"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Monday, August 1, 2016

Pada Bulan Juli 2016, Jember Alami Inflasi Terendah Se Jatim

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Dari delapan kota IHK di Jatim, semua kota alami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Madiun sebesar 0,85 persen, Sedangkan inflasi terendah terjadi di Kabupaten Jember sebesar 0,42 persen.

Sedangkan inflasi Jawa Timur sebesar 0,76 persen. Bahan makanan menjadi penyumbang inflasi tertinggi pada bulan Juli 2016 di Jember sebesar 1,47 persen. Angka itu diikuti kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,57 persen.

Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) di tingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga.

Di Indonesia, tingkat inflasi diukur dari persentase perubahan IHK dan diumumkan ke publik setiap awal bulan (hari kerja pertama) oleh Badan Pusat Statistik (BPS).  Dari hasil pemantauan harga pada bulan Juli 2016, Jember mengalami inflasi sebesar 0,42 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 120,95 pada bulan Juni 2016 menjadi 121,46 pada bulan Juli 2016.

Sepanjang tahun 2006-2016, pada bulan Juli selalu terjadi inflasi.  Tahun 2013 merupakan inflasi tertinggi sebesar 3,09 persen dan inflasi terendah pada tahun 2009 sebesar 0,02 persen. Sedangkan pada periode lima tahun terakhir inflasi bulan Juli tahun 2016 sebesar 0,42 persen ini merupakan inflasi terendah kedua setelah inflasi bulan Juli tahun 2014 sebesar 0,41 persen.

Pendorong utama inflasi Jember pada bulan Juli 2013 adalah naiknya harga beberapa komoditas antara  lain : bensin, angkutan dalam kota, cabe rawit, bahan bakar rumah tangga, tomat sayur, daging ayam ras, bawang merah, daging sapi, angkutan antar kota, dan tomat buah. 

Kelompok sandang juga mengalami kenaikan sebesar 0,47 persen, disusul kelompok kesehatan 0,28 persen dan kelompok perumahan, air, listrik, gas, serta bahan bakar sebesar 0,08 persen. Sementara untuk kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga inflasinya naik sebesar 0,03 persen.

“Sedangkan inflasi terendah terjadi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, sebesar 0,01 persen,” kata Kepala Seksi Distribusi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Jember, Candra Birawa di Kantor BPS setempat, Senin (1/8).

Untuk Jember, inflasi tersebut ditunjukkan oleh kenaikan IHK dari bulan Juni sebesar 120,95 persen menjadi sebesar 121,46 persen. "Inflasi di Jember tercatat paling rendah di Jawa Timur yang sebesar 0,76 persen. Bahkan masih berada di bawah inflasi nasional sebesar 0,69 persen," ujar Candra.

inflasi tertinggi di Kota Madiun sebesar 0,85 persen, disusul Kota Surabaya 0,83 persen, dan Kota Kediri, Kota Malang  0,78 persen. Sementara Banyuwangi  0,43 persen, Sumenep dan Kota Probolinggo  0,63 persen. "Daging ayam ras menjadi komoditi yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi,” papar Candra.

Bahkan, Candra menambahkan, selain di Kabupaten Jember daging ayam ras juga menjadi penyumbang tertinggi laju inflasi di sejumlah daerah di Jawa Timur, yakni di Kabupaten Banyuwangi, Kota Malang, dan Kota Surabaya. Dijelaskannya, tingginya permintaan daging ayam ras saat lebaran kemarin, menjadi salah satu pemicu bahan makanan tersebut menjadi komiditi yang mengalami inflasi cukup tinggi.

“Selanjutnya, angkutan antar kota juga memberikan andil inflasi di Jember setelah daging ayam ras, disusul kemudian tarif kendaraan travel, kendaraan carter/rental, udang basah, melon, daging sapi, apel, emas perhiasan dan daging ayam kampung," jelasnya.

Candra berkata, kenaikan tarif angkutan antar kota, tarif kendaraan travel, dan kendaraan carter/rental merupakan dampak tradisi mudik pada momen lebaran kemarin.  “Untuk angkutan antar kota yang mengalami kenaikan harga adalah bus AKAP kelas patas. Sedangkan angkutan bus AKDP tak ada kenaikan, karena menerapkan tarif batas atas," ujarnya.  (ruz)

Berita Terkait Ekonomi Bisnis

No comments: