"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Wednesday, November 23, 2016

Diprotes Warga, Pengeboran Batuan Inti Bumi Di Jember Akhirnya Dihentikan

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Disoal Warga Desa Mayangan, kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember, Jatim, pengeboran shallow coring oleh Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jogjakarta akhirnya ditutup.

Kekesalan, dipicu dikhawatirkan pengeboran akan membahayakan keselamatan, seperti yang terjadi pada kasus semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo.  Sebagai bentuk protes, ratusan warga Senin malam (21/11) mendatangi lokasi pengeboran, agar kegiatan tersebut dihendikan, Agar tidak meresahkan warga.

Protes dilanjutkan Selasa siang (22/11), di kantor desa. Mereka menemui Kepala Desa Mayangan, Sulimah, serta perwakilan UPN Veteran Jogjakarta, Iwan Kurniawan, untuk menyampaikan keberatan aktifitas pengeboran tersebut.

"Intinya warga tidak setuju, dijelaskan seperti apapun kami tidak setuju. Sekarang tinggal kebijakan bapak (perwakilan UPN Veteran Jogjakarta) dan ibu kades seperti apa. Apakah dihentikan atau dilanjutkan," kata Jarwo, salah seorang perwakilan warga berapi-api.

Menurutnya, pihak pengebor juga tidak pernah melakukan sosialisasi terlebih dulu ke sejmlah warga warga. “warga merasa takut terjadi sesuatu bila pengeboran itu dilanjutkan," Timpal, Mamat, salah-satu warga lainnya yang saat itu ikut mendatangi kantor desa Mayangan.

Kondisi sempat memanas, puluhan massa yang terkonsentrasi di kantor desa meneriakkan kalimat protes. Upaya memenenangkan oleh Kades Sulimah tak dihiraukan. Keadaan baru terkendali setelah setelah Perwakilan UPN Veteran, Iwan Kurniawan, bersedia menghentikan aktifitasnya.

Meski Iwan meminta dua syarat, untuk menghentikan kegiatannya.  "Pertama, perwakilan warga harus menandatangi berita acara penolakan. Berita acara ini sebagai dasar kami laporan ke Pertamina dan Pemkab Jember," ujarnya.

Kedua, warga mau memberi tenggat waktu 4 hari. Karena peralatan itu sebagian di dalam tanah, sehingga membutuhkan waktu untuk mengangkat dan memindahkannya.  Untuk  syarat ini, warga akan mengawasi, lantaran khawatir syarat ini sebagai trik untuk menuntaskan proyek pengeboran.

Aktivitas ini dilakukan Pusat Studi Mineral dan Energi (PSME) UPN Veteran Jogjakarta yang dibiayai PT Pertamina di Jakarta. "Kegiatan ini adalah survey untuk mencari sample batu atau contoh bebatuan. Kami tidak menambang minyak bumi, emas, gas, maupun pasir besi," jelasnya.

Iwan juga menyatakan, jika kegiatan pengeboran di dusun Muneng desa Mayangan kecamatan Gumukmas  itu telah mendapat izin resmi dari Pemerintah Kabupaten Jember, Pemerintah Kecamatan Gumukmas dan Pemerintah Desa Mayangan.

Iwan menampik anggapan survey itu, pesanan PT Pertamina yang berkaitan dengan jenis usaha perusahaan negara tersebut. Menurutnya, survey ini murni kegiatan akademis yang bertujuan untuk memetakan kandungan bebatuan di wilayah Jawa Timur bagian selatan serta untuk studi para mahasiswa UPN Jogjakarta.  "Tidak ada tujuan lain apalagi dihubungkan dengan tambang," katanya.

Iwan menyebut, kekhawatiran warga soal peristiwa seperti lumpur Lapindo tak mendasar, sebab proyek yang Ia kerjakan hanya pengeboran di tingkat permukaan, yang kedalamannya hanya mencapai 150 meter.   "Kami juga sudah melakukan kegiatan ini di tujuh lokasi berbeda," tuturnya.

Sebenarnya, sambung Iwan, pihaknya telah memetakan potensi konflik di masyarakat. Karena sebagaimana diketahui, di pesisir selatan Jember masyarakatnya anti tambang, dan aktivitas pengeboran itu oleh warga juga dicurigai sebagai eksplorasi awal untuk mengetahui kandungan bahan tambang.

"Kami sudah membaca benar situasi masyarakat, tapi kami inikan memang berbeda dengan tambang terbuka, apalagi kami baru survei bukan menambang. Sehingga kami tidak mengantisipasi, meski kami telah melalui prosedur (perizinan)," ucapnya.

Kades Mayangan Sulimah mengaku, diizinkannya kegitan itu karena Ia melihat tak ada masalah di empat titik yang berada di wilayah Jember selatan.  "Mereka sudah membawa izin lengkap dari kabupaten, Kantor Lingkungan Hidup dan Pemerintah Kecamatan. Karena tujuannya juga untuk penilitian," katanya.

Namun, lantaran warganya melakukan protes, maka pihaknya mengembalikan kepada pihak peneliti,  atas keberatan warganya terkait aktifitas pengeboran ini. Dan Pihak UPN Veteran Jogjakarta sepakat atas tuntutan warga.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan bahwa persoalan ini mulai mencuat, lantaran minimnya sisialisasi, kepada warga disekitar lokasi. Warga juga takut jika pengeboran yang semakin dalam akan terjadi bencana.

Kegiatan yang berjalan, sekitar satu minggu disekitar rumah warga dusun Muneng  bernama Hairul Anam membuat geram warga, karena pihak RT dan warga sekitar  tidak diajak sosialisasi perihal apa yang akan dilakukan oleh pihak tersebut.,

"Undangan sosialisasi saja tidak menerima mas, dan ada juga yang dapat, namun dalam logo undangan pihak Stempel desa tidak ada, kenapa kami harus ikut, karena kami takut nanti dibelakang hari terjasi sesuatu yang tidak kita inginkan" ujar Katiman

"Kami tidak setuju, apapun dalihnya, dan beberapa warga sekitar juga setuju akan melakukan demo jika pemerintah desa menutup mata, dan kami akan siap melakukan gerakan untuk menyita alat tersebut dan akan kami serahkan kepada Kecamatan" ujar S-N jika ini terus dilakukan.

Kami sendiri banyak mencari pelajaran dari beberapa pengeboran dimanapun, dan kami sangat curiga jika pengeboran ini hanya untuk mencari hal lain, dan suatu saat pasti jika ada mineral yang menghasilkan tidak menutup kemungkinan suatu hari ditambang., kami akan membuat gerakan secepatnya untuk menyelamatkan kawasan kami,Pungkasnya.

Ruhman Teknis Mesin dari UPN Veteran Yokyakarta saat dikonfirmasi  Senin,(21/11) menuturkan "kami sudah sosialisasi mas, dan ini cuma untuk mengambil matrial batuan di kedalama 100-200 Meter", dan ini juga untuk penelitian dan penjabaran kawasan di Desa kepanjen ini sebenarnya dulunya daratan atau lautan" tuturnya.

"Pihak kami menambahkan ketika pengerjaan pengeboran ini sudah selesai, warga boleh kok memakai lokasi pengeboran untuk pengairan sawah, dan saya siap memfasilitasi paralon untuk di salurkan kerumah warga" pungkas ruhman asli Bandung tersebut. (ruz/lum/eros).

Berita Terkait Lingkungan

No comments: