"Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.", "Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.","Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72."
Custom Search

Rabu, 29 Maret 2017

Puluhan Nelayan Kembali Pertanyakan Sertifikat LC Puger

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Puluhan nelayan miskin penerima lahan program LC (Land Consolidation) di perumahan pesisir Pantai Pancer Desa / Kecamatan Puger Jember Jatim, Rabu siang (29/3), kembali meminta sertifikat miliknya, diserahkan. 

Mereka mendesak  lantaran , sebagian warga ada menerima tokopinya dan menempati perumahan. "Kopinya saja belum kami terima apalagi yang asli, akibatnya kami tidak bisa menempati rumah  hak kami," Keluh Sianto, (52), nelayan asal Puger Kulon yang namanya tercantum sebagai penerima LC.

Padahal, penerima Lahan LC  banyak yang membayar ke oknum Pengurus Koperasi Makmur Sejahtera.  Wakil Koordinator Penerima Bantuan, Sunardi, yang menemui, mengaku tidak tahu menahu, "Saya juga tidak tahu dari mana datangnya fotokopi sertifikat LC itu." jelasnya di komplek perumahan LC Puger.

Sunardi menyarankan bertanya kepada warga yang sudah memegang, Dari mana mereka mendapatkan kopian sertifitat LC. Hal tersebut terungkap, warga mengaku sertifikat diperoleh dari salah seorang pembantu umum Koperasi Makmur Sejahtera, bernama Slamet. 

Namun, Slamet yang sebelumnya mengaku tidak tahu, usai didesak, ia mengambil solusi mengumpulkan seluruh fotokopi KTP (Kartu Tanda Penduduk) nelayan, yang terdata sebagai penerima LC.  "Fotokopi itu, berfungsi sebagai syarat bisa menempati rumahnya di LC." Ungkapnya.

Slamet berdalih bahwa sertifikat asli, dipegang notaris. "Untuk Sertifikat aslinya masih di Pak Bambang Hermanto, Namun demikian, dari sekitar 700 sertifikat, sebagian diantaranya dikabarkan hilang. Ada 485 sertifikat asli yang masih berada di tangan notaris, dan 215 sisanya hilang" paparnya.

Diberitakan sebelumnya bahwa sejak tahun 2008, ratusan nelayan miskin penerima bantuan lahan LC program Pemerintah melalui BPN yang kini Kementrian Agraria hingga kini belum menerima sertifikat hak nya. Para nelayan menduga bahwa sertifikat tersebut diagunkan. (Yond)

Berita Terkait Sosial Budaya

Tidak ada komentar: