"Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.", "Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.","Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72."
Custom Search

Jumat, 23 Juni 2017

Lima Cara Mengantisipasi Radikalisme Agama

Banyuwangi, MAJALAH-GEMPUR.Com. Memutus sedini mungkin ancaman radikalisme jadi pekerjaan rumah semua elemen bangsa, pasalnya faham radikalisme berbalut agama jadi ancaman serius bangsa Indonesia.

Kekerasan ISIS dengan dalih agama, tidak hanya terjadi di Timur Tengah, bahkan sudah menjalar ke Asia Tenggara. Tidak menutup kemungkinan ke Indonesia," ungkap Pengurus PCNU Banyuwangi Haikal Kafili saat membuka seminar deradikalisasi di aula PCNU Banyuwangi, Jumat (23/6).

Maraknya faham radikal yang menjangkiti generasi muda juga menjadi keprihatinan para peserta seminar yang diadakan oleh PAC IPNU IPPNU Banyuwangi bersama Lentera Indonesia Institute tersebut. Kalangan pelajar dan mahasiswa menjadi lahan subur persemaian bibit-bibit radikalisme.

Ancaman radikalisasi harus diimbangi, penyampaian konten dakwah moderat, yang benar. "Kaidah dalam Islam itu harus berpacu pada Al-Qur'an, Hadist, Ijma dan Qiyas yang harus dipahami dengan ilmu para ulama aswadul adzam (mayoritas)," terang, ketua Aswaja NU Center Banyuwangi KH. Abdillah As'ad, LC.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, menurut Yusuf Soeharto perlu memperhatikan lima hal dalam menyikapi nilai-nilai keagamaan. "Pertama, moderasi (pertengahan) dalam menggunakan dalil antara naqli (ayat-ayat) dan aqli (akal pikiran)," ungkap pegiat deradikalisasi Jawa Timur tersebut.

Meningkatkan toleransi pada hal yang furuiyah (cabang) dab dengan beragama secara porposional. "Jangan sampai hanya karena perbedaan bacaan sholat lantas menjadikan saling bermusuhan. Berlebihan itu tidak disukai Allah, termasuk juga dalam beragama," terang salah satu tim penulis buku Kajian Aswaja itu.

Mengikuti imam madzab sehingga pemahaman keagamaan lebih aman karena diakui secara mayoritas dan secara historis serta berhati-hati memvonis kafir dan sesat pihak berbeda. "Mengkafirkan kelompok yang berbeda akan menjadi pintu masuk radikalisasi agama," pungkasnya. (eros)

Berita Terkait

Tidak ada komentar: