Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.", Mohon Maaf Lahir dan Batin."
Custom Search

Rabu, 14 Juni 2017

Berkah Ramadhan, Nenek Tanpa Kaki Ini Banjir Bantuan

Situbondo, MAJALAH-GEMPUR.Com. Nenek Ima (60), Wanita Tuna Daksa asal desa Peleyan, Kapongan Situbondo, yang sebelumnya tinggal di gubuk reot sebatangkara ini kini dapat hidup layak.

Pasalnya Jelang Lebaran ini,  bantuan Rumah Layak Huni nenek tak punya kedua kaki di Perkampungan Peleyan Timur RT 03, RW 02, dari  Wakil Bupati Situbondo Ir H Yoyok Mulyadi MSi, sudah bisa ditempati  “Saya ucapkan terima kasih, semoga beliau panjang umur," Kata nenek lirih,  Selasa (13/6).

Komunitas Motor asal Jateng, juga membantu sebuah tempat tidur, 2 set Kursi, bahkan dari Taiwan dan Nederland (Belanda) berupa uang dan sembako setiap bulan, sejak 3 bulan lalu, “Bantuan dari perwakilan Kuliner Kasih, komunitas BMI Taiwan Peduli, dan dari Nederland”, tutur pria asal Panarukan  yang enggan disebut namanya.

Dari yang Taiwan kirim uang dan sembako, terus yang Belanda itu, tiap bulan kirim sembako, “Saya tidak bisa membalas kebaikan semuanya tapi saya terus berdoa semoga ALLAH membalas kebaikan semuanya yang tidak bisa saya hafalkan dan sebutkan satu persatu," Ucap nenek penuh haru.

Saat ini nenek imah sangat membutuhkan toilet ( WC) karena jika ingin BAB nenek imah harus menempuh jarak sekitar 300 meter untuk pergi kesungai. "Saya lihat dengan jalanan desa seperti ini, dan kondisi nenek Imah yang tuna daksa tentu teramat membahayakan jika malam hari.

Perlu diketahui bahwa  Sosok nenek Imah, dikenal wanita tangguh. Hidup miskin dengan keterbatasan fisik tanpa dua kaki, ini mampu hidup mandiri.  Meski kondisinya membuat banyak orang yang melihatnya menjadi iba, nenek Imah tidak pernah meminta-minta.

Sebelum rumah barunya dibangun, nenek ini bertahan hidup di gubuk berukuran 2,5 x 3 meter, menggantungkan hidupnya pada jajan camilan, yang setiap pagi dijajakan pada anak-anak sekolah dasar yang tak jauh dari rumahnya. Setiap hujan deras, Ia harus mengungsi ke rumah saudaranya, karena bagian atapnya bocor.

Setiap pagi, nenek pergi ke SDN berjarak 300 meter dari rumahnya. Sambil menyunggih barang dagangannya. ia harus berjalan menggunakan dua tangannya. Tak jarang, tangannya  belepotan lumpur, saat jalan setapak yang dilintasi becek setelah diguyur hujan. Namun, ketegaran dan kesabaran membuatnya dapat bertahan hidup.

Gubuk reyot yang
ditempati puluhan tahun ini, kini selesai 'disulap' menjadi Rumah Tinggal Layak Huni (RTLH) istimewa. RTLH si nenek Imah ini merupakan bantuan Pemerintah dan hasil swadaya Forum Silaturahmi Jurnalis Situbondo,yang kemudian disusul dengan bantuan dari para dermawan. (edo)

Berita Terkait Sosial Budaya

Tidak ada komentar: