Selamat Hariraya Idul Fitri 2017 "Minal Aidin Walfaizin", Mohon Maaf Lahir dan Batin."
Custom Search

Sabtu, 11 Februari 2017

Para Jurnalis Harus Memiliki Jiwa Nasionalisme

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Para insan pers dituntut agar lebih profesional dalam mencari dan menyajikan sebuah  berita, disamping itu harus memiliki Jiwa Nasionalis, kepentingan bangsa harus diletakkan diatas kepentingan pribadi maupun golongan.

Pada Era globalisasi yang berkembang sangat pesat ini, dunia sudah tidak ada batasan lagi, apa yang terjadi di Amirika detik ini, Trum ngomong apa, maka bisa dilihat, dibaca dan didengar detik ini juga di Indonesia. Kemudahan-kemudahan itulah yang sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Demikian kata wartawan senior Jember, Aga Suratno dalam diskusi publik “Ancaman Disintegrasi Bangsa dan Hilangnya Semangat Kebangsaan” yang diselenggarakan Forum Wartawan Lintas Media (FWLM) Jember, di warung kembang, Sabtu (11/2).

Hadir dalam acara  tersebut pululuhan wartawan dan sejumlah pemateri yaitu, Kasat reskrim, AKP Bambang Wijaya, Dandim 0824 Jember, Letkol Ifantri Rudiyanto, Wartawan senior Jember, Aga Suratno, Anggota DPRD Jawa Timur Fraksi Nasdem,  Moch Iksan,  Kepala Bakesbangpol, Suprapto dan akademisi, Soeseno.

Akibat pesatnya globalisasi banyak bermunculan media baru yang tidak jelas keberadaannya dan menyajikan berita bohong, yang tidak jelas juga sumber beritarnya (hoax). Jika hal ini dibiarkan, bisa saja akan mengancam disintegrasi bangsa.

Memang ada ungkapan yang mengatakan bahwa tugas jurnalisne itu  "Bad News Is Good News". Bagi pers, kejadian yang buruk itulah berita yang bagus. Kalau situasi nyaman tidak ada berita,  “Pendapat seperti itu perlu dirubah, Bisa  kok kejadian yang baik, menjadi berita baik”. Katanya.

Konflik itu tidak bisa dihindari, yang bisa dilakukan adalah mengelola konflik. Ini pendekatannya mesti harus konfrehensif. Tidak bisa hanya jurnalistik saja tetapi juga harus melalui pendekan ekonomi, politik, sosial dan budaya, pertahanan dan keamanan.

Kalau bicara disintegrasi, menurutnya bahwa disintegrasi itu artinya berpecah-belah, jangan-jangan memang ada tangan-tangan yang sengaja mau mengkapling Indonesia (Imposile ya?). Katanya ini yang sedang berlangsung di Indonesia. Kalau menurut Analisanya Panglima Tentara Nasional (TNI), itu adalah Proxy War.

Ancaman disintegrasi itu sebenarnya tidak ada apa-apanya. Proxy War, ini sebenarnya teori lama, karena kelangkaan sumber daya alam. Pasalnya tidak semua negara dapat memenuhi hajat hidup bangsanya, sehingga mereka (kaum kapitalis) ekspansi ke negara yang kaya akan sember daya alamnya.

Jangan-jangan itu, memang itu ulah kapitalis, karena globalisasi itu idealnya, satu sama lain saling tergantung, saling berinteres, nyatanya tidak. Tetapi kita jangan berkecil hati, semakin mengglobal, ada sebuah kondisi sebagai bangsa kita akan terangkat identitas dan entitasnya.

Semakin terancam suatu bangsa, maka kita juga akan semakin bisa mempertahankan diri terhadap panetrasi pengaruh-pengaruh globalisasi itu. “Dan saya sangat menyakini itu, dan Indonesia sudah teruji, karena kita sudah sepakat bahwa NKRI harga mati” lanjutnya.

Bagaimana para jurnalis melawan kemajuan teknologi informasi. Karena sejak dulu masyarkat sudah dikonstuksi bahwa pesan itu menandakan realitas, sampai kemudian pesan itu menutupi realitas. Sampai kita beranggapan yang muncul di media sosial, seolah menjadi faktanya, padahal tidak seperti itu”. Tegasnya.

Untuk itu, seorang jurnalis harus berpegang teguh pada Kode Etik, ini harus dijadikan pedoman ketika berada dilapangan, agar pesan itu tersampaikan dengan sebenar-benarnya. “Bahwa keadaan seperti ini, tidak seperti itu. Ada keburukan seperti ini, tidak seperti itu dan seterusnya”. Harapnya.

Ada sisi baik sebenarnya berita dibalik konflik yang bisa kita tulis, akibat kejadian tersebut ada ribuan janda, anak yatim, ada trauma sosial didalam masyarakat. Paradikma itu yang harus dirubah, termasuk etika saat melakukan wawancara dengan narasumber.  

Dalam kesempatan tersebut Cak Aga, biasa wartawan senior Jember ini dipanggil mengingatkan kepada para wartawan agar selalu menyajikan berita yang akurat dan mengedepankan etika dalam melakukan peliputan berita dilapangan. “Minimal kode etik jurnalistik sudah paham," ujarnya.

Pasalnya persoalan media sangat kompleksitas dan butuh pemahaman dan kesadaran diri dari pelaku media itu sendiri. “Untuk itu para pekerja pena harus mampu menjaga independensi dalam menyajikan berita dan tidak  terkontaminasi oleh kepentingan”. Harapnya.

Termasuk perlu menghindari media Pengusaha-Penguasa (Pengpeng). "Disinilah pertaruhannya, kalau media sudah memihak, yang ditakutkan malah akan menimbulkan dis integrasi bangsa, Untuk itu para wartawan harus memiliki jiwa nasionalisme” katanya dengan nada cemas. (midd)

Berita Terkait Sosial Budaya

Tidak ada komentar: