"Selamat Hari Natal Tahun 2017 dan Tahun Baru Tahun 2018. Selamat Hari Natal Tahun 2017 dan Tahun Baru Tahun 2018.Selamat Hari Natal Tahun 2017 dan Tahun Baru Tahun 2018"
Custom Search

Sunday, 10 December 2017

Anomali Cuaca, Ancam Tanaman Tembakau Situbondo

Situbondo, MAJALAH-GEMPUR.Com. Akibat perubahan iklim dan curah hujan tinggi beberapa bulan terakhir, tanaman Tembakau di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur terancam rusak dan gagal panen.

Akibatnya harga di pasaran turun drastis, untuk menyelematkan tanamannya dari kerugian lebih besar, para petani terpaksa memanen lebih awal dari biasanya. Maryoto (40), warga desa Tlogosari, Sumber Malang, mengaku rugi jutaan rupiah, lantaran tanamannya yang siap panen, digenangi air hujan.

Bukan hanya Tembakau, ,menurutnya, tanaman cabe juga sama. "Kalau  terus-terusan hujan, hasil tembakau dan cabe sudah pasti tidak akan memuaskan, ada 3 hektar milik saya digenangi air, dan tanaman tembakau jadi rusak dan ini pasti harganya turun dipasaran" Keluhnya, Minggu (10/12/2017).

Padahal munurutnya, desanya salah satu Daerah penghasil tembakau terbesar Situbondo "Jika dalam dalam seminggu ke depan kalau hujan terus turun, bukan hanya panen perdana, bisa dipastikan panen gelombang kedua dan ketiga juga tidak akan menghasilkan tembakau yang berkualitas bagus, Kelauhnya.

Hal yang sama dialami, Riswan, Warga Desa Kayumas Kecamatan Arjasa, seluas 1 hektar lebih tembakau Kayumas kualitas ekspor dan tanaman cabainya  rusak. "Gagal panennya itu karena penanamannya sulit, dan pertumbuhannya juga sulit karena hujan terus  cuaca sama sekali tidak mendukung, "ujarnya.

Kepala Dinas ketahanan Pangan dan holtikultura Situbondo ir Farid Kuntadi, memaparkan, hujan tahun ini karena anomali. "Sektor pertanian memang akan menerima dampak yang sangat besar, karena tanaman untuk musim kemarau rata-rata tidak tahan terhadap hujan" ujar Farid, dihubungi melalui Handfonnya.

Tembakau dan cabai rentan air hujan. Masyarakat harus melakukan antisipasi misalnya dengan membuat saluran air atau drainase yang lebih baik sehingga air hujan tidak menggenangi tanamannya. “Solusinya, perubahan pola pikir dan pola kerja petani yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim”, Pungkasnya. (edo)

Berita Terkait Pertanian

No comments: