"Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.", "Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72.","Selamat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke 72."
Custom Search

Jumat, 15 September 2017

LSM Laporkan Bulog dan Kasek SMAN Banyuwangi

Banyuwangi, MAJALAH-GEMPUR.Com. Dua LSM, Jumat (15/9) mendatangi kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Banyuwangi, untuk melaporkan Kasek SMANTA Banyuwangi dan Kagud Bulog Ketapang 1.

Kedatangan Ketu LSM Lembaga Investigasi dan Informasi Kemasyarakatan (LIDIK) Agus Sobirin dan LSM Aliansi Rakyat Miskin (ARM) M Helmi Rosyadi itu untuk  melaporkan dugaan pungli SMA Negeri 1 (SMANTA) Banyuwangi dan dugaan manipulasi (markup) Kepala Gudang (Kagud) Bulog Ketapang 1.

Tampak mereka ditemui Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari)  Banyuwangi melalui Kepala Seksie (Kasie) Pidana Khudus (Pidsus) I Putu Sugiawan, SH "Monggo silahkan, kalau ada temuan yang dirasa tidak benar, nanti akan kita kaji dan pelajari untuk proses selanjutnya," ungkap Kasie Pidsus Putu Sugiawan.

Agus Sobirin selaku Ketua Bidang Investigasi LSM LIDIK, menyatakan pihaknya melaporkan dugaan pungli yang dilakukan Kepala SMAN 1 Banyuwangi karena telah melakukan pungutan berupa uang gedung per siswa 1.750 juta dan modus penjualan seragam yang dilokalisir oleh Koperasi sekolah.

"Bahkan dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) kemarin, ada AS, oknum Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Banyuwangi yang menjadi makelar memasukkan salah satu siswa dengan tarif 7 juta untuk diberikan kepada Kasek SMAN 1 Banyuwangi”. Katanya.

Padahal jelas, tidak sekolah boleh memungut uang gedung maupun lainnya karena itu urusannya pemerintah Provinsi. Termasuk penjualan seragam per siswa 1.3 juta. Oknum AS meminta uang 7 juta kepada siswa baru, menjadi tanggungjawab Kadispendik Banyuwangi untuk memberikan sanksi," sergah Agus Sobirin.

Sementara Ketua LSM Aliansi Rakyat Miskin (ARM) Banyuwangi, M. Helmi Rosyadi yang melaporkan dugaan manipulasi dan markup beras untuk rakyat sejahtera (dulu Raskin) meminta agar kasus klasik yang selama ini dilakukan pihak Bulog harus diusut dengan tuntas.

"Permainan Bulog selama ini selalu beras yang terjelek digelontorkan kepada masyarakat, dan jika masyarakat komplain, barulah diganti dengan beras yang lebih baik. Pertanyaannya, kenapa harus diberikan beras yang jelek dan tidak layak dimakan jika memang ada yang lebih layak dikonsumsi masyarakat," Tanyanya.

Logikanya, menurut pria yang juga ketua Gerakan buruh dan rakyat anti korupsi (Gebrak) ini, beras jelek, berkutu, kuning dan sebagainya, harganya murah. "Kami curiga ada dugaan markup. Karena Rastra tidak gratis, ada disubsidi, masyarakat masih membeli dengan harga tertentu," urainya. (kim)

Berita Terkait Politik dan Hukum

Tidak ada komentar: