Selamat Hariraya Idul Fitri 2017 "Minal Aidin Walfaizin", Mohon Maaf Lahir dan Batin."
Custom Search

Rabu, 01 Maret 2017

Ingin Jadi Polisi, Bocah SD Tanpa Kaki Disambangi Kapolres

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Walau dilahirkan dalam kondisi normal, bocah tanpa memiliki kedua kaki sejak dilahirkan, Ahmad Najib Tarjudin (7 tahun) tetap tegar menjalani hidup. Bahkan, ia mengaku memiliki mimpi besar, bercita cita ingin menjadi seorang polisi.

Mendengar mimpi bocah itu, Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo SH, SIK,MH, Selasa (28/2) menyambangi anak yang sedang duduk dikelas 1 SDN 3 Kamal dari Dusun Kopang RT 03 RW 08 Desa Kamal, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember Jawa Timur.

Kedatangan Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo Ke pelosok desa terpencil, yang jaraknya kurang lebih sekitar  15  KM dari pusat kota tembakau ini tidak lain untuk melihat dari dekat kondisinya, sekaligus memberikan suport kepada bocah itu sendiri dan keluarganya.

Ahmad Najib Tarjudin merupakan anak pembrani dan percaya diri, meski mempunyai keterbatasan, tidak dirasa sebagai penghalang untuk maju, sebagai bukti didalam kelas Ahmad selalu tampil memimpin dikelasnya, selain itu ia tidak mau dibantu oleh kawan-kawanya.

“Tidak ada batasan dan tidak ada yang tidak bisa selagi mau, terbukti Ahmad bisa berprestasi, dan berjuang tidak punya sifat minder dengan temanya, ini merupakan modal bagi Ahmad untuk berprestasi bahkan bisa melebihi teman yang normal.” Jelas AKBP Kusworo

Perlu diketahui bahwa, sosok Ahmad Najib hidup bersama sang ibu tercinta, Nipa (45) di rumahnya. Mereka hidup sehari hari dengan kondisi ekonomi keluarga miskin, namun sang Ibu tidak menyerah, ia terus menyemangati Najib yang merupakan si bungsu dari tiga bersaudara itu.

"Mungkin ini sudah menjadi takdir untuk anak saya yang mempunyai kekurangan fisik sejak lahir. Tetapi saya terus berupaya memberikan motivasi agar Najib tidak malu dan tetap bersekolah" ucap Nipa terbatah-batah seraya matanya berkaca-kaca, saat ditemui di rumahnya.

Di SDN Kamal 03 bersama teman sebayanya, Najib belajar dan bermain tanpa rasa minder meski berbeda dengan teman yang lain. Nipa menjelaskan, setiap hari Najib berangkat ke sekolahnya yang berjarak sekitar empat kilometer dari rumah. Satu harapan Najib, dia ingin menjadi pintar dan kelak menjadi polisi.

Sebenarnya, bagi keluarganya, cita-cita menjadi aparat penegak hukum hanyalah mimpi belaka, karena kondisi Ahmad yang tidak mungkin akan memenuhi syarat, tetapi dengan cita-cita dan mimpi yang tinggi minimal anak tersebut tetab tegar untuk belajar.

Bahkan di sekolah, raut wajahnya tampak ceria, tanpa beban, tertawa dan bermain layaknya anak yang normal. "Walaupun memiliki kelainan, Najib tidak kalah semangatnya. Saat bermain bola dia harus tertatih-tatih menggunakan tangan untuk berebut bola," kata Sriyanto, guru olah raganya

Menurutnya, Ahmad memiliki kecenderungan ingin sama dengan temannya yang lain. Walupun dengan kondisi fisik yang terbatas. "Walaupun juga, sesekali Ahmad Najib mengeluhkan rasa ngilu di kedua lengan tangannya karena menahan berat badannya itu," terangnya.

Najib sempat bercerita jika dirinya ingin menjadi polisi. "Iya saya tetap harus sekolah, supaya jadi anak pintar dan bisa jadi polisi," kata Najib dengan nada polos. Bahkan dirinya mengaku sudah dibelikan baju polisi oleh ibunya. Bagi Ahmad, keterbatasan bukanlah penghalang  untuk terus berjuang menjalani hidup. (edw)

Berita Terkait Pendidikan

Tidak ada komentar: