Selamat Hariraya Idul Fitri 2017 "Minal Aidin Walfaizin", Mohon Maaf Lahir dan Batin."
Custom Search

Minggu, 14 Mei 2017

Mata Air Kolbuk, Potensi Wisata Alam Jember Yang Terlupakan

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Berdasarkan legenda yang hidup dan berkembang di masyarakat bahwa, Sumber air 'Kolbuk'  di Curah Damar Desa Sidomulyo ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit.

Bahkan Sumber, di Kecamatan Silo, Kabupaten Jember Jawa Timur itu konon menjadi tempat favorit dan persinggahan, Layang Seto dan Layang Kumitir, dua anak Patih patih Logender, Patih Kerajaan Majapahit kala dipimpin Ratu Kencono Wungu.

Untuk mengenang legenda itu para pemuda setempat, ingin menjadikan tempat itu sebagai pesona wisata alam andalan. “Ada dua mata air yang akan kami dikembangkan sebagai destinasi wisata.”  Demikian ungkap Ketua Gerakan Pemuda Sidomulyo (GPS), Kamiludin, Minggu (14/5).

Kolbuk’, sebuah sumber air yang muncul alami di area hutan. Untuk mencapai mata air di lokasi kaki Gunung Gumitir, Desa ujung timur Jember yang berbatasan kabupatem Banyuwangi ini, pengunjung akan disuguhi pemandangan hutan pinus, sungai alam berair bening, serta suasana sejuk khas pedesaan.

Dari pusat kota Jember berjarak, sekitar 40 kilometer, cocok bagi yang suka tantangan, pasalnya akses menuju lokasi tersebut masih alami. Karena letak mata air ada di kawasan hutan mini, dengan kontur berbukit seluas 4,5 hektare. Satu-satunya akses jalan, adalah jalan tanah yang hanya bisa dilewati motor atau jalan kaki.

Di kanan dan kiri jalan setapak itu, hidup tanaman kopi yang tumbuh di bawah pohon mahoni berukuran jumbo. “Sebenarnya banyak potensi yang bisa dikembangkan disini, seperti kopi robusta, susu kambing etawa, dan wisata alam, namun akan kita mulai dari wisata Kolbuk ini”. Jelasnya.

Menurut Kepala Desa Sidomulyo, Toha, sumber air alam itu ada sejak zaman kerajaan. Berdasarkan legenda yang hidup di desanya, kolbuk ini pernah menjadi persinggahan Layang Seto dan Layang Kumitir, dua anak Logender, seorang Patih Kerajaan Majapahit kala dipimpin Ratu Kencono Wungu.

Dua pemuda sakti ini, konon sempat mandi di mata air itu, hingga saat ini warga menjaga kelestarianya. “Sejak dulu, area kolbuk tak pernah ada kayu yang ditebang. Sebab, wargalah yang menjaganya. Andai ada satu saja kayu yang hilang, warga pasti tahu dan akan mencari siapa pelakunya,” tutur Toha.

Hal ini, merupakan kearifan lokal yang tumbuh di masyarakat. Sebab, selain ada legenda yang melekat, dua sumber tak pernah berhenti itu juga tempat mandi dan sumber air minum, sekaligus mengairi sawah. Apalagi, ketika kemarau, saat sumur-sumur mulai mengering, mereka mengandalkan kolbuk menjadi sumber air.

Untuk mengelola satu dari dua sumber, pada 1960-an, warga membangun bendungan mini berbentuk kolam berukuran sekitar 7 x 4 meter dengan kedalaman 50 centimeter, diberi tujuh lubang yang memacarkan air ke bawah, sehingga air yang tak pernah berhenti itu terus mengalir dari lubang-lubang itu.

Sumber lain berjarak 4 meter dari kolam itu, keluar dari perut bumi, lantaran airnya terus mengalir deras, memancar hingga membentuk gelembung-gelembung kecil, warga yang mayoritas berpenduduk madura  menyebutnya buk-kolbuk (gelembung-gelembung air). Dalam istilah Jawa, kolbuk juga berarti Sendang.

“Kawasan ini seluas 4,5 hektar, dan merupakan lahan yang menjadi aset desa. Kami tentu sangat mendukung yang dilakukan para pemuda. Dan rencananya, potensi wisata ini akan kami jadikan Bumdes (Badan Usaha Milik Desa), sebagai payung hukum mengelola potensi wisata tersebut,” kata Toha.

Dalam deklarasi yang digelar Sabtu (13/5) lalu, menghadirkan Anggota DPR RI, Ayub Khan. Politisi Partai Demokrat ini siap mendukung gerakan mengembangkan potensi wisata desa. Menurut Kamiludin, membangun jejaring perlu dilakukan, sebab mereka tak mungkin berbuat sendiri.

“Saya sudah melihat langsung bagaimana potensi desa dan pemudanya. Tentu saya sangat mengapresiasi dan akan mendukung dengan jalan membangun sinergi dengan DPR RI, pemerintah daerah maupun Kementerian, saya akan mengawali dengan melakukan sinergi melalui komisi saya.,” ujar Ayub Khan.

Saat ini politisi kelahiran Jember tersebut menjabat di Komisi IX yang menjadi mitra kerja Kementerian Kesehatan, Kementerian Ketenagakerjaan, BKKBN, BPOM, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja, BPJS Kesehatan, serta BPJS Ketenagakerjaan.

“Namun kedepan, saya juga akan membantu melakukan sinergi dengan lintas komisi. Targetnya, semangat pemuda di Desa Sidomulyo ini harus disambut baik dan didukung agar terus berkarya membangun desanya,” tukasnya. (yond/ruz)

Berita Terkait Hiburan

Tidak ada komentar: