"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Monday, October 3, 2016

Jurnalis Jember Kecam Kekerasan Aparat Terhadap Wartawan

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com.  Aliansi Jurnalis Jember Senin (3/10) menggelar aksi solidaritas, atas insiden pemukulan yang dilakukan oleh sejumlah anggota TNI Angkatan Darat Batalyon Infanteri 501 Rider Madiun Jawa Timur.

Aksi demonstrasi elemen jurnalis, dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jember, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Tapal Kuda di Jember, Jember Sourth Journalist (JSJ) dan Forum Wartawan Lintas Media (FMLM) Jember dimulai dari bundaran DPRD Jember hinff di depan Markas Kodim 0824 Jember.

Mereka melakukan longmarch dan membentangkan sejumlah poster bernada tuntutan. Insiden tersebut telah mencederai kebebasan pers di Indonesia. Untuk itu mereka meminta Panglima TNI mengusut tuntas kasus kekerasan yang dilakukan anggota TNI terhadap rekan seprofesinya di Madiun, Jawa Timur.

Pemukulan yang dilakukan oleh sejumlah anggota TNI Angkatan Darat Batalyon Infanteri 501 Rider Madiun, merupakan insiden yang mencederai kebebasan pers di Indonesia. Karena insiden itu tak hanya perbuatan kriminal tapi juga telah membungkam kebebasan pers di Indonesia.

“insiden itu merupakan sejarah buruk bagi perkembangan dunia pers, karena alat kerja sang jurnalis dirampas kemudian dirusak oleh anggota TNI. Oleh karena itu kami minta kasus diusut tuntas, pelakunya juga harus dihukum berat”. kata Ketua JSJ Rully Efendi

Berdasarkan catatan AJI Jember, kasus yang menimpa Kontributor Net TV di Madiun Soni Misdananto, bukanlah kasus kekerasan pertama terhadap jurnalis. Sebelumnya, pertengahan Agustus 2016 lalu anggota TNI AU di Medan menganiaya dua jurnalis dari Tribun Medan dan MNC TV. Tindak kekerasan juga dilakukan ketika dua jurnalis itu sedang melakukan tugas peliputan.

Masih di bulan Agustus, juga terjadi pengancaman verbal oleh anggota TNI kepada seorang jurnalis radio di Bengkulu. Sementara pada Februari 2016 sebelumnya, terjadi insiden perampasan kamera oleh anggota TNI AU kepada jurnalis Radar Malang yang meliput jatuhnya pesawat Supertucano di Kota Malang.

“Pimpinan TNI harus menindak tegas anggota TNI yang melakukan kekerasan terhadap jurnalis dan melakukan evaluasi tentang tugas pokok TNI yang seharusnya melindungi dan mengayomi masyarakat,” ujar Ketua AJI Jember, Ika Ningtyas, dalam siaran persnya.

Perwakilan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Chofie menuturkan, peristiwa itu menunjukkan jika masih ada arogansi ditubuh aparatus negara. “Bahkan pelaku merusak kartu memori yang menyimpan hasil kerja jurnalis. Ini sudah tindakan yang keterlaluan dan Panglima TNI harus bertanggung jawab,” tegasnya.

Ketua FWLM Jember, Ihya Ulumiddin menyebut, institusi TNI agar melakukan revolusi mental. Masih terjadinya kasus kekerasan terhadap jurnalis menunjukkan jika TNI masih alergi terhadap jurnalis. “Saya kira apa yang dilakukan TNI dengan jargon bersama rakyat TNI kuat, masih gagal. Kekerasan itu menunjukkan arogansi aparat masih tinggi,” ucapnya.  (ruz)

Berita Terkait

No comments: