"Selamat kepada 14 Partai Politik Nasional dan 4 Partai Politik Lokal Aceh yang lolos menjadi peserta Pemlihan Umum Tahun Tahun 2019"
Custom Search

Wednesday, 17 January 2018

Petani di Jember Gelar Ritual Bari'an Akhiri Masa Tanam Padi

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com.  Menandai akhir masa tanam padi atau tutup tandur, para petani di Desa Wonosari, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember Jawa Timur Rabu (17/1/2019) menggelar ritual Bari'an.

Tradisi ini merupakan bentuk syukur kepada Tuhan sekaligus sebagai do'a agar tanaman padi petani melimpah dan terbebas dari serangan hama penyakit. ," kata Ketua Gabungan Kelompok Tani Bumi Putera Desa Wonosari, Abdul Waris, usai prosesi ritual barik'an di lapangan desa setempat.

"Kegiatan ini merupakan tradisi yang sudah dilakukan sejak para leluhur di desa kami, selain untuk merawat tradisi Mbah Buyut, acara tasyakuran ini juga sebagai sarana pemersatu para petani dan berharap agar hasil panen padi nanti melimpah”, jelasnya.

Menurut Waris, ritual kali ini berbeda dengan sebelumnya, jika sebelumnya dilakukan terpisah sesuai dengan area tanam petani, saat ini dilaksanakan bersama-sama. Sehingga, acara yang diwarnai dengan sarapan bersama atau kembul ini berlangsung meriah.

"Sebelumnya, tradisi ini digelar di masing-masing blok tiap dusun. Jumlahnya ada empat blok. Namun tahun ini kami gelar bersama agar petani lebih kompak," ujarnya.

Acara diawali petuah dari sesepuh desa dan pembacakan do'a di tengah-tengah beragam sajian makanan dan tumpeng. Sejenak, suasana hening dan khidmat. Usai itu, para petani yang duduk melingkar ini mengambil tumpeng-tumpeng itu untuk disantap bersama, sebagian, ada yang mereka bawa pulang.

Menurut Edi Antoro, salah seorang petani lain, melalui tradisi ini petani percaya bahwa do'anya didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT. Selain itu, acara yang juga dihadiri oleh pemerintah desa dan perwakilan Dinas Pertanian ini menjadi ajang penyampaian aspirasi ke pemerintah, akan ketersediaan pupuk.

"Kami juga berharap kepada pemerintah supaya tidak mengimpor beras dari luar negeri. Karena biasanya saat masa panen raya tiba, harga gabah bisa turun. Jika sampai impor, kami khawatir harganya anjlok dan merugikan petani," harapnya.

Kepala UPT Dinas Pertanian Jember di Balung, Agus Murdiyono menyatakan, tradisi ini sebagai sarana edukasi dan pembinaan petani. Sebab, di sela-sela acara, pihaknya menyampaikan sosialisasi tentang penanggulangan hama penyakit serta target produksi gabah yang telah ditetapkan pemerintah.

Menurutnya, pemerintah tahun ini, menargetkan produksi padi 12 ton per ha gabah kering sawah (GKS). Untuk itu, pihaknya terus berupaya mendorong petani agar meningkatkan kualitas tanam, mulai pemilihan benih, pengolahan tanah dan ketersediaan pupuk, terutama menggunakan pupuk berimbang serta organik.

"Selain itu, yang tak kalah penting adalah teknik menanam padi yang menggunakan sistem jajar legowo. Kemudian selama pertumbuhan, perawatan tanaman juga harus diperhatikan, terutama mengantisipasi serangan hama penyakit. Ini yang kita tekankan kepada petani agar selalu waspada," terangnya.

Kewasdaan serangan hama itu harus diterapkan, untuk itu pihaknya tak bosan-bosan mengingatkan petani dan kelompok tani segera melaporkan ke Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Dinas Pertanian setempat. Tujuannya, agar serangan itu bisa segera ditanggulangi dengan upaya pengendalian massal menggunakan pestisida.

"Untuk menggairahkan petani, dinas juga telah menyediakan bantuan pestisida guna mengendalikan serangan hama penyakit. Tapi kami berharap, semoga pada masa tanam padi tahun ini tak ada serangan hama penyakit sehingga produksi padi hasilnya melimpah," harapnya. (eros).

Berita Terkait Sosial Budaya

No comments: