"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Wednesday, August 24, 2016

Isu Kenaikan Rokok Perburuk Harga Tembakau Petani

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Isu kenaikan harga rokok hingga 50 ribu per bungkus, merusak harga jual tembakau petani. Pasalnya kabar itu dimanfaatkan para tengkulak untuk membeli tembakau petani dengan harga rendah.

Alasan tengkulak membujuk petani agar segera menjual produk kebunnya dengan harga murah, bahwa kenaikan harga rokok, akan berdampak terhadap turunnya konsumsi, sehingga pabrikan hanya akan menyerap tembakau sedikit, dampaknya permintaan dari pabrikan juga akan minim.

Dalih tersebut diperkuat  adanya survei dari Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia yang menyebut jika harga rokok dinaikkan jadi  50 ribu per bungkus maka banyak orang yang berhenti merokok.

Alhasil pernyataan itu dianggap benar, sehingga meski hanya dibeli murah, petani mau menjualnya, akibatnya petani menderita kerugian. “Kondisi ini terjadi di sejumlah daerah di Madura, Jawa Timur”.  Demikian kata Ketua Asosiasi Petani Tembakau (APTI) Nasional, Soeseno, Rabo, (24/8) di Jember.

Menurut Bung Seno, biasa ia dipanggal, itu terjadi karena minimnya informasi, sehingga petani takut, tembakaunya  tak terbeli“Alasannya pabrikan akan sedikit menyerap tembakau karena harga rokok naik, dampaknya konsumsinya menurun, sehingga permintaan pabrikan juga minim.” katanya.

“Di Pamekasan misalnya, harga tembakau petani anjlok hingga Rp 18 ribu per kilogram, sementara di Sumenep ditawar Rp 20 ribu per kilogram. Padahal rata-rata harga tembakau jenis Perancak 95 mencapai Rp 40 ribu per kilogram. Tapi ini hanya terjadi di Madura, karena daerah lainnya belum panen,” tuturnya.

Menurut dia, cara tengkulak itu cukup efektif membuat petani gamang. Sebab petani tak memiliki pilihan lain untuk menahan tembakau mereka. Petani juga khawatir jika hasil panennya ditahan malah membuat tembakaunya tak laku.

“Tapi saya saya tidak tahu apakah kondisi itu akan bertahan lama. Saya menyarankan agar petani menahan tak menjual temabakaunya dulu, menunggu hingga awal atau pertengahan September, sehingga kekhawatiran petani tak dimanfaatkan terus oleh tengkulak,” ujarnya. (ruz)

Make Money Online : http://ow.ly/KNICZ

Make Money Online : http://ow.ly/KNICZ
Make Money Online : http://ow.ly/KNICZ

Make Money Online : http://ow.ly/KNICZ

Berita Terkait Pertanian

No comments: