"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Thursday, August 11, 2016

Ahmad Sudiono; Lapas Dapat Tumbuhkan Jiwa Religius

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Lapas bukanlah tempat hukuman, melainkan rumah kasih sayang Allah. Ditempat inilah orang akan tumbuh jiwa religiusnya. Sehingga setiap hari akan berdzikir dan selalu mengigat Allah.

Kita masih beruntung bisa ada di dalam sini, masih diberi kesempatan untuk bertaubat. Demikian tutur mantan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Ekonomi Sumber Daya Mineral (Disperindag ESDM) Jember, Ahmad Sudiono kepada sejumlah wartawan di lapas kelas IIA Jember, Kamis, (11/8)

Waktu itu, wajah Ahmad Sudiono terlihat sumringah, tak ada kesan ia terbebani kasus yang membelitnya. Ketika ditanya tentang bagaimana cara menjaga stamina batin saat menjalani hari-harinya di Lapas. Kuncinya pasrah. Menerima apa yang kita terima sebagai qodar (ketentuan) Allah Katanya

Meski menjalani masa hukuman, karakter kepemimpinannya nampak dominan. Hampir semua warga binaan memanggilnya abah. “Jika sore, saya dan Hasi Madani (Mantan kepala Dinas Pasar) mengajari remaja disini. Pak Hasi Madani mengajar tajwid dan baca quran, sementara saya megajar pembentukan karakter. Katanya.

Kegiatan itu dilakukan, bukan semata mengisi waktu luang, Lapas bukanlah tempat hukuman, melainkan rumah kasih sayang Allah. “Ya, disini (Lapas) merupakan rumah kasih sayang Allah. Karena ditempat ini orang akan bertumbuh jiwa religiusnya. Sehingga setiap hari akan berdzikir untuk mengigat Allah,” tuturnya

Sebelum wawancara, Pak Ahmad biasa dipanggil, tampak berdiri di depan tiga remaja, gerak tubuhnya masih atraktif. Mereka menempati sebuah gazebo di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Jember. Tampak tiga remaja itu mengangguk, seolah mengiyakan. Satu diantara mereka garuk-garuk kepala.

Kepada tiga remaja ini,  Pak Ahmad menuturkan “Jangan dikira orang diluar (Lapas) sana tidak ada yang bersalah. Masih banyak. Hanya saja belum diketahui penegak hukum, Itu artinya, kita masih di sayang Allah, bisa saja yang punya kesalahan diluar sana belum sempat bertaubat sudah dipanggil lebih dulu oleh Allah,”  Jelasnya.

Usai itu, pria yang pernah menjabat Kepala Dinas Pendidikan Jember ini mengatakan bahwa wejangannya kepada tiga remaja ini merupakan bagian dari caracter building, pembentukan karakter agar selepas menjalani masa tahanan, para remaja itu dapat bermanfaat dan kembali bersosialisasi dengan masyarakat.

Siang itu, sejumlah wartawan Jember yang bersempatan bercengkerama dengan terpidana korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) ini pada Senin (8/8/2016) lalu. merupakan pertemuan tak sengaja, ketika para wartawan akan meliput kegiatan lomba adzan yang digelar Lapas setempat.

Meski terlihat ceria, bukan berarti tak pernah bersedih. Bersama Hasi dan Mantan Sekda, Djoewito, ia salurkan dengan melakukan salat tahajud dan berdzikir. Suara tangis pun pecah, tenggelam dalam kesunyian masing-masing. “Saya kira wajar, sebagai manusia yang mengingat kebesaran Allah, pasti menangis,” ucapnya.

Saat bercerita, tiba-tiba ia mengingat sesuatu. Dia pamit. Sekembalinya, pak Ahmad membawa dua fas berisi bunga serta dua miniatur perahu layar. Satu fas bunga bertuliskan “dr Faida Bupati Jember”. Buah tangan ini, akan dia berikan kepada Bupati Faida pada momen peringatan Hari Kemerdekaan RI, 17 Agustus nanti, di Lapas.

“Ini adalah karya warga binaan. Mereka sebenarnya adalah orang-orang kreatif. Coba saja dilihat, perahu layar ini terbuat dari bahan daur ulang stik es krim. Luar biasa bukan?” ujarnya.

Sejurus kemudian, Mantan Kepala Dinas Pasar Jember, Hasi Madani, turut bergabung. Wartawan dan kedua pejabat era MZA Djalal ini terlibat candaan, sesekali juga obrolan yang serius. Pembicaraan mengenai kasus yang menjerat mereka sempat disinggung, meski keduanya enggan untuk disampaikan ke publik.  

Pernah suatu ketika, usai baca quran, salah seorang remaja sujud syukur sembari menangis sesenggukan. Ia dan Ahmad Sudiono mengira ada yang salah.  “Namun setelah saya tanya, ternyata dia sangat senang dan bersyukur karena bisa membaca quran. Karena baru bisa baca quran di lapas ini,” ujarnya.

Sebelum berpamitan, Hasi Madani mengambil sebuah buku tebal. Isinya ada sebaris tulisan arab, tersusun rapi, kalimatnya bacaan salawat.  Dibawah tulisan itu, ada sebait syair yang ia tulis sendiri. Puisi itu, menggambarkan kehidupannya di balik jeruji besi. Tentang kesepian dan kedekatan kepada Tuhan. (ruz)

Berita Terkait Politik dan Hukum

No comments: