Glagah Wero Kecamatan Panti merobohkan sebagian pondasi jembatan. Ambrombalnya pondasi jembatan yang menghubungkan Desa Glagah Wero dan Kemuningsari Lor akibat kuatnya arus sungai ketika hujan deras Senin (1/2) lalu yang mengakibatkab debit air meluap setinggi hampir 5 meter.

Hujan yang terjadi Senin kemarin membuat warga was-was dan pergi meninggalkan rumah untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan.  “Ketinggian air Sungai Dinoyo saat hujan kemarin sangat menghawatirkan warga di sepanjang bantaran aliran sungai mas. Kami sempat mengungsi khawatir terjadi apa-apa,” kata warga sekitar.

Kepala Desa Glagah Wero Suryo mengakui bila hujan deras sangat menakutkan “ambrolnya pondasi Jembatan, akibat kuatnya terjangan arus sungai, Pasalnya jembatan tersebut sudah sangat tua kira-kira sudah berumur 60 tahun dan sudah selayaknya di perbaiki”. Katanya.

Ambrolnya pondasi jembatan Sungai Dinoyo langsung mendapat perhatian serius dari pihak Dinas PU Bina Marga yang di bantu oleh UPT Kecamatan serta Muspika setempat pada Selasa (2/2)  sekira pukul 9.00 wib-10.30 wib langsung meninjau lokasi.

Lebih jauh Suryo menerangkan dari informasi yang diterima tadi pagi pihak Dinas PU Bina Marga bahwa proposal perbaikan pondasi jembatan tersebut sudah diajukan dan akan di laksanakan pada pertengahan bulan Pebruari 2016 ini.

Saat wartawan berusaha menemui kepala UPT Bina Marga Kecamatan Panti tidak ada di tempat menurut staf yang ada, bapak Kepala UPT setelah meninjau lokasi ambrolnya pondasi jembatan langsung menghadap ke Dinas PU Bina Marga Kabupaten untuk mengajukan proposal perbaikan.

Ambrolnya Pondasi jembatan juga  mengkhawatirkan pengguna jalan. Hingga arah dari Desa Kemuningsari Lor ataupun arah sebaliknya akses jalan tersebut di tutup bagi kendaraan roda empat ataupun roda enam untuk waktu yang belum di tentukan. Namun untuk pengguna roda dua masih bisa melintas namun harus extra hati-hati.

Jalan Raya Gajah Mada Langganan Banjir
Hujan yang di sertai petir dan angin kencang Senin (1/2) di Kelurahan Kaliwates dan Kelurahan Mangli. Kecamatan Kaliwates membuat jalan tidak mampu menampung debit air sehingga meluber ketengah jalan, yang mengakibatkan macet arus lalu lintas.

Ketinggian air dari timur lampu merah Kelurahan Mangli sampai sekitar Kecamatan kaliwates  yang mencapai 40 cm membuat pihak kepolisian Polsek Kaliwates serta Satlantas Polres Jember terpaksa memblokade jalan mulai dari lampu merah Mangli hingga di sekitar area Kecamatan Kaliwates untuk sementara waktu.

 Banyak para pengguna roda yang nekat namun akhirnya terpaksa  menuntun kendaraannya karena mesin motornya mogoki akibat kemasukan air. Menggenangnya air di jalan raya banyak di sesalkan oleh semua para pengguna jalan.

Salah satu pengguna jalan Hariyati  saat berteduh di pertigaan PLN Kelurahan Kaliwates mengatakan kekecewaannya akibat genangan air yang tinggi di jalan raya Hajah Mada. “Saya sangat kecewa sekali mas masak tiap hujan deras mesti banjir kayak gini. Saya ini buru-buru ada undangan mantenan saudara di Rambipuji, ehh nyampek di jalan Gajah Mada motor saya mati karena kemasukan air,” kesalnya.

Hal serupa di utarakan Mokhtar warga Sukorejo Sumbersari, menurutnya setiap hujan lebat pasti sepanjang jalan Gajahmada hingga Kelurahan Mangli, banjir. “Kok yo bisa jalan raya ini tidak bisa menampung debit air padahal jalan raya yang lain tidak banjir,” tanyanya.(midd/jok)

Kampung Osing Terendam Banjir
Warga kampung Osing Jalan Wijaya Kusuma kembali dilanda banjir, pasalnya air dari hulu drinase mulai naik di keperkampungan. Debit air yang semula masuk keperkampungan hanya semata kaki, tapi lama kelamaan melebihi lutut orang dewasa. Akibatnya sejumlah rumah kemasukan air.

Warga yang yang mulai merasa resah, bergotong royong membendung depan pintu rumah dengan menata kantongan pasir, tapi upayanya sia-sia karena debit air semakin tinggi. Setelah itu warga berbondong-bondong membongkar warung yang didirikan di atas saluran air.

Narwo (42) salah-satu warga setempat mengatakan kekecewaannya karena Kampung Osing selalu menjadi langganan banjir setiap tahunnya. “banjir seperti ini sudah sering terjadi dan kurang lebih 5 kali untuk musin hujan tahun ini, namun tidak separah hari ini.

Narwo khawair, jika tidak segera dicarikan jalan keluar, suatu saat ketika terjadi hujan deras akan mengancam warga di pada 2 RT dan RT 1, Untuk itu warga berharap kepada dinas terkait segera mencari jalan keluar dan tidak mudah memberikan izin pembangunan permanen diatas drinase,”katanya. (midd/pun)

Jalan Raya Kencong Digenangi Air
Akibat Intensitas curah hujan yang sangat tinggi yang terjadi sekitar 7 jam semalam membuat jalan raya arah Jember-Lumajang, di  jalan raya depan Makam pahlawan Kencong Desa / kecamatan Kencong Selasa (02/02) sepanjang 300 meter tergenang air. 

Bukan hanya jalan raya, pertokoan serta lapak kaki lima disepanjang jalan raya juga digenangi, bahkan genangan air hingga mencapai setinggi lutut orang dewasa, meski tidak ada korban jiwa, namun jalur lalu lintas sepajang jalan tersebut pagi itu macet, sebagian pengendara motor harus mendorong Motornya,

Nampak warga sekitar pagi itu turun ke sungai dan mengangkati Batu Bangunan, warga menduga penyebab peristiwa ini terjadi karena adanya batu bangunan yang tumpah dari Mobil Jenis Dumm truck  yang  kemaren  lalu nyungsep di sungai kecil yang berada disekitar jalan raya tersebut.

"Baru sekarang ini mas jalan raya ini tergenang air,  jalan ini sejak dulu meski hujan deras air tidak pernah ada air menggenangi jalan raya ini mas, apalagi sampai setinggi ini, mungkin karena ada nya batu bangunan ini mas, sehingga air tidak lancar mengalirnya." Ujar H Roni warga sekitar yang ikut turun ke sungai.

Lain halnya menurut Susmiadi Kepala UPT dinas pengairan Kencong , melubernya air di jalan raya dikarenakan curah hujan selama tujuh jam pada hari senen melampoi batas maksimal,"curah hujan semalam memang sudah melampaui batas Maksimal mas, hujan kemaren itu mencapai 100 MM, " ujarnya

Hal tersebut terlihat dari 3 alat pengukur intensitas curah hujan yang dipasang di tiga titik, semuanya menunjukkan Batas maksimal "Pondok Waluh kemaren curah hujan tembus angka 144 MM, di Pladingan Desa Ngampel Rejo 140 MM dan alat yang berada diDesa Kencong sendiri menunjukkan angka143 MM.

“Hal tersebut yang membuat air meluap hingga ke jalan raya, perkampungan warga dan juga merendam sejumlah sawah, jadi kalau permasalahan adanya penyumbatan disungai karena adanya tumpukan batu itu salah satu penyebab tambahan saja mas, " jelasnya.

Sementara itu Kepala Desa Kencong Ahmadi berharap adanya keikutsertaan pihak pihak terkait bersama sama memecahkan persoalan tersebut, "kencong ini terminal terakhir dari berbagai daerah, sebelumnya air masuk ke laut mas,  ini masih satu hari hujan lebat turun sudah seperti ini mas” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Marduwan Anggota Komisi A DPRD Jember Partai Gerindra yang rumahnya tak jauh dari lokasi banjir, berharap Muspika kencong dan Dinas terkait memecahkan persoalan banjir, "saya berharap dinas terkait memecahkan persoalan ini, " harapnya. (yond)

Jalan dan Rumah Warga Gumukmas Digenangi Air
Akibat hujan Deras, sejumlah kawasan di Jember bagian selatan juga tergenang air. Akibatnya, jalan yang menghubungkan antar kecamatan nyaris lumpuh karena luapan air sungai memenuhi badan jalan hingga ke area persawahan.

Seperti yang terlihat di jalan arah Desa Umbulsari, Kecamatan Umbulsari dan Desa Bagorejo, Kecamatan Gumukmas, Rabu siang (3/2), luapan Anak Sungai Bondoyudo menggenangi seluruh badan jalan, tepatnya di Dusun Ampeldento, Desa Bagorejo.

Sehingga warga yang akan melewati jalur tersebut harus memutar arah. Sebab, kalau ada yang nekad menerobos, pengendara harus mendorong motornya, karena mogok. Selain jalan dan area persawahan, luapan air juga memasuki rumah-rumah penduduk yang tinggal di area terdampak banjir.

Kunyil (80), warga setempat menuturkan, pasca meluapnya Anak Sungai Bondoyudo, dirinya harus mengungsi ke rumah kerabatnya. Karena luapan air masuk ke dapur rumah, sehingga nenek ini tidak bisa memasak. “Sejak kemarin saya ngungsi ke rumah keponakan, kebetulan rumahnya dekat dengan rumah saya,” ujarnya.

Susiono (40), meminta pemerintah menindak tegas pembuang sampah di sungai, pasalnya sampah-sampah itulah yang menyumbat kanal, sehingga air meluap. “Selain itu, kami juga berharap pemerintah mengeruk sungai tersebut. Karena jika dangkal, hujan sebentar saja, airnya pasti meluap,” katanya. (ruz)

Berita Terkait Lingkungan

No comments: