"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Wednesday, 15 March 2017

Kasus Pemerkosaan Antar Pelajar Di Jember Bukti Dunia Pendidikan Gagal Didik Anak

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Kasus pemerkosaan yang terjadi antar pelajar di Desa Sukorejo Desa BAngsalsari Kabupaten Jember Jawa Timur baru-baru bukti merosotnya nilai akhlaqul karima dan lemahnya pengawasan Stakeholders di dunia pendidikan.

Akibatnya nilai-nilai agama ditinggalkan, dan tidak ada rasa takut lagi berbuat dosa, termasuk melakukan hal-hal yang dilarang agamanya. Untuk membuktikan keyakinannya, anggota DPRD Jember Rabo pagi (15/3) sidak  di sekolah tempat korban pemerkosaan sisiwi SMP oleh  dan pelaku 9 siswa SMK.

Sejak pukul 07.00 Wib Rabu pagi,(15/3), tampak anggota Komisi D ini memantau proses belajar-mengajar di sekolah itu, situasi berjalan normal, namun selang beberapa waktu, kejanggalan mulai menyeruak di saat semua murid mulai keluar kelas padahal proses belajar-mengajar masih berlangsung.

Ironisnya, meski jam dinding sudah menunjukkan angka 07.15 wib, beberapa pengajar masih ada yang baru datang, dengan santai sejumlah guru masuk ke ruangan. Hal inilah yang  membuat salah satu anggota Dewan dari partai Hanura mengela nafas panjang.

"Lembaga Pendidikan ini kok begini ya, padahal tata tertibnya sudah jelas, namun ternyata sejumlah pengajar datangnya terlambat dan gurunya terlihat hanya beberapa orang, padahal disini ada 4 lembaga yang dinaungi sekolah ini, pada kemana pendidik ini" Ujar Isa Mahdi geram.

Menyingkapi kasus terjadinya pemerkosaan siswi SMP oleh beberapa siswa SMK, menunjukkan Lembaga ini, kurang peduli dan lambat mengantisipasi, sekolah telah gagal mendidik anak, apalagi informasi dari Kepala Sekolah SMP, sebelum masuk kelas murid diwajibkan sholat dhuha dan mengaji.

Faktanya tidak seperti itu, beberapa anak didik mengaku kegiatan itu dilakukan di MTS yang masih satu lembaga. Yang bikin lebih geram, Kasek saat di telfon dan di SMS tidak merespon, bahkan salah satu guru yang mendampingi dewan melihat-lihat ruangan, waka Humas Mosleh pergi meninggalkan anggota Legislatif ini.

Kemudian, pria yang biasa dipanggil Habib Isa ini meneruskan sidak ke  SMP salah satu anak didiknya yang menjadi korban pelecehan tersebut, anehnya, beberapa guru dan kepala sekolah SMK berkumpul disitu, mengetahui kedatangannya, beberapa guru sempat terperanggah.

Sempat beberapa guru hilir mudik keluar ruangan, dan sempat ada yang cuek dan terkesan sembunyi yaitu Kepala Sekolah SMK AR hingga membuat dewan memanggil dirinya duduk bersama untuk membicarakan perihal terjadinya kasus tersebut.

Dari pembicaraan dengan Kepala Sekolah SMP di ruangan, ironisnya hingga saat ini ini belum ada dari lembaga dinas pendidikan yang datang di Sekolahnya, termasuk dari pihak lembaga SMK perwakilan provinsi yang berada di jember.

"Kejadian ini menunjukkan, sekolah dan dunia Pendidikan telah gagal mendidik anak, lantaran kurangnya perhatian, baik sekolah maupun dari Stakeholders. Agar kejadian sedini mungkin dapat diantisipasi, sekolah harus  peka, dan tanggap, sehingga anak didik tidak sampai menjadi korban, " pungkasnya.

Atas kejadian itu legislatif yang sebelumnya mengusulkan Perda Tes Keperawanan ini kembali berencana mengusulkan Peraturan Daerah (Perda) tetang Akhlakul Karimah.ungkap  Isa Mahdi, Anggota DPRD Jember asal fraksi Hati Nurani Rakyat (Hanura), Selasa (14/3) lalu.

Menurut Isa, kejadian memalukan yang masih hangat diperbincangkan itu bisa dijadikan momentum. "Disitu para pelajar diberlakukan jam malam yang membuat fungsi kontrol sosial pada mereka saat sedang di luar jam sekolah tetap berjalan seperti biasa," ungkapnya.

"Tambahan pendidikan agama saja tidaklah cukup. Terbukti dari kasus SMK yang notabene sarat dengan suasana keagamaan ternyata masih tetap saja masih terjadi perilaku asusila, bahkan diawali dengan pesta minuman keras," tuturnya.

Dari sekian kali pemberitaan kasus ini, begitu sepi tanggapan dri para pemangku pendidikan yang notabene sudah menjadi bagian dan tanggung jawabnya,  seharusnya para pemangku pendidikan segera menginisiasi pertemuan guna menyingkapi permasalahan itu dengan cepat. Keluhnya.

Untuk itu komisi D masih menunggu datangnya stakeholders pendidikan terkait ihwal kejadian itu. Bukan cuma Dinas Pendidikan, tapi juga institusi lain yang tekait, seperti Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), orang tua siswa dan pihak lain untuk ikut andil menyelamatkan generasi bangsa.

Diberitakan sebelumnya Kamis, (9/3) 5 dari 9 pelaku pemerkosa bocah SMP AIS (16) Warga Dusun Krajan, Desa Sukorejo, Bansalsari, Kabupaten Jember, di tiga tempat berbeda Minggu (12/3) diamankan Polisi. Sementara, 4 pelaku masih dalam pencarian.

Kejadian ini bermula saat korban diajak  pesta miras oplosan (alkohol 70 persen + kuku bima). Lantaran takut diketahui orang, perbuatan para tersangka dilakukan di tiga tempat berbeda. Setelah puas melakukan kelakuan bejatnya, lalu korban diantar pulang kerumahnya.

Untuk ke lima tersangka langsung diamankan, sementara 4 yang lain masih dalam pengejaran. “Kelima pelaku, sudah kami serahkan / melimpahkan ke unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres (PPA Res) Jember, sementara 4 yang lain masih dalam pencarian. (midd/edw/Lum)

Berita Terkait Pendidikan

1 comment:

ALFAN BAINOFI, SPd said...

wah, prematur sekali mengatakan 1 kasus di sebuah lembaga, lalu digeneralisir ke dunia pendidikan secara umum.

padahal ribuan sekolah, berhasil mengantisipasi kasus yang sama bahkan narkoba dll


sebaiknya perlu belajar kaidah jurnalistik lagi, alias upgrading jurnalistik