"Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017","Selamat Hari Pahlwan Republik Indonesia Tahun 2017"
Custom Search

Thursday, July 20, 2017

Petani Kopi Arabika Butuh Dukungan Pemkab Situbondo

Situbondo, MAJALAH-GEMPUR.Com. Para petani komoditi kopi Arabika desa Kayumas menyayangkan kurangnya perhatian Pemkab Situbondo, Jawa Timur, untuk permodalan.

Padahal kopi tersebut sudah bisa tembus ke kesejumlah pasar internasional seperti, di Amerika, Eropa dan Prancis dan juga negara Asia tidak ditopang dengan dukungan Permodalan dari pemerintah. Harusnya perhatian pemkab untuk pengembangan kopi di desa Kayumas kecamatan Arjasa.

Salah satu petani kopi Siti Sohibah mengaku, untuk bersaing dan memenuhi  pasar eksportir maupun asia masih terkendala modal.  “Petani kopi didesa Kayumas malah  nermodal sendiri yang didapat dari pinjaman bank. Dan pelunasan pinjaman dapat dibayarkan bila musim panen usai”, ungkapnya, Kamis (20/7)

Karena permintaan ekspotir, yang siap melakukan kerjasama masih belum bisa terealisasi, karena mereka menginginkan pengiriman kopi dengan jumlah besar, sementara kopi yang diproduksi tidak mampu untuk memenuhi permintaan para eksportir.

Padahal beberapa eksportir sudah menilai kopi yang berasal dari desa Kayumas Situbondo ini dinilai sangat berkualitas. Dan mempunyai nilai tawar yng tinggi. "Bagaiman bisa berani  bersaing,  jika kami tidak di dukung dengan suntikan modal dari pemkab setempat, katanya.

Padahal , eksportir dari beberapa negara sudah berani membeli mahal kopi kita jadi kopi kita sudah di dipercaya dan terjamin akan kualitasnya mas , namun kalu tidak ada dukungan permodalan dari pemerintah setempat kita tidak bisa bersaing,  modal pribadi kan terbatas mas", keluhnya.

Siti, berharap pemkab situbondo bisa memberikan modal. Selama ini menurut Siti pemerintah hanya sampai pada pameran pameran Exspo  yang digelar pemkab,  tidak diimplementasikan bagaimana Kopi milik Situbondo ini bisa bersaing dengan kopi didaerah lain dan mengangkat nama baik kota kabupaten Situbondo.

"Jadi hal ini pemkab harus bisa lebih menyetuh dan memperhatikan produksi Kopi Situbondo yang sudah siap untuk bersaing dipasar ekspor, namun sayang beberapa petani kopi desa Kayumas jauh sebelumnya sudah di koordinasikan pada instansi terkait sudah di lakukan koordinasi. Lanjutnya.

Tak seperti dikebun rakyat di Kabupaten Bondowoso yang baru ramai menanam kopi arabika sejak 2011, namun masyarakat di Kayu Mas telah menanam kopi arabika berpuluh-puluh tahun sebelumnya. Ekspedisi Kopi di Desa Kayumas, yang berada di ketinggian 760-1.550 mdpl di lereng utara Pegunungan Ijen. 

Petani kopi Arabika Kayumas sudah memasuki pasar luar negeri sejak 2002, jauh sebelum petani kopi arabika kebun rakyat di lereng Ijen lainya. Kopi Arabika Kayumas awalnya hanya dibeli oleh satu perusahan eksportir saja. Kini telah ada beberapa eksportir kopi yang tertarik dengan kualitas Kopi Arabika Kayumas.

"Petani mulanya tidak banyak memiliki lahan tanami kopi. Tetapi, sejak Perhutani memberi kesempatan masyarakat menanam kopi diantara tegakan pohon hutan, kini luas lahan dikelola menjadi sekitar ratusan hektar. Lahan itu kini dikelola oleh  para petani desa Kayu Mas. Jelasnya

Perhutani merupakan (Badan Usaha Milik Negara) mencantumkan persyaratan berupa kompensasi pembagian sekitar 30% dari hasil panen. kesempatan disambut antusias masyarakat. Efek adanya sewa banyak petani baru, hingga PTPN XII Kebun Kayumas kesusahan mencari tenaga kerja harian.

Petani juga mengolah produk kopinya menjadi kopi bubuk dalam kemasan setelah itu dipasarkan sementara hanya di seputar Kabupaten Situbondo. Namun pembinaan Pemda Situbondo tak seperti yang dilakukan Pemda Bondowoso yang benar-benar memanjakan petani kopi. (edo)

Berita Terkait Pertanian

No comments: