"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Friday, August 12, 2016

Dewan Pers; Media Abal-abal Tumbuh Karena Iklim Yang Koruptif

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Sesungguhnya Perusahaan Pers atau wartawan abal-abal itu tumbuh, lantaran iklim di Indonesia yang masih kuruptif. Kalau iklimnya tidak koruptif, nggak ada itu media maupun wartawan abal-abal.

Kalau iklimnya tidak koruptif, mau sebebas apapun, nggak ada itu media abal-abal. Demikian Ditegaskan anggota komisioner Dewan Pers, Imam Wahyudi usai melantik Pengurus Baru Hasil  Musdalub yang digelar Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Tapalkuda  di Jember, Jumat, (12/8)

Untuk meminimalisrir hal tersebut, Menurut Wahyudi, disamping akan terus melakukan verifikasi Perusahaan Pers dan wartawan, salah-satu yang akan dilakukan  Dewan Pers akan melakukan pertemuan dengan Kapolri, Mendagri dan BPK dalam dalam Minggu ini

Menurut Wahyudi, hal itu dilakukan untuk mensingkronkan. “Kami berharap bahwa sesungguhnya abal-abal itu tumbuh karena iklim yang kuruptif sebenarnya, kalau iklimnya tidak koruptif, nggak ada itu abal-abal, mau sebebas apapun, nggak ada abal-abal itu”,  Katanya.

Ketika disinggung apa verifikasi  berakibat panismen?  Jadi begini Dewan Pers itu lembaga etik, salah-satu tugas Dewan Pers adalah mendata perusahaan pers, yang disebut panismen itu, ya kami tidak akan mendata, tidak kami sebutkan sebagai media profesional. Jadi itu yang bisa kami lakukan.

 “Nah persoalannya kadang-kadang kan, instansi-instansi yang seharusnya bisa menggunakan itu, tidak menggunakan, jadi baiknya, kami akan selalu menyempurnakan datanya, tapi juga instansi perlu memperhatikan itu”. Harapnya.

Laporon tentang Jurnalis Abal-abal memang banyak muncul, termasuk dari Jawa timur, selain dari Sumatra Utara, DKI Jawa Barat dan,  “Modusnya, ada sms ancaman, bahkan menggebrak meja, lantaran iklan media tersebut dihentikan oleh Humas”, Jelanya.

“Wartawan itu punya kode etik Jurnalistik mengatur bagaimana mereka itu membuat berita, bersikap, wawancara dan sebagainya. Kalau ada yang sampai melakukan pengrusakan itu bukan kelakuan wartawan yang profesional”,   Tambahnya.

Saat ditanya untuk  Laporan media abal-abal di Jember, menurutnya selama ini tidak ada, “tetapi kemaren saya menerima laporan,  masih sumir, tentu akan kami lakukan konfermasi , bahwa ada oknum-oknum wartawan, diduga menerima dana bansos, itu yang kami tunggu”.  Lanjutnya

Dewan pers berharap organisasi profesi melakukan klarifikasi itu, karena salah-satu konsideran organisasi pers adalah PWI, AJI dan IJTI. Mereka diharapkan menjadi garda terdepan.  Baru  kemudian berdasarkan loporan mereka kita akan bisa investigasi lebih jauh.

Terkait info ada oknum wartawan radio profesional yang ditetapkan tersangka dana Bansos Pengajian, Wahudi tampak terkejut.  “Dimana, disini ya, Saya baru tau. Belum ada laporan malah, Tolong dong  PWI, AJI,maupun IJTI,  bikin laporan ditail, nanti saya ful up”,  Tegasnya.

Dewan Pers berharap, PWI, AJI dan IJTI yang membuat laporan, namun mayarakatpun bisa  “Kalau laporan dari masyarakat, kami akan kroscek pada teman-teman di daerah. “Karena dewan pers itu kan cuma sembilan. Ya ada keterbatasanlah soal ini, jadi kami selalu memanfaatkan itu”, harapnya.(eros)

Berita Terkait Sosial Budaya

No comments: