Segenap kru dan jajaran Redaksi Majalah Gempur Online mengucapkan Selamat Hari Raya Nyepi 2017"
Custom Search

Rabu, 25 Januari 2017

Warga Jember Bakal Lapor Ke Dewan pers

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Merasa tidak pernah diwawancarai, tiga warga Jember, protes atas isi pemberitaan yang dimuat di salah-satu koran harian lokal Jember dan mengancan akan melaporkan ke Dewan Pers.

Ketiga warga tersebut masing-masing adalah bernama Sigit Mustofa (Masyarakat), Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Karangharjo H Erfan dan B Rini / B Fia (Penerima Manfaat). Protes dilungkapkan dalam surat pernyataan bermatrai Rp. 6.000.

Kekesalan dipicu, lantaran pernyataan yang ditulis sekitar dua minggu lau, tanpa melalui proses wawancara. “Sebelumnya memang ada yang nemui saya, ngaku wartawan, ditanya id cardnya tidak ada, dia ngakunya malah LSM, namanya Ew, besuknya kok keluar koran itu” Kata Sigit Mustofa, dalam rilisnya Rabo (25/1)

Sontak saja. warga Karangharjo ini terkejut. “Saya tak pernah diwawancarai wartawan media itu mas, apalagi pemberitaannya tidak sesuai. Terus terang saya merasa nama baik saya dicemarkan. Untuk itu kami minta media tersebut maaf melalui medianya, jika tidak direspon kami akan mengadu ke Dewan Pers” Tegasnya.

Padahal yang terjadi dilapangan sebaliknya, program perbaikan 50 rumah dari Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) menjadi Rumah Tinggal Layak Huni (Rutilahu) dari Kemensos RI melalui Dinas Sosial Pemkab Jember di   kecamatan Silo, sudah baik “Kalau tidak percaya silahkan kawan-kawan datang, buktikan sendiri”  lanjutnya.

Program Rutilahu untuk orang miskin dari Kemensos yang dilaksanakan melalui Dinas Sosia (Dinsos) Pemkab Jember ini, berada di dua desa di kecamatan Silo ini, masing-masing di desa Karangharjo sebanyak 30 unit dan di desa Harjomulo 20 unit, setiap unit mendapatkan anggaran sebesar 15 juta rupiah.

Atas kejadian itu, Sigit mengaku merasa diadu-domba oleh isi pemberitaan yang ditulis media cetak yang menulis pernyataannya tersebut. “Pertama saya tidak pernah merasa diwawancara oleh media tersebut dan yang keduanya, kenapa ada pernyataan dan foto saya muncul di koran itu,” Keluhnya.

Pernyataan itu juga dikuatkkan salah-satu angggota Tim Monitoring Evaluasi (Monev), Budiono. Menurutnya program itu tidak ada persoalan, “Secara fisik, tidak ada persoalan, Karena pada faktanya pekerjaan program Rutilahu ini memang belum tuntas sepenuhnya, bahkan, proses monev saat itu masih berjalan”. Jelasnya

Kalau itu dikatakan adanya penyimpangan saya kira tidak betul, karena program ini masih berjalan, bahkan secara fisik program ini sudah layak, perlu dipahami layak itu bukan berarti bagus, bukan berarti mewah, dengan artian sudah mememenuhi katagori layak itu.

“Beralaskan Lantai, jelas, apalagi ini sudah kramik, yang kedua dinding ini sudah tembok, dan yang ketiga adalah atap, atap ini sudah asbes, ini kita bingung ada yang menilai program ini terjadi penyimpangan, bahkan tim monev program di Silo ini, dinyatakan berhasil.” katanya.

Namun, setelah koran itu menyebar, kemudian ada pihak lain yang melapor ke polisi dengan tuduhan penyimpangan.  Untuk itu Budiono mengajak semua pihak menilai secara obyektif.  “Padahal Program kami ini jadi percontohan. Kenapa malah disoal dengan kabar tidak benar (Hoax; red),” sesalnya.

Dampaknya, banyak relawan waswas, hal ini dikhwawatirkan para relawan jadi enggan untuk membantu program 100 Rutilahu tahun 2017. “Kalau memang ada dugaan penyelewengan, silahkan perkarakan. Tapi bukan seperti ini caranya, ujung-unjungnya rakyatlah yang dirugikan,” pungkasnya. (tim)

Berita Terkait Sosial Budaya

Tidak ada komentar: