Segenap kru dan jajaran Redaksi Majalah Gempur Online mengucapkan Selamat Hari Raya Nyepi 2017"
Custom Search

Sabtu, 26 November 2016

Hasil Produksi Anjlok, Petani Jagung Di Jember Merugi

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Sejumlah Petani Jagong di Desa BagoRejo kecamatan Gumukmas kabupaten Jember Jawa Timur pada musim tanam tahun ini gagal panen. Akibatnya mereka menderita kerugian.

Gagalnya produksi hasil panen, lantaran tanamannya terserang penyakit daunnya memputih atau mereka biasa menyebut Bule,  akibat anomali cuaca tahun ini yang tidak menentu, dan intensitas curah hujan yang tinggi menyebabkan akar jagong membusuk, lantaran terendam air.

“Penyakit itu, mungkin  karena akar jagungnya terlalu sering terendam air mas, sehingga membusuk dan mengakibatkan daunya memutih (terserang penyakit Bule), akibatnya produksi menurun“  Demikian diungkapkan Hoirul Hadi, warga dusun Ampel dento Rt 2 Rw 7 Desa Bagorejo, Sabtu (26/11).

Menurut cak Hadi begitulah Bendahara Gapoktan ini disapa, bahwa kondisi seperti itu petani mengalami kerugian yang sangat siknifikan, “Biasanya kalau normal, perhetar bisa panen 7,5 ton, namun tanun ini, hanya mendapatkan kurang lebih 2 ton, padahal biaya yang dikeluarkan sangat tinggi.” Jelasnya.

Bahkan menurutnya, bukan hanya miliknya yang gagal panen , ada sebagian petani yang gagal panen, ”hampir 80  persen petani jagong di Desa Bagorejo gagal panen, bahkan yang lebih parah lagi ada petani yang tidak bisa panen sama sekali.“ Keluhnya.

Untuk itu Cak Hadi berharap Pemerintah kabupaten (Pemkab) Jember agar turun tangan membantu mengatasi persoalan yang dihadapi petani “Saya berharap petani Jagong juga mendapat asuransi, seperti pada padi, sehingga bila kondisi seperti ini petani jagong bisa terbantu ,” Pungkasnya.

Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pertanian Gumukmas, Sunarto saat di konfirmasi melalui telepon seluler dengan Send Mesagge servise (sms Whatsapp) mengatakan bahwa dirinya tidak terlalu terkejut mendengar keluhan tersebut, pasalnya kondisi itu sudah dipridiksi sebelumnya.

Bukan hanya petani jagung terdampak ANOMALI ini, tetapi petani lain seperti Kedelai, bahkan akibat curah hujan yang tinggi, 2 ton kedele miliknya, rusak hitam dan terancam tak laku jual. “Kondisi ini bukan hanya terjadi di kecamatan Gumukmas, tetapi juga di Kencong,  Puger dan sekitarnya” Jelanya.

Pada iklim ektrim ini mengakibatkan pada pertengahan Oktober banyak puso, sehingga kwalitas tanaman sangat jelek. “secara pribadi dan lembaga kami ucapkan trimakasih masukannya, semoga bisa menyemangati Pemerintah, berbuat lebih optimal melayani petani” Katanya mengawali jawaban.

Pridiksi ANOMALI iklim ini, menurutnya pernah disampaikan 20 Juli 2016, “Saat di UPTD pada Gapoktan, KTNA (Gumukmas dihadiri P Ade), ada Muspika, Penyda Sprodi BAPEM, bahkan saya memberi tau akan adanya amcaman dan resiku gagal panen serta memberikan masukkan SOP dan yang harus dilakukan,”, Lanjutnya.  

Hal serupa juga pernah disampaikan pada dialog sultip di RRI, “Saat ada kunjungan Direktur sapras dan perlindungan, bahkan terakhir pada sarasehan di Boyolali dengan Kementan, saat saya mendampingi poktan juara nasional kedelai”. Katanya.

Untuk menanggulangi hal tersebut, dirinya mengusulkan, Soal Sumber daya air harus ditangani secara koperhensit, mulai dari jangka pendek, menengah dan jangka panjang, mulai dari hulu hingga hilir, termasuk bagaimana alih fungsi lahan di atas / hulu, normalisasi baik affur dilahan maupun di luar.

“Data puso dan genangan saya sampaikan secara rinci pada semua pihak apa yang diperbuat ke depan tentu saya bersama tetep akan mengawal sesuai tupoksi,  namun karena faktor iklim dan air ini bukan kewenangan saya,  kami hanya bisa mengusulkan”, 

Memang sulit mengarahkan orintasi tanan sesuai UU 12/92, karena petani punya kebebasan, namun usulan agar Asuransi pertanian diperluas akan diperjuangkan, bukan hanya padi, kedepan kalau perlu PAJALE  “untuk impati para petani di wilayah saya (4 kecamatan) mulai ok, Nopember ini sudah kami glontorkan subsidi benih, untuk padi inbrida seluas 4.470 ha dan hybrida 125 ha” Lanjutnya.
  
Terkait bule, tidak ada satu pun varitas terbebas bule,  “Saat dialog dengan direktur perlindungan, saya mengusulkan BPSB menambahkan dalam label bebas Hama dan Penyakit, ternyata tidak bisa, saran saya pada petani adalah penambahan tretmen d tingkatkan imunnya” Pungkasnya  (Yond/Eros)

Berita Terkait Pertanian

Tidak ada komentar: