Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.", Mohon Maaf Lahir dan Batin."
Custom Search

Rabu, 12 April 2017

Promosikan Pecel Pitik, Festival Banyuwangi Kuliner Hadirkan Chef Juna

Banyuwangi, MAJALAH-GEMPUR.Com. Festival Banyuwangi Kuliner Tahun ini kembali menghadirkan ajang promosi wisata kuliner lokal bertema "Pecel Pitik", sebuah kuliner tradisional khas Suku Osing.

Festival kulner tradisonal khas Osing  (masyarakat asli Banyuwangi), ini dihadiri Chef Juna, juri program Master Chef Indonesia. "Untuk mempromosikan khazanah kekayaan kuliner lokal, setiap tahun kami sajikan tema berbeda, sebelumnya, rujak soto, sego cawuk, dan nasi tempong," ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat membuka Festival, Rabu (12/4).

Pecel Pitik (Ayam; Jawa red) adalah makanan berbahan utama  ayam kampung bakar yang disuwir dengan parutan kelapa berbumbu. "Pecel pitik ini benar-benar beda, Cukup unik, kuliner lokal yang hampir menyerupai masakan ini tidak pernah saya temui. " kata Anas.

Kuliner di festivalkan, Karena salah-satu tujuan utama wisatawan adalah kuliner. Dengan festival ini, pamor kuliner lokal Banyuwangi bisa meningkat, “Ini upaya kami mem-branding, event ini untuk memberikan manfaat secara ekonomis,  Jadi warung-warung yang jual kuliner lokal bisa makin laris,” papar Anas.

Kehadiran Chef Juna untuk memicu kreasi pelaku kuliner. Juna akan demo masak, penyajian pecel pitik yang menarik. "Saya sering dengar Banyuwangi, tapi baru kesini. Warganya ramah, kulinernya unik. Ada ciri khas yang tak ditemui di tempat lain, seperti perpaduan bumbu dan jenis makanan. Rasanya enak," katanya.

Pecel pitik, menurut chef bernama lengkap Junior Rorimpandey itu, memiliki cita rasa kaya. Karena proses pemberian bumbu sampai tiga tahap. Mulai daging ayamnya, parutan kelapa hingga sambal kacangnya. “Memberi bumbu yang sampai tiga taha, membuat cita rasa pecel pitik lebih kaya ketimbang olahan daging ayam di Nusantara ini,” ungkap  chef kelahiran Manado, (20-7/1975) itu.

Chef Juna mengapresiasi digelarnya festival kuliner ini. Menurutnya, kuliner merupakan salah-satu pendukung pengembangan industry pariwisata. “Setidaknya ada empat faktor yang menyusun pariwisata. Diantaranya adalah kulinernya. Maka, pengembangan pariwisata mau tak mau juga harus mengembangakan kulinernya. Bisa dikatakan, kuliner menyumbang 25 persen dari sektor pariwisata ini,” papar salah satu anggota dari Indonesia Chef Association tersebut.

Dengan mengundang hadirkan para wisatawan ke daerah secara langsung, menurutnya, akan semakin mempercepat memperkenalkan kuliner Indonesia ke ranah global. “Wisatawan itu orangnya open minded. Mereka mau mencoba kuliner apa saja yang ada di suatu daerah. Maka, jika kuliner tersebut cocok, akan mudah dikenal oleh dunia,” katanya.

Dengan cara demikian, lanjutnya, akan lebih efektif ketimbang membawa makanan khas daerah untuk dipamerkan di daerah lain atau bahkan di luar negeri.  “Kuncinya adalah dengan memperbaiki sarana pariwisatanya dan mengedukasi pelaku kulinernya untuk menyajikan makanan higienis,” ungkapnya.

Sementara menurut Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Banyuwangi, Alief Kartiono bahwa festival kuliner ini melibatkan 190 peserta dari warung penjual kuliner pecel pitik, pelaku restoran dan jasa boga. Para peserta ini akan berlomba menyajikan pecel pitik terbaik dengan mengenakan pakaian khas Banyuwangi dengan memakai penutup kepala ala chef saat memasak.

Meski puncak acara berlangsung 12 April, para pengunjung bisa menikmati pecel pitik dan masakan khas lainnya hingga lima hari ke depan, 12 - 16 April di Taman Blambangan. Pengunjung bisa merasakan makanan lokal dari seluruh penjuru Banyuwangi di area food court. Mulai ayam pedas Rantinem, sego tempong Mbok Wah, hingga warung-warung  seafood. (hms/him)

Berita Terkait Ekonomi Bisnis

Tidak ada komentar: