Selamat Hariraya Idul Fitri 2017 "Minal Aidin Walfaizin", Mohon Maaf Lahir dan Batin."
Custom Search

Senin, 27 Maret 2017

Ungkap Kasus KIP, Jurnalis Jember Disekap Dan Dianiaya

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Kekerasan terhadap Jurnalis masih saja terjadi, kali ini Mohammad Nasir. Wartawan Bidik asal Kabupaten Jember Jawa Timur Sabtu malam (26/3)  mengaku dianiaya, disekap, dan diancam dibunuh.

Upaya Intimidasi oleh Oknum Kepala desa (Kades) dan sejumlah oknum Kepala Sekolah (Kasek) Desa Tamansari Mumbulsari, Lantaran Jurnalis yang biasa di Panggil Monas ini diduga akan mempublikasikan kasus dugaan penyelewengan dana Kartu Indonesia Pintar (KIP) di ke Tiga Sekolah tersebut.

Awal penganiayaan ini terjadi di Pujasera Jalan PB Sudirman depan Dinas Sosial ( Dinsos) Jember. "Malam itu saya yang siangnya sudah janji wawancara, bertemu dengan tiga oknum kepala sekolah, ketika saya mau pulang, setelah saya menolak dikasih uang agar tidak dipublikasikan, datanglah segerombolan orang” Jelasnya

Bahkan saat itu sempat terjadi cek-cok, dan langsung memaksa masuk kedalam mobil yang mereka sudah dipersiapkan“ Saya langsung dimasukkan ke dalam mobil secara paksa, ketika hendak mengambil sepeda di parkiran Pujasera, seingat saya ada 4 mobil saat kejadian jam 22.00 wib itu" Kisah Monas.

Setiba di salah satu SPBU di Jl. Basuki Rahmad selatan Pasar Sabtuan, sekelompok orang yang menggunakan mobil jenis Avanza warna hitam, korban diturunkan dan dimasukkan dalam Musholla. Di parkiran SPBU ada beberapa mobil yang diduga anggota dari orang yang meculik dirinya.

Ketika di Musholla, Monas mendapat perlakuan kasar dan pukulan dari sejumlah orang. "Usai dipukuli, saya dinaikkan ke mobil lagi, tapi di mobil yang berbeda, dan didalamnya ada tiga kepala sekolah dan kades serta beberapa orang, sekitar 7-8 orang, dan saya dibawa ke Mumbulsari," jelasnya.

Selama perjalanan, ia masih terus mendapat ancaman dan penganiayaan. Sesampai di salah-satu balai desa di Mumbulsari, ia kembali mendapat perlakuan kasar, bahkan banyak warga yang menyaksikan malam itu "Saat dimobil saya sempat mendengar ancaman kalau saya mau dibunuh. Katanya

"Saat saya dipukuli, teman saya yang juga anggota salah-satu LSM datang, tapi dia juga dipukuli oleh orang orang ada di balai desa tersebut, saya baru bisa keluar dari balai desa sekitar jam 4 pagi, itupun setelah saya memberikan 'sanjungan' kepada kades," Pungkasnya

Atas kejadianya tersebut M Nasir yang di ampingi oleh sejumlah wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Lintas Media (FWLM) Jember, Senin siang (27/3) mendatangi dan melaporkan kejadian tersebut ke Mapolres Jember.

Kejadian ini berawal dari korban yang hendak mewawancarai dugaan penyelewengan KIP  Sabtu siang (25/3) ke tiga Oknum Kepala Sekolah di Tamansari, setelah mendapat informasi dari Abdurahman, salah-satu anggota LSM MP3 Jember, yang mendapat laporan warga.

Dana yang yang seharusnya diberikan kepada siswa, ternyata diambil oknum kepala sekolah. Kemudian Wali Murid bertanya ke pihak sekolah, akhirnya diberi surat pengantar dan kartu KIP, ketika siswa ke Bank BRI. Ternyata uangnya sudah dicairkan oleh pihak sekolah.   

Lantaran kasusnya akan di publikasikan, kemungkinan ketiga oknum Kepala Sekolah dan Kepala Desa kemungkinan marah yang kemudian berujung  penganiayaan, penyekapan dan pengancaman pembunuhan kepada korban, sampai terjadinya pelaporan ke Mapolres Jember.

Ketua LSM MP3, Farid Wajdi, mengakui kejadiannya setelah anggotanya, mendapat keluhan penyelewengan dana KIP dari masyarkat.  “Setelah disampaikan Kasek, di mediasi Kades, kemudian uang dikembalikan ke sejumlah murid dengan nominal berbeda, di masjid setempat”. Katanya menirukan cerita anggotanya

Farid, menampik, rumor ada konpensasi mediasi, pasalnya Ia  tidak  merasa menerima uang itu, bahkan Ia mengaku pernah mengklarifikasi hal itu, ketika ditanya anggotanya, saat bertemu di Mumbulsari. “Kami masih akan menunggu perkembangan penyelidikan dulu lah, sebelum sampai ke rana hukum” Pungkasnya.   

Menanggapi hal tersebut Pimpinan Redaksi  (Pemred) Bidik, Zainul Arifin minta Polres Jember mengusut tuntas kasus ini, “Kami meminta Kapolres mengusut tuntas kasus ini, pasalnya saat itu ia sedang melaksanakan tugas jurnalis” Tegasnya saat diklarifikasi media ini melalui telephone selulernya.

Pantauan media ini, usai korban melaporkan itu, tampak  korban dan sejumlah oknum Kepala sekolah dan Kepala desa serta sejumlah saksi di Panggil  Polres Jember untuk dimintai keterangan lebih lanjut, atas kasus penyekapan, penganiayaan dan ancaman pembunuhan itu.

Hingga berita ini dipublikasikan, sejumlah fihak terkait, seperti korban, pelaku dan pihak kepolisian masih belum dapat diklarifikasi, pasalnya Polisi masih melakukan penyelidikan, masih dilakukan pemeriksaan kepada korban dan sejumlah saksi.  (Yond/midd/edw)

Berita Terkait Kriminal

Tidak ada komentar: