"Selamat kepada 14 Partai Politik Nasional dan 4 Partai Politik Lokal Aceh yang lolos menjadi peserta Pemlihan Umum Tahun Tahun 2019"
Custom Search

Wednesday, 24 January 2018

Gubernur Jatim Komitmen Menolak Impor Beras

Surabaya, MAJALAH-GEMPUR.Com. Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo kembali menegaskan komitmennya untuk menolak impor beras, pasalnya produksi beras di Jatim sangat melimpah.

“Sejak 2013 kami telah mengeluarkan Pergub larangan  impor beras, karena Jatim sudah mencukupi,” kata Pakde Karwo, saat mendampingi Menteri Pertanian RI, Dr.Ir. H. Andi Amran Sulaiman dalam rangka Panen Raya di Desa Kedung Arum, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Senin (22/1) pagi.

Produksi beras Jatim  2017 mencapai 8,751 juta ton, dikonsumsi masyarakat 3,5 juta ton. “Dengan demikian, Jatim masih mengalami kelebihan atau surplus sekitar 5 juta ton. Surplus ini  didistribusikan ke provinsi lain yang produksi berasnya masih minus”,. Katanya dalam berita yang diterima redaksi Rabo (24/1/2018)

Akhir 2017 surplus 200.000 ton, Januari 2018, 295.000 ton, kebutuhan 297.000 ton. “Artinya stok aman, yakni 198 ribu ton. Surplus akan lebih besar lagi karena Februari 2018, Jatim akan panen 990.000 ton dan bulan Maret 1,7 juta ton. “Jatim dijamin aman hingga akhir tahun. Masyarakat tidak perlu panik” harapnya.

Terkait wacana impor beras, Pakde Karwo menjamin bahwa beras impor itu tidak akan bocor di Jatim. Meski salah satu pintu masuk beras impor tersebut melalui Pelabuhan Tanjung Perak. “Kita hanya sebagai tempat transito, bukan bongkar muat, Jatim tidak akan impor beras, karena stok melimpah” tegasnya.

Dalam kesempatan sama, dihadapan Kapolda Jatim, Dandim Bojonegoro, dan ribuan masyarakat se-Kecamatan Kanor, Menteri Pertanian RI, Dr.Ir. H. Andi Amran Sulaiman mengatakan, dirinya optimis Indonesia dapat menjadi lumbung pangan dunia.

Saat ini negara kita sudah berada pada jalur tepat mewujudkan target tersebut. “Mimpi kita, Indonesia jadi lumbung pangan dunia, jika bisa, seluruh air yg jatuh ke bumi Indonsia jangan sampai jatuh ke laut, tapi kita tangkap dan jadikan karbohidrat dan protein seperti padi, sayur-sayuran, dan sejenisnya” kata Amran.

Amran mengatakan, optimisme itu berdasarkan kinerja pertanian Indonesia yang menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Dari 11 komoditas strategis, terdapat empat komoditas (beras, jagung, cabai, bawang) yang berhasil diselesaikan permasalahannya, dan bahkan bisa diekspor.

Komoditas jagung, lanjut Amran, merupakan salah satu contohnya, dulu Indonesia impor 3,6 juta ton jagung yang nilainya mencapai Rp. 10 triliun. Saat ini, Indonesia tidak mengimpor jagung, justru malah mengekspor. Ini diakui oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia atau FAO yang berada dibawah naungan PBB.

“Selain jagung, komoditas bawang merah pun progressnya membanggakan, dulu kita impor, tapi sekarang kita ekspor ke enam negara. Komoditas-komoditas lainnya yang dulu bermasalah puluhan tahun, sekarang bisa kita selesaikan satu persatu. Kami optimis, Indonesia bisa jadi lumbung pangan dunia di masa depan” ujarnya.

Ditambahkan, keberhasilan tersebut diraih dengan penuh perjuangan, pasalnya sektor pertanian di era pemerintahan Joko Widodo berada pada kondisi cuaca yang tidak mendukung produktivitas pertanian. "Ini era terberat sektor pertanian. Ingat, ada El Nino dan La Nina dahsyat, terbesar sepanjang sejarah, tapi kita bisa melewatinya" katanya.

Lebih lanjut disampaikannya, pemerintah terus mempermudah petani untuk meningkatkan produktivitas pertanian. “Contohnya, dulu tidak ada asuransi untuk petani, namun sekarang, pertama kalinya dalam sejarah ada asuransi untuk petani. Ini agar menjamin petani agar tenang dalam menjalankan aktivitasnya” lanjutnya.

Sementara itu, Bupati Bojonegoro, Drs. Suyoto, M.Si mengatakan, pada kesempatan ini terdapat 1.830 ha lahan pertanian padi yang dipanen. Sedangkan pada akhir Januari mendatang, diperkirakan lahan yang dapat dipanen mencapai 8.227 ha, kemudian pada Februari mencapai 35.779 ha.

“Untuk bulan Maret diperkirakan ada 25,964 ha lahan yang siap panen, kemudian pada April 3.527 ha. Sedangkan pada Desember sampai Mei kita sudah panen mencapai 78.200 ha atau jika dikonversikan mencapai 500.480 ton beras. Jadi kita tidak perlu impor” tegasnya. (Yok/dit)

Berita Terkait Politik dan Hukum

No comments: